Ust Ahmad Tsauri: Gus Yahya Merangkul-Tikam Israel dengan Tepat

Oleh : Ust Ahmad Tsauri


Tepat sekali Prof Dr. KH. Said Aqil Siradj memberi pernyataan resmi sebagai ketum PBNU, 'keberangkatan KH. Yahya Chalil Staquf atas inisiatif sendiri tidak konsultasi dengan pejabat teras PBNU dan tidak mewakili PBNU'.

Tepat juga Gus Yahya tidak konsultasi karena jika ya dan beliau berangkat atas persetujuan PBNU beliau akan menyeret nama besar NU meski toh warga Nahdhiyin yang waras akan mengapresiasi dan angkat topi atas keberanian beliau melakuian dialog dan pertemuan dengan organisasi Yahudi, bahkan audiensi dengan PM Israel Benjamin Netanyahu.

Sebagai anak didik Gus Dur, dan orang penting saat Gus Dur menjadi Presiden tentu ia punya misi untuk turut berkontribusi dalam upaya kemerdekaan Palestina melalui dialog langsung dengan elit pejabat Israel. Melanjutkan kerja kemanusiaan yang belum diselesaikan Gus Dur.

Beliau punya kelas sendiri, langsung bertemu Wakil Presiden Amerika dan bertemu PM Israel. Ada juga yang kelasnya demo di jalanan dan bagi rekening. Masing-masing juga punya pendukung. Pendukung demo jalanan tentu saja tidak akan memahami signifikasi dialog Gus Yahya dengan elit Yahudi. Beda kelas.

Karena orang-orang yang beda kelas itu ribut, menuduh Gus Yahya tidak membawa misi kemerdekaan Palestina maka pada forum-forum berikutnya beliau menegaskan kedatangannya semata-mata karena harapan besar bagi kemerdekaan Palestina.

Sebenarnya misi itu sudah sangat jelas dalam ceramah pertama di AJC, dan seperti itulah diplomasi. Dengan Konsep Rahmah Gus Yahya membuka kesadaran Yahudi bahwa Rahmah, kasing sayang, yang disebut Gus Yahya sebagai ruh untuk bersikap adil, adalah 'kalimatun sawa', konsep yang mempertemukan dua agama Samawi, saudara tua Yahudi dan Islam sebagai Saudara muda.

Banyak perdamaian yang harus ditempuh melalui perang antar negara, antar benua dan dunia. Tidak banyak perdamaian yang dicapai melalui dialog.

Tapi belum lama Kim Jong Un, setelah ratusan kali uji coba nuklir di negaranya, ia membuka pintu dialog, dengan Korsel dan Amerika. Dua pertemuan penting itu tak terpikirkan sebelumnya, karena sejak perang tahun 70an, perang dingin di semenanjung korea terus memanas.

Terakhir Amerika melakukan simulasi perang bernilai ratusan juta dolar di semanjung korea. Tapi dengan pertemuan Kim Jong Un dan Mon, Pertemuan Kim Jong Un dan Trump semua menjadi cair. Rekonsiliasi itu memberi harapan besar bagi masyarakat dunia.

Semua cara telah dilakukan untuk menekan Israel, dengan sumber daya manusia Israel, dukungan finansial Yahudi dibelahan dunia dan dukungan Amerika serta sekutu, perang dan kecaman terus menerus sejak 1940an tidak membuat Israel bergeming.

Saya yakin kemerdekaan Palestina tidak akan diraih dengan peperangan, melain dengan dialog peradaban. Dan Gus Yahya memulainya. Kita semua mendukung upaya beliau.[]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel