Ruang Imajiner: Puisi-Puisi Rembulan Siang


dibawah ini adalah puisi tentang perempuan

RUANG IMAJINER
Barangkali kita harus berterimakasih berkali-kali. Bahwa Tuhan ciptakan sebidang ruang bernama imajinasi. Di situ manusia melelapkan lelah dan juga luka-luka. Di situ neraka dunia diganti gambaran surga.
Agama imaginer, adalah yang mengawal lekak-lekuk sajak gilaku. Dititahnya moralku jadi seabjad serapah harum mawar duri berdarah merah. Dihamparnya sajadah bergambar biji kopi untukku mendirikan ibadah puisi. Diganjarnya rakusku dengan jumlah pahala tiga ratus enam puluh derajat kali lipat dari satu sujud yang kugurat.
Kekasih imajiner, itu bagian yang paling kusuka. Diraciknya rinduku jadi senja merah jambu. Dilumatnya cintaku jadi sebentuk candu. Dihirupnya raga sukmaku laksana secawan madu. Dan dia memabukkan hari-hariku, melulu.
Ah, ruang inti rindu…
Imaji liar menebas batas ambisi juga tradisi.
Dan ya…
Kukira telah kutemukan pula Tuhan imaginerku, yang senantiasa tersenyum ramah dan baik padaku.
Crb, 5 maret 2018

baca juga: Puisi Nuril: Bayangan Semu

MENULIS
Menulis itu pekerjaan radikal
Kau harus berani sedikit bertingkah nakal
Dan membungkam mulut para pembual
Agar sesekali berhenti tertawa terpingkal
Kata-katamu bisa saja diinjak bak sepasang sandal
Namun aksaramu jangan kalah binal dengan si sundal
Nyawamu mungkin saja bakal menemui ajal
Tapi sajak-sajakmu akan selalu kekal
Meski berulangkali terpintal dan terpental
Cirebon, 23 Feb 2018
PEREMPUAN
Bedak, muka lugu dilumur nafsu.
Alis dilukis, bulu mata palsu.
Gincu, rona bibir mendesah kaku.
Kedok-kedok berwarna lucu merah jambu.
Logika jual menang atas rasa malu.
Telah dijarah harum tubuh tak sisakan tabu.
Lisan perempuan bungkam bisu.
Gusar, perempuan sempoyongan dalam tegar.
Sehelai cadar memagar, dianggap makar.
Bingar, perempuan teriak dikata sangar.
Lempar isu, terbelit simpang-siur kabar.
Pada bolak-balik dinding harem perempuan terbiar.
Mengorek bagian dunia yang masih mekar.
Berharap temu sebutir putih sinar.
Crb, 08 Maret 2018
 KITA BERSORAK
Kita bersorak
Atas nama cinta yang semarak
Dan rindu yang beranak-pinak
Kita bersorak
Atas nama cita yang terserak
Keping asa rusak berantak
Kita bersulang
Atas nama ambisi yang menang
Di kolam ego asyik berenang mayang
Kita bersulang
Atas nama kaki yang berhasil ngangkang
Di kolong kuasamu aku terjengkang sungsang

baca juga: Puisi Isna Gustanti: Payung
KOPI-KOPI
Larik-larik isi, basi.
Syair-syair menyingkir, minggir.
Kopi-kopi konsolidasi, bau terasi.
Intrik-intrik politik, taik.
Amanah tersaruk payah, nyerah.
Pujangga, kau dimana?
“Aku di sini, meracik kopiku sendiri dengan rapal mantra aksara.”
Untuk apa dan siapa?
“Satu cawan untukku sendiri, dan sisanya untuk dibagi ke seluruh pelosok negeri.”
Crb, 11 Februari 2018
HUJAN DAN PUISI (1)
Masih…, cuaca mengajak bercanda.
Renai hujan tertarik ulur, sekali deras sekali rebas.
Para babu penjemur baju mengumbar misuh.
Teriak menggelatak bak mamak marahi anak.
Walakin..
Pada pukang ruang yang tak begitu terang, pujangga ragib bermain kata dengan pena.
Badai atau pun rintik, baginya hujan tetap jelmaan bidadari jelita, yang menebar dan menabur puspa aksara.
Sekonyong…
Sekalimat umpat para babu penjemur baju tercuat ngilu.
Pujangga melirik sekejap, tersungging sekelebat, lalu kembali senyap.
Ah, bahkan nada bertala tinggi itu diterjemah bak notasi rindu dalam lagu.
Dan masih…,
Bagi pengaji rasa dan makna, hujan adalah securah sabda batara.
Cirebon, 5 februari 2018 (waktu duha)

Sumber Gambar: http://www.tonyrakaartgallery.com/contemporary-art/exh-2011-inside-of-bonuz.php

Puisi tentang Perempuan
Puisi tentang Perempuan
Puisi tentang Perempuan

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel