Dinamika Hari Raya Tanah Kampung



Allahu akbar allahu akbar walillahilham …
Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin …
Tak terasa sudah sebulan penuh kita melaksanakan ibadah rutinitas, tak terasa kita menahan hawa nafsu, tak terasa kita menahan lapar dan dahaga sebulan penuh. Mudah-mudahan ibadah yang diwajibkan mendapatkan keberkahan disisi-Nya.  Banyak sekali para pencari kerja dan pencari ilmu merantau demi mengubah nasib menjadi lebih baik,kadangkala mereka mengingat masa kecil nan bahagia kampung halaman,teringat kisah dimana kebahagian dan kesedihan bercampur menjadi satu bak es campur yang diisi dengan beraneka ragam jenis pelengkap es.
Hingga hari masih banyak para pujangga dan gadis desa berlomba-lomba meraih mimpi di tanah rantau mengingat tidak ada lagi tanah garapan dan lumbung kerja di tanah kampung, alhasil tidak peduli apa yang warga desa katakan yang terpenting pergi dan merubah nasib.
Keberhasilan diraih dengan pengorbanan dan kegigihan” merupakan stimulus dan motivasi untuk para pencari kerja dan pencari ilmu, mungkin kata malas sudah dihilangkah ketika kaki mulai melangkah menuju kota tujuan, harus sukses, harus dan harus …
“dimana bumi dipijak disana langit dijunjung”  sebuah peribahasa yang sampai hari ini masih layak untuk mengilhami nya, bahkan dalam tanah minang ada sebuah ungkapan “karatau madang di hulu babuah babungo balun” (anjuran merantau kepada laki-laki karena di kampung belum berguna). Begitulah ragam budaya mengilhaminya.
Begitulah juga kampungku. kampung yang menyempit di sisi selatan kecamatan Abung selatan Kabupaten Lampung Utara. Dahulu ramai ketika  rutinitas hari raya berlangsung, budaya untuk mendatangi rumah ke rumah sudah lumrah dilakukan tetapi hingga hari raya hanya sedikit yang meyadari. Hanya sebagian kecil yang sadar akan ajang maaf-memaafkan saling silaturahmi denga tetangga.
Mungkin sedikit kesedihanku ketika kembali ke tanah kampung yang dahulu ramai saat ini sepi, yang dahulu banyak anak kecil bergembira dengan kedatangan hari kemenangan hari ini tidak tampak dari balik wajah mereka.
Apa yang harus dilakukan?
Bagaimanakah mengembalikan tradisi yang dahulu selalu ada?
Bagaimana mengembalikan wajah para anak kecil?
Sedikit kegelisahan dalam hati …
“Minal aidzin wal fa idzin, Mohon maaf lahir dan batin bung dan sarinah semua”
Alvian Ruswanto
GmnI UIN Suka

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel