OSPEK : “Menggugat Senior”

Oleh: Nursetyo Iswandani

“Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya Doktrinasi Mahasiswa Baru
Masa orientasi mahasiswa baru menjadi kegiatan rutin yang dilakukan perguruan tinggi sebagai sarana memeperkenalkan lingkungan dan dinamika kampus kepada mahasiswa baru. Perguruan tinggi bekerja sama dengan mahasiswa lama untuk melaksanakan kegiatan orientasi ini. Maka selalu kita lihat di dalam masa orientasi, mahasiswa lama tampil sebagai seorang yang bertugas memperkenalkan, mengarahkan, membimbing, dan mendidik mahasiswa baru. Memperkenalkan bagaimana lingkungan kampus sangatlah berbeda dengan lingkungan sekolah dulu, dinamika kampus tidaklah sekolot sewaktu duduk dibangku sekolah. Mengenalkan bagaimana mahasiswa mampu bersikap mandiri dan bertanggung jawab atas apa yang menjadi pilihannya. Hingga akhirnya senior harus mampu mengarahkan, membimbing dan mendidik juniornya agar bisa memilih apa yang menjadi pilihannya. Disinilah letak kemerdekaan di dalam berfikir dan bertindak sebagai seorang terpelajar seperti apa yang diungkapkan Pramoedya A. T.

Kemerdekaan dalam berfikir adalah bagaimana seseorang mampu mengenali dirinya sebagai subjek individu yang utuh di dalam komponen masyarakat serta mengenali realitas di luar dirinya yang seringkali kita sebut sebagain sistem. Hingga akhirnya Ia mampu bertindak sesuai apa yang Ia kehendaki atas hasil abstraksi dari apa yang Ia pikirkan tentang dirinya dan realitas. Tugas seorang senior dalam hal ini hanya memberi pisau sebagai alat dan metode untuk menganalisis dirinya sendiri dan realitas di luar dirinya. Paulo Freire meyebutnya ini sebagai kesadaran kritis.

Dalam realitanya, kegiatan orientasi ini dipraktekkan secara serampangan. Praktek senioritas yang selalu menampakkan bahwa senior adalah manusia paling sempurna dan mempunyai hak penuh atas juniornya. Junior diletakkan sebagai objek yang bisa diperlakukan semaunya sendiri. Maka tidak heran jika seringkali kegiatan ini dilakukan, selalu ada praktek-praktek bullying dan tak jarang pula yang berujung kematian. Terkadang hal ini juga dilakukan sebagai sarana dan ajang balas dendam karena dulunya sewaktu mereka (senior) menjadi junior, juga diperlakukan demikian. Padahal tak jarang pula yang selalu berteriak bagaimana kita harus mampu berfikir, merdeka dan menjadi agen perubahan. Menyalahkan bagaimana pemerintah adalah institusi dengan sistem yang menindas. Tetapi pada kenyataannya, mereka tidak sadar sedang menindas kemerdekaan berfikir para junironya. Mereka selalu didoktrin suara-suara kebebasan, kemerdekaan, perubahan. Namun sekali lagi itu hanya suara, belum menjadi sebuah kesadaran. Hal itu sama saja memupuk kesadaran magis kepada mahasiswa baru, bagaimana seorang senior adalah manusia yang paling benar di hadapan junior. Tidak ada kesalahan bagi senior, jika senior salah kembali kepada peraturan awal bahwa senior tidak bisa salah. Praktik senioritas-otoritarian ini selalu ditampakkan disetiap kegiatan orientasi mahasiswa baru.

Mahasiswa baru mulai hari ini haruslah sadar bagaimana praktik-praktik demikian adalah tindakan pembodohan. Perubahan di dalam kegiatan ini harus dilakukan oleh mahasiswa baru itu sendiri. Berani memberontak dan melawan segala bentuk kegiatan yang tidak mendidik dan menindas. Agar praktik-praktik bullying dan senioritas-otoritarian tidak selalu terulang kembali setiap tahunnya. Ruang-ruang demokrasi harus diberikan kepada mahasiswa baru agar nantinya menjadi manusia yang benar-benar merdeka, menjadi manusia dengan kesadaran kritis tidak naif apalagi magis.

Menurut Jurgen Habermas pemberian ruang publik ini menjadi syarat bagaimana demokrasi dapat  terwujud. Menghilangkan privatisasi ruang publik adalah mutlak dilakukan. Dalam praktik orientasi ini, ruang publik tidak diberikan kepada para mahasiswa baru. Yang terjadi malah adanya privatisasi ruang publik oleh para senior. Ruang publik hanya milik senior dan dilakukan senior untuk melakukan apapun yang Ia inginkan kepada junior. Doktrinasi, bullying, senioritas-otoritarian adalah bentuk-bentuk privatisasi publik yang dilakukan senior dalam kegiatan ini. Demokrasi yang seharusnya ada di dalam institusi akademik malah disabotase demi kepentingan segelintir golongan. Lantas apa bedanya mereka dengan para birokrat yang selalu mereka kritisi?. Karena dalam realitanya mereka juga melakukan hal yang sama, hanya dengan cara yang berbeda. Akan tetapi privatisasi ruang publik tetaplah merenggut nafas demokrasi.

Perubahan ini memang harus dilakukan secara radikal, karena praktik-praktik demikian masih begitu kuat dalam budaya kita. Mahasiswa baru haruslah berani dan secara sadar bagaimana ruang publik mereka telah direnggut oleh seniornya. Karena dengan adanya ruang publik, junior akan diletakkan sebagai subjek tidak lagi menjadi objek. Tidak ada lagi relasi senior-junior jika demokrasi tercipta di dalam ruang publik. Adanya konsensus-konsensus, dialektika dan dinamika di dalamnya akan menumbuhkan sikap kritis dalam diri mereka. Sudah cukup bagi mereka terenggut ruang publiknya dalam konstruks-konstruks masyarakat. Setidaknya dalam kegiatan ini, ada sedikit ruang bagi mereka untuk benar-benar merdeka dalam berfikir atas dirinya dan realitas di luar dirinya. Agar bagaimana cita-cita luhur pendidikan untuk memanusiakan manusia, mencerdaskan keidupan bangsa bisa mendapat sedikit celah. Biarkan mereka memilih atas kehendak dan nalurinya secara sadar. Tidak menjadi kerbau yang bisa diarahkan dan ditarik kesana-kemari sesuai keinginan senior.[]


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel