Jejak Hitam Orde Baru di Pukiran

Oleh: Abdul Arif

 Foto: KH Muchotob Hamzah dan KH Sonhaji dari P4SK meninjau Madrasah Diniyyah Raudlatul Ihlas Pukiran.

Satu lagi bukti kesewenang-wenangan Orde Baru tertinggal di Dusun Pukiran Desa Ngaliyan Kecamatan Wadaslintang Wonosobo. Dusun “terpencil” dan untuk mencapainya diperlukan perjalanan mendebarkan menggunakan sepeda motor ini menyimpan kisah pilu dengan Orde Baru.

Karena mayoritas masyarakat Pukiran religius dan sudah punya kesadaran pendidikan sejak lama, maka pada dekade 80-an mereka mendirikan lembaga pendidikan dasar: Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ma’arif demi anak-anak mereka tidak kesulitan mendapatkan pendidikan.

Berkat kerja keras para tokoh NU dan wali murid berdirilah MI di situ dengan jumlah murid ala kadarnya. Lalu berkembang sedemikian rupa. Rezim Orba kala itu sedang kuat-kuatnya. Mereka alergi dengan segala bentuk yang berbau agama, termasuk pendidikan. Karena semua yang bersinggungan dengan agama identik dengann PPP, partai Islam rival Golkar dan pemerintah.

Khawatir Pukiran akan jadi basis kaderisasi politik, pemerintah pun berniat mematikan MI dengan mendirikan SD Inpres beberapa meter di sebelahnya. Kebijakan ini jamak dilakukan Orba di daerah lain. Berkedok meratakan pelayanan pendidikan, mereka membunuh lembaga pendidikan agama.

Akibatnya sudah bisa diduga, beberapa tahun setelah SD Inpres berdiri, MI pun layu. Apalagi aparat desa ikut menekan agar para wali murid menyekolahkan putra-putri mereka di SD bukan di MI. Karena kondisi yang terisolir, pengelola MI juga mustahil mendatangkan murid dari kampung tetangga. Maka MI Pukiran pelahan namun pasti berjalan menuju kematian.

Melihat itu PCNU Wonosobo tidak tinggal diam. Mereka mengutus Muchotob Hamzah, BA (belakangan menjadi Rektor Unsiq dan Ketua MUI Wonosobo) untuk menyelamatkan MI. Melalui perjuangan yang tidak ringan MI bisa diselamatkan, dan di kemudian hari SD Inpres yang mati.

Itu sekelumit perjuangan masyarakat Pukiran mempertahankan lembaga pendidikan agama di kampungnya. Hingga kini MI tetap berdiri. Anak-anak bersekolah di sana tiap pagi. Sore harinya mereka ngaji di Madrasah Diniyyah Raudlatul Ihlas yang terletak di sebelah MI.

Madrasah Diniyyah ini juga punya kisah tersendiri. Hanya berdinding papan, madrasah asuhan Ustadz Muhammad ini melakukan pendidikan dalam 3 gelombang: jam 14.30 untuk kelas 1, 15.30 kelas 2, dan 16.30 buat kelas 3. Maklum, madrasah dengan empat ustadz ini punya satu kelas saja.[]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel