Ulil Abshar Abdalla Di Mata Mereka (3): Kegelisahan-Kegelisahan Ulil

 
Ini adalah kelanjutan dari tulisan sebelumnya berjudul: Ulil Abshar Abdalla Dimata Mereka (2).

I. Terhadap tekstualisme.

Ulil gelisah dengan kecenderungan sebagian umat Islam yang memahami agama secara tekstual an sih. Yakni pemahaman agama yang semata bersandar kepada teks-teks kitab suci tanpa berupaya memahami konteks dalam penerapannya.

Pemahaman seperti ini akan menyebabkan keberagamaan yang kaku, sempit dan tertinggal. Mereka yang mengartikan semangat “kembali kepada Al Quran dan Hadits” secara serampangan menjadi sasaran utama kegelisahan Ulil. Apalagi jika semangat itu tidak diiringi pengetahuan yang cukup tentang sejarah pergulatan pemikiran Islam yang kaya, dinamis dan panjang. Yang mana itu melibatkan para sarjana-sarjana cemerlang Islam pada zamannya.

Kaum tekstualis biasanya menolak penafsiran kembali teks-teks suci yang disepadankan dengan semangat zaman.

II. Pendewaan simbol, melupakan substansi.

Ulil sering mengeluh tentang kecenderungan sebagian muslim yang menangkap ajaran Islam dari simbolnya. Ia menyebut, “mengutamakan kulit dengan mencampakkan isi”. Kecenderungan ini ditandai dengan formalisasi agama dalam pelbagai aspek kehidupan. Idiom seperti Negara Islam, Hukum Islam, Perda Syariah, Partai Islam, Bank Syariah, dst, adalah bagian dari gerakan formalisasi Islam. Politisasi agama masuk dalam bagian ini. Ulil sangat menentangnya. Juga semangat mengimport budaya Arab mulai pakaian hingga gaya hidup mereka yang lain.

Bagi Ulil, yang jauh lebih penting mengambil intisari Islam seperti menegakkan keadilan, perjuangan mewujudkan kesejahteraan sosial, memerangi materialisme, peniadaan eksploitasi manusia atas menusia, mempromosikan perdamaian dan kerukunan, pemihakan kepada yang lemah, dst.

Dalam konsteks kebudayaan, Ulil berpandangan masyarakat Indonesia bisa menjadi muslim yang baik tanpa harus menjadi orang Arab.

baca juga: Cinta Inggit Garnasih Untuk Soekarno


III. Komersialisasi ilmu.

Ulil adalah pecinta ilmu. Karena kecintaannya itu ia belajar apa saja. Lintas disiplin, lintas khasanah, lintas apa pun. Ulil tak pernah membeda-bedakan ilmu karena bagi dia semua ilmu berasal dari Allah SWT.

Dalam pemahaman Ulil, proses belajar tak dapat dipisahkan dari perjalanan menuju Tuhan. Karenanya mencari ilmu seyogianya diniati semata untuk mencari ridloNya. Hal terakhir ini yang kian jarang terlihat. Rata-rata orang mencari ilmu untuk mengejar duniawi. Demi mendapatkan pekerjaan yang layak, penghasilan yang cukup atau jabatan yang tinggi.

Ulil justru melihat idealitas proses belajar-mengajar dipraktekkan di negeri asing. Ketika menimba ilmu di Boston, AS, Ulil bertemu tradisi belajar yang mendekati ideal. Hal mana itu dulu ia saksikan dan rasakan ketika di pesantren.

Masih dalam tema pendidikan, Ulil berulang kali menyatakan kesedihannya pada kemunduran dunia intelektual Islam. “Bagaimana mungkin Islam yang pernah memiliki sarjana-sarjana hebat di masa lalu seperti: Imam Syafii, Imam Asy’ari, Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Al Khowarizmi, Imam Al Ghazali dan ribuan cendekiawan kelas wahid lainnya...kini begitu terbelakang tradisi keilmuannya.”

IV. Kekuasaan yang cenderung korup.

Ketika mahasiswa, Ulil terlibat aktif dalam gerakan menumbangkan rezim orde baru. Ulil menilai rezim itu otoriter dan korup. Jauh dari sifat ideal menurut tuntunan Islam. Maka bergabunglah ia dengan elemen mahasiswa lain bahu-membahu secepatnya mengakhiri kekuasaan orde baru.

Selepas reformasi, Ulil juga sempat mencicipi politik praktis dengan bergabung ke salah satu parpol. Namun itu tak berlangsung lama karena mantan aktifis PMII ini lantas undur diri dari politik praktis. “Saya merasa tak cocok di politik,” terang Ulil singkat.

 baca juga: Alat Ukur Kebenaran: dalam Buku Imam Ghazali

V. NU yang mesra dengan penguasa.

Ulil adalah bagian dari nahdliyin. Ia begitu bangga dengan itu. Bagi Ulil, NU tak sekedar sebagai rumah besar tapi juga alat perjuangan. Maka ketika organisasi yang didirikan para kiai ini terserap dalam kekuasaan, Ulil gelisah.

“Tak mengapa NU dekat dengan kekuasaan, tapi seharusnya tak kehilangan watak kritisnya. Karena memang banyak yang harus dikritik NU pada pemerintahan saat ini, seperti reklamasi teluk Jakarta dan pembangunan pabrik semen di Kendeng, Jawa Tengah. Pada dua isu penting ini NU absen. Suara kritis kepada pemerintah malah banyak disuarakan kelompok ‘Islam kanan’. Bagi saya ini cukup memprihatinkan,” keluhnya.(*)

Keterangan foto:
Ulil Abshar Abdalla mengunjungi Buya Syafi’i Ma’arif. Salah satu tokoh yang dihormati Ulil.

Abdul Arif

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel