What The Fuck! Baca Sendiri Alasannya!



What The Fuck! Baca Sendiri Alasannya! 


Apa jadinya hidup kita ini jika tak ada konflik? Tak ada cekcok, tak ada benturan, tak ada marah! Yang ada hanya cuma orang-orang tersenyum, ketawa-ketawa, sepanjang siang dan malam. Alangkah hambarnya hidup! Bayangkan saja bola mata anda jika melulu putih tanpa hitam; kan kehantu-hantuan kita jadinya. Serupa makhluk zombie. Iiikh, menakutkan sekali bukan?

Maka sesungguhnya konflik itu rahmat. Ia sumber inspirasi . sumber  dinamika. Sumber perubahan. Sumber keberadaban. Hidupnya dialog! Tentu saja konflik jenis ini, acuannya adalah batas-batas kemanusiaan dan nilai keilahian. Inilah konflik yang membebaskan; Memerdekakan! Dari padanya lahir manusia merdeka! Dan hanya manusia merdeka yang mampu  melahirkan karya-karya kreatif, tidak saja untuk dan demi dirinya sendiri. Tapi juga, untuk demi orang lain.

Ada jenis konflik lain. Yaitu konflik yang bertujuan menindas, dan menguasai. Di sini, pihak yang satu berhadap-hadapan dengan pihak lain untuk saling merampok kemerdekaan! Semua pihak maunya jadi jagoan. Dalam arti, yang satu menang, dan yang lain harus kalah! Itu maunya! Tetapi sesungguhnya yang terjadi adalah: “semua kalah!” karena semua pihak kehilangan kemerdekaan! Dialog terbunuh! Dan akal sehat mampus!

Konflik yang kini seru-serunya terjadi di Indonesia, mulai dari persoalan unsur sara, pembangunan tempat tai-tai di Jakarta, pembunuhan anak-anak babi, anak-anak bunga bangkai, hingga berkelinang air mata manusia, rasanya bagaikan perjalan sia-sia dalam suatu “labirin” yang tak punya ujung! Kenapa? (karena sadar atau tidak) kita tengah terperangkap konflik yang bertema tunggal: “kalah menang”! dukungan psiko-politiknya bersumber pada seluruh cara halal demi meraih tujuan! Akibatnya, manusia Indonesia saat ini nyaris kehilangan dirinya, kehilangan orang lain, kehilangan tanah airnya, kehilangan bangsanya, bahkan kehilangan subtansi nilai keilahiaannya. Dengan kata lain: manusia Indonesia nyaris kehilangan kemerdekaannya. Kasian yak Indonesia?

Maka dengan perasaan tak menentu, mungkin marah campur benci hingga muak waktu itu, aku berteriak lantang ke dinding tembok kost warna “merah putih” di samping kamar yang kumuh itu: “what the fuck” Kataku sambil lalu jongkok mengambil “sempak” yang mau di cuci disiang pagi menjelang siang, dimana gedung bisnis yang kusebut kampus itu melalui “kartu rencana studi mahasiswanya” memanggil namaku untuk segera bergegas mendengarkan ceramah pak dosen yang punya kumis mirip hitler si bangsat itu.

Oleh: Bung Rfa’i

Sumber Gambar: http://pramardian.blogspot.co.id/2017/03/stop-penindasan-wanitacintailah-dia.html
 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel