MENYONGSONG SASTRA MASA DEPAN DI PELATARAN DUNIA

Oleh: Sugiono MP


Kodrat sastra adalah pencerahan. Sastra tulis (literature) dimulai setelah detemukannya lambang-lambang aksara yang ditorehkan di lempengan tanah liat di lembah Sumer (Mesopotamia Selatan ), Irak Selatan, dekat Teluk Persia, lebih dari lima ribu tahun silam. Itulah yang dikenal sebagai Cuneiform, huruf baji, berbentuk paku (sementara di Mesir berkembang Hieroglif). Tulisan baji tergolong rumit, hanya digunakan oleh kalangan tertentu, untuk menuliskan hal-hal utama: dokmen penting istana, pakem ritual, catatan perdagangan, dan sebagainya. Dalam perjalanananya, suku Akkadia di Mesopotamia Utara mengembangkan Cuneiform lebih meluas dan digunakan untuk menulis tuturan sastrawi.

Sebelumnya, rawi-rawi dan cerita dilisankan oleh para seniman perawi dalam upacara-upacara tertentu. Dari sanalah sastra tulis yang berisi pencerahan kehidupan mulai berkembang. Kepesatan perjalanannya seirama temuan-temuan baru dalam kehidupan membiaskan sastra dalam aneka jenis, sampai yang mutakhir: sastra hiburan (sastra klangenan), sastra kuning (meminjam istilah koran kuning), sastra stensilan (sastra porno), sastra digital atau gawai (dengan peristilahan yang tidak tepat: sastra maya). Sastra pembawa tugas pencerahan menjadi susastra (sastra plus, sastra indah) yang sekarang kita terjemahkan sebagai ‘sastra’.

Sastra dalam konteks tulisan ini adalah sastra pencerahan atau susastra. Kenapa demikian? Sebagai serat, surat, bahasa sastra menggunakan tertib kosakata. Sedangkan awal mula kata-kata (nama-nama benda) dibekalkan oleh Allah kepada Adam selaku khalifah (pemakmur) di bumi (QS Al-Baqarah: 31, 33). Sebelum Adam (manifestasi manusia modern) turun ke bumi, para penghuni planet ini yakni manusia purba, tidak memiliki perbendaharaan kata sebagai sarana berkomunkasi. Jadi, fungsi kata (bahasa) justru untuk memakmurkan bumi, memaslahatkan umat manusia.

Akan tatapi tugas itu sampai kini berlum tercapai, justru sebaliknya, karena kurang menakzimi fungsi kata (dalam literasi) kedidupan diuniawi tidak tertib seperti gambran di syurgawi. Penderitaan, kemiskinan, perang, pembantaian, penghilangan nyawa dan kehidupan, terus berlangsung dari semenjak peradaban barbar sampai pun pada kultur yang lebih halus, lebih manusiawi (slogan dan iklannya). Dalam kondisi seperti itulah maka sastra dituntut untuk konsisten mengemban tugasnya sebagai pencerah demi kemaslahatan umat manusia. Saya melihat peluang kemungkinan itu justru pada perjalanan kehidpan menuju masa depan setelah era hyper reality dewasa ini.

Dewasa ini kehidupan umat manusia telah memasuki era hyper reality, zaman yang melompati kenyataan (silakan googling).

Lompatan realitas itu secara sederhana bisa dilihat pada kehidupan keseharian di tengah kita yang berlangsung sudah sejak lama. Orang yang secara realitas berdasarkan kondisi obyektif yang terukur penghasilannya belum mampu memiliki kendaraan, pemukiman, toh bisa mendapatkannya dengan menggadaikan penghasilan hari esoknya lewat kredit. Juga untuk produk konsumtif dan produk gengsi lainnya.

Dengan demikian realitas yang ada telah melompati kenyataan sesungguhnya. Itu berarti terjebak dalam dunia mimpi. Dan, produsen dengan sengaja, terencana secara strategis maupun taktis, menjadikan impian sebagai gaya hidup untuk mempertahankan dan mengembangkan kesinambungan usaha serta kapital mereka. Lihatlah bagaimana perekayasaan citra grup boy band Super Junior Korea itu yang mampu menaburkan hujan impian idola bagi kalangan gadis-gadis muda remaja dunia dan menjadkan trending tersendiri. Dan revolusi komunikasi dengan kamajuan tehnologi gawai memungkinan impian menjadi kenyataan (yang semu).

Realitas hidup terambigu oleh keniskalaan, sehingga batas yang nyata dan yang maya nyaris tak terdeteksi. Itulah kehidupan kini, termasuk kehadiran sastra gawai yang non-susastra. Di Inonesia yang merupakan nomor empat besar pengguna internet dunia terdapat lima ribu puisi setiap hari dan umumnya puisi yang tidak menerapkan pedoman baku ejaan bahasa (PUEBI). Rusak gak nantinya?
Dalam kondisi seperti itu, yang akan terus berkembang pesat, maka susastra (sastar pencerahan) dipanggil untuk memercikkan harmonika estetika yang lebih memartabatkan manusia, tak hanya di negeri ini, tapi untuk publik dunia. Mampukah? Kenapa tidak, menggingat tugas kata-kata justru sebagai penata kehidupan yang ternyata belum mencapai tujuannya. Tentunya tanggungjawab itu terletak di pundak para sastrawan yang sadar dan peduli pada realitas zaman, dan bukannya yang terninabobok dan teronani oleh ambisi polularitas diri.

Mengingat bahwa dalam sejarah pencerahan kehidupan selalu datang dari belahan timur, maka sastra timur akan mampu menjawab problematika zaman medatang itu. Kita sebut saja nama sastrawan kita, Sosrokartono yang mampu menguak masa depan secara futurologi dengan menginformasikan sercara dini akan ledakaan gunung Karkatau, yang ternyata benar adanya. Juga peneropongannyatentang keberadaan pos komando Nazi yang digunakan oleh Sekutu sebagai rujukan, benar adanya. Pun pesan Ronggowarsito yang tetap aktual walau telah berabad ia guritkan: sadar (eling) dan piawai-peduli (waspada).

Saya mengetuk kesadaran dan kepedulian para sastrawan terhadap perkembangan kehidupan masa depan dan memulai merangkai diksi seirama trend masa depan yang praktis, pragmatis, realistis namun tetap terjelujuri roh estetika. Itulah sastra masa depan sebagai jawaban dari kondisi kehidupan manusia yang kian mengangkasa. Semoga terespons.

Jakarta, 7 Juli 2018

-----------
• Pokok-pokok pikiran ini disampaikan dalam Perbincangan Sastra di Guitar Freaks Coffee, Jakarta, 7 Juli 2018, yang diseleggarakan oleh Komunitas Persaudaraan Penyair Indonesia.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel