Mamah Dedeh Vs Islam Nusantara

Oleh: Anonim


Ustadzah kondang bernama Mamah Dedeh bilang begini :
“Dan bahwa saya mengumumkan dari panggung aksi Indosiar pada malam hari ini, siapapun Anda di negeri tercinta, Allah SWT mengatakan “wa ma arsalnaka illa rahmatalli’alamin” . Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk memberikan rahmat bagi segenap alam, bukan Islam Nusantara, bukan, coret. Saya sangat tidak setuju”. dan beliau juga menambahkan bahwa Islam Nusantara tidak ada dalam Al-Qur'an dan Hadits.

Bisa disimpulkan dari ucapannya bahwa Mamah Dedeh anti dengan istilah Islam Nusantara. Alasannya ternyata tidak berdasarkan landasan yang kuat, cuma sekedar opini mentah beliau yang menjelaskan bahwa islam nusantara tidak ada dalam Al-Qur'an dan Hadits. NU sama Muhammadiyyah itu juga tidak ada keterangannya sedikitpun dalam Al-Qur'an dan Hadits. makanya di Arab Saudi, Irak, Mesir, atau negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya tidak ada ormas resmi yang dilindungi negara bernama NU dan Muhammadiyyah. Jadi kalau mau konsisten mustinya Mamah Dedeh gak cuma bilang kalau islam Nusantara harus dicoret, tapi juga bilang kalau mau masuk islam ya islam saja, gak usah islam ala NU atau Muhammadiyyah. Kan udah jelas NU sama Muhammadiyyah gak ada dalilnya di Al-Qur'an dan Hadits. Kan gitu logikanya. Betul, tidak?

Jadi begini, sodara-sodara. Kalau islam ala NU boleh, islam ala Muhammadiyah boleh, mustinya islam ala Nusantara ya gak usah dipersoalkan. Toh dalam sejumlah hal islam Nusantara lebih baik daripada islam yang diterapkan di sejumlah negara Arab sana. Islam yang diajarkan di Nusantara bisa berkembang karena pake cara Nusantara. Walisongo pake wayang dalam menyampaikan syiar islam. Itu juga islam Nusantara. Silahkan diperiksa apakah wayang itu ada dalam Al-Qur'an dan Hadits. Saya jamin tidak ada. Tapi itulah media dakwah yang dipakai walisongo. Entah kenapa Mamah Dedeh tidak protes. Islam itu ajarannya gak kaku sebagaimana yang dibayangkan Mamah Dedeh terhadap islam Nusantara. Sebenarnya sudah sering saya cerita sesuatu tapi tampaknya masih perlu diulang lagi. Baiklah saya ceritakan lagi, deh.

Alkisah, suatu hari ada seorang pria pengikut Rasulullah datang menghadap Rasulullah. Orang itu menanyakan hukuman untuk dia apa atas kesalahan bergaul intim dengan istrinya siang hari di bulan ramadhan. Rasulullah menyuruhnya puasa lagi sebulan. Orang itu mengatakan tidak sanggup lalu menanyakan hukuman lainnya. Rasulullah menjawab, beri makan orang miskin dengan ketentuan tertentu. Orang itu menyatakan tidak sanggup juga lalu menanyakan hukuman lainnya kalau ada. Rasulullah lalu masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian beliau keluar dengan membawa kurma sambil berpesan kepada orang itu untuk memberikan kurma itu kepada orang miskin di kampungnya. Orang itu mengatakan bahwa keluarga termiskin di kampungnya adalah keluarga dia. Kata Rasulullah kurma itu untuk orang tadi dan keluarganya. Kira-kira begitu ceritanya. Sekilas memang aneh karena orang salah bukannya dihukum malah dikasih kurma. Tapi bagi orang yang mudah menggali hikmah, kisah itu tidaklah aneh. Justru memudahkan pemahamannya bahwa islam itu ajaran yang rohmatan lil alamin. Kalau islam yg rohmatan lil alamin menurut versi Mamah Dedeh beda lagi, apa Mamah Dedeh mau menyalahkan Rasulullah? Rasulullah sudah mengajarkan muslim untuk tidak bergaul intim layaknya suami istri siang hari di bulan ramadhan. Ketika mendengar pengikutnya bercerita bahwa dia bergaul intim begitu, tentu Rasulullah tidak setuju. Tapi sikap beliau adem-adem saja, tidak merasa perlu bilang coret atau buru-buru menyalahkan. Saya berharap Mamah dedeh bisa paham bahwa cara Rasulullah memberi solusi itu sudah bijak sehingga patut ditauladani pengikutnya dan tidak selalu menggunakan dalil. Jadi kalau dalilnya tidak ada, kita muslim seharusnya tidak buru-buru menuduh sesat, salah, haram, dll. Selidiki dulu masalahnya apa secara detail baru menyimpulkan. Apalagi islam itu mengajarkan pentingnya tabayyun/klarifikasi. Saya jadi khawatir kalau Mamah Dedeh jadi hakim masih mungkin akan berlaku tidak adil. Dalam Alquran, zina itu dikecam Allah. Kalau solusi itu harus sangat bergantung pada dalil sementara hikmah ajaran islam diabaikan begitu saja, jangan-jangan semua wanita pelacur dianggap sama saja, padahal pelacur itu ada yang memang dasarnya binal, ada juga yg karena terdesak ekonomi, bahkan ada pula yang karena korban penculikan alias human trafficking yg kalau tidak mau dipaksa melacur akan dibunuh. Masing-masing pelacur tersebut kalau mau diadili tentu beda dong perlakuannya.

Istilah islam Nusantara memang tidak ada dalam alquran, tapi karena islam Nusantara lebih bijak dan lebih jelas rohmatan lil alaminnya dibanding islam model ISIS, Wahabi, HTI atau yang islam radikal lainnya, jadi tidak ada manfaatnya menentang islam nusantara. Apalagi islam Nusantara itu masih bisa diharap untuk menunjukkan islam yang rohmatan lil alamin. Nusantara itu orangnya dan cara hidupnya dalam bermasyarakat, sementara islamnya tetap ikut petunjuk perilaku bijak Rasulullah serta hikmah ajaran islam yang sudah diajarkan beliau lewat Alquran maupun hadits juga. Kalau ada yang merasa beda dengan apa yang diajarkan Rasulullah, itu cuma beda penafsiran saja dalam mencari solusi masalah sosial menurut ajaran islam. Beda tafsir itu sudah ada sejak dulu dan banyak topiknya. Bisa saja beda tafsir itu sama-sama benar kalau sama-sama membawa manfaat buat banyak pihak. Rasulullah sudah bersabda, "Khairunnas anfa'uhum linnas", sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat buat orang lain. Saya rasa islam Nusantara sudah sesuai dengan hadist tersebut. Jadi gak perlu dipersoalkan.[]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel