Masa Ketaatan itu Telah Hilang

Oleh: Ali Munir S.


Sejenak saya duduk di beranda rumah, menatap sebuah Musholla yang berada di rumah K. Masna, tepat di sebelah barat rumah saya. Saya termenung, ingatan menjalar ke masa-masa yang silam: dimana diri dan pikiran saya ditempa dengan akhlak dan pengetahuan. 

Di masa yang sangat klasik itu, saya dan kawan kawan mengaji al-Qur'an menggunakan cahaya Damar Kambang. Tak ada lampu. Sehingga dunia kami penuh dengan perenungan, penuh dengan didikan pada realitas: Bahwa dunia ini tidak hidup dengan bebas, penuh dengan aturan dan etika. Penuh dengan nilai nilai kemanusiaan. Setiap malam Jum'at, kami terbiasa membawa nasi sedekah demi arwah nenek moyang kami. 

Para ustadz kami sangat bersahaja. Mereka tidak selalu selaras dalam ucapan dan tindakan. Hingga kami pun segan untuk melanggar. Sekali kami nakal, ustadz kami akan menghukum dengan hukuman yang berat. Jika kami terlambat datang ke Musholla, kami disuruh menimba air dengan sebuah cangkir dari seberang ladang ke Musholla. Sampai air penuh satu ember. 

Di masa kami, mental tak perlu revolusi. Santri sudah ditempa dengan guyub ketaatan pada agama dan bangsa. Hati kami diajarkan pada kelunakan dan keharuan, kebahagiaan dan air mata. Ustadz kami mengajari kami tanpa pamrih, tanpa gaji. Mungkin keikhlasan itulah uang menjadikan kami yakin diri: Bahwa ustadz kami adalah panutan kami. Ustadz kami adalah ulama kami. Lentera kami. 

Saya sebagai santri yang pendiam, saya sering diminta memijat ustadz saya sehabis Sholat Isya'. Sedangkan teman sayang lain dipersilahkan pulang. Saya sudah biasa menginjakkan kaki di punggung ustadz dengan hormat. Mengorek orek lengannya, lehernya, dan perutnya dengan sekeping uang. Hingga kulit ustadz saya memerah dan panas dalamnya segera sembuh. Kalau sudah selesai, saya dipersilahkan untuk merokok dan menyeruput kopi yang dihidangkan. Bahagia sekali. Serasa barokah ada dalam diri. 

Di usia SMP, Saya disuruh membantu mengajar al-Qur'an dan madrasah diniyah di Musholla. Saya pun mengajar dengan harapan dapat menularkan ilmu saya. Seminggu 3 kali. Saya mengajar biasanya sehabis pulang sekolah, jam 2 siang. Alhamdulillah, Pengabdian itu berjalan hingga saya lulus SMA. Setelah itu saya ke Jogja untuk kuliah. 

Sekarang, Madrasah itu sudah tak ada isinya. Hanya gedung kelas yang sepi dan pasrah. Madrasah sudah bubar. Generasi santri juga berbeda zaman: santri Android, PS, dan sepeda motoran. Kecil kecil ngidam games. Otak mereka pintar. Imut. Gemes. Tapi lihat bagaimana kampung kami kehilangan moral. Tiada lagi sopan santun. Guru sudah dianggap teman. 

Saya rindu masa kecil saya. Saya rindu teman saya. Rindu guru saya, yang sekarang banyak bekerja merantau karena terlilit hutang. Gusti!

Sumenep, 2018

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel