Sangat Mudah Menumbangkan Jokowi di 2019

Oleh: Denny Siregar


Begitu kata seorang teman petinggi "partai suci" yang sedang berbincang denganku malam ini. Menarik, pikirku. Aku ingin tahu apa yang ada dalam pikiran mereka saat ini. Dia adalah pintu belakangku jika ingin mengetahui sesuatu.

"Kalian lihat Pilkada kemarin ? Suara partai yang di waktu survey terlihat kecil, ternyata bisa membesar dalam waktu kurang dari seminggu. Jabar yang disurvey2 hanya dapat 6 persen, seminggu sebelum hari H melonjak menjadi 29 persen. Dan 29 persen di 31 juta pemilih berarti hampir 10 juta orang.. " Senyumnya sambil melirikku.

Gelas kopiku terangkat dan tergantung diam melihat fakta dari pengakuannya itu. Dia benar sekali. Aku memang sedang mencari informasi kenapa mereka bisa melakukan "keajaiban" itu.

"Kami akhirnya bisa memetakan situasi. Dan strategi yang sama akan kami pakai di pilpres nanti. Lembaga survey bisa kami tipu. Perintah kami jika ada lembaga survey dari A dan B bertanya siapa calon yang dipilih jawab saja tidak tahu. Dengan begitu tidak ada yang tahu peta sebenarnya dari keadaan di lapangan.."

Dia terdiam sebentar dan melanjutkan.

"Baru ketika mendekati hari H, perintah meluncur untuk memilih siapa yang harus dimenangkan. Dan mesin kami efektif. Disaat kalian terlena dengan kemenangan, kami gerilya di tempat-tempat yang sudah kami siapkan bom waktu. Ini bukan pekerjaan sebentar, kami sudah melakukan pendekatan bertahun-tahun lamanya.."

Ah, tersadar aku. Disinilah kekalahan sesungguhnya. Ketika diri merasa menang, maka kita akan mudah dijatuhkan. Karena perasaan menang membuat kita terlena dan tidak waspada.

"Pendukung Jokowi itu lemah secara kuda-kuda sekarang ini..." Katanya lagi. "Sibuk pesta hura-hura, bikin kegiatan besar kesana kemari, tetapi lupa bahwa kami yang menguasai medan pertarungan di lapangan.

Pendukung Jokowi tampak besar di media dan media sosial, juga di kegiatan akbar, tapi lupa bahwa kami menguasai majelis-majelis, sekolah-sekolah, perusahaan2 negara dan banyak lagi..

Dan itulah mesin pembunuh yang sesungguhnya. Karena mereka sudah kami brainwash dengan ketakutan. Takut akan bangkitnya PKI. Takut akan penguasaan Cina. Takut akan hutang. Takut akan runtuhnya ekonomi dan semua narasi ketakutan yang sudah kami tanamkan sejak lama..

Ketakutan itu menular, kawan.. sangat menular. Dan ketika orang sudah dikuasai ketakutan, harapan apapun akan padam kecuali ada perubahan.." Seringainya mengejek situasi.

Dia percaya diri dengan apa yang mereka lakukan sekarang ini. Dia benar. Banyak orang menari dari genderang ketakutan yang mereka bunyikan. Sehingga tidak sadar bahwa api itu semakin lama semakin membesar dan satu saat membakar.

"Buat kami ini perang.." Dia menyeruput kopinya sampai habis. "Dan perang harus dimenangkan, apapun cara yang harus dilakukan.."

Malam telah datang. Kami berpisah pulang meninggalkan beban pikiran akan apa yang terjadi di depan..

Samar-samar kudengar kembali pernyataannya tadi, "Pendukung Jokowi lemah secara kuda-kuda sekarang ini. Sibuk pesta hura-hura.."[]

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel