Ketika Seorang Tokoh Masyarakat Gagap Medsos Jelang Pesta Politik

Oleh: Cakpin


SAYA semakin risau. Pengaruh medsos benar-benar dahsyat. Berbahaya, terutama bila mempengaruhi seorang tokoh yang memiliki pengaruh. Alamat, pengikutnya akan mengikuti sang tokoh.

Masih maklum, bila "taklid medsos" kepada informasi kebetulan positif. Bila negatif, maka bahayanya akan berlipat-lipat. Bila tokohnya memiliki seribu pengikut, maka seribu orang bisa dipastikan "celaka" dalam menentukan sikap. Satu (atau lebih) diantara sejumlah tokoh-tokoh di sekitar kita sedang dalam situasi ini.

Sebagai orang yang bukan tokoh, tentu saja saya tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan levelnya jika saya mengingatkan. Yang paling mungkin saya lakukan, ya begini, menulis di medsos. Bukan untuk menghakimi atau cari simpati. Setidaknya, bila ini penting, akan bisa mengingatkan kawan, bahwa medsos mengancam pola pikir dan pola sikap, disamping ada hal-hal positifnya. Dan dari sekian banyak yang terdampak negatif medsos ialah berstatus tokoh, tokoh agama maupun masyarakat.

Di satu sisi wajar saja, karena medsos merupakan dunia baru bagi masyarakat Indonesia. Bahkan masih ada yang baru saja berkenalan. Bagi yang disebut terakhir ini medsos serupa lumbung yang berfungsi membuang uneg-uneg atau memungut serpihan informasi. Benar atau salah informasinya, tepat atau tidak tepat cuap-cuap di medsos orang "kelas pemula" ini belum bisa membedakan.

Saya masih ingat beberapa tahun lalu, ada seorang teman hampir tiap hari update status tentang masalah keluarganya. Dia cewek, curhat soal suaminya yang selalu bikin sedih. Katanya sih selingkuh. Ada juga yang tiap hari selalu curhat tentang nestapa hidupnya. Mungkin dia mengira statusnya dibaca satu atau dua orang. Padahal, kalau temannya 1000, dia hampir sama dengan dai yang ceramah di hadapan seribu jamaah. Masalahnya, yang disampaikan bukan nasehat, tapi masalah dirinya dan keluarganya. Nggak penting banget kan? Ini contoh pengguna medsos pemula yang hingga belakangan ini masih sering saya jumpai dengan pelaku yang berbeda.

Di sisi lain, orang-orang yang masih gagap bermedia sosial ini seringkali menjadi korban orang-orang yang berkepentingan. Lihat saja, sudah berapa banyak orang yang tertipu di medsos. Baik masalah jual beli barang atau janjian dua insan yang berakhir dengan pembunuhan dan pemerkosaan. Apalagi jelang perhelatan politik, Pilpres 2019, pengguna medsos pemula akan menjadi sasaran empuk mempengaruhi masa dan mendulang suara.

Perhelatan Pilpres 2019 adalah pertaruangan kepentingan-kepentingan yang berhubungan dengan kekuasaan. Bukan soal baik dan baruk atau etis dan tidak etis. Apalagi soal agama, haram atau halal. Tetapi soal kalah dan menang di medan pertempuran meraih kekuasaan. Celakanya, kini agama menjadi alat untuk meraih kekuasaan. Tuhan diajak berpolitik dan kampanye mendukung salah satu calon. Dan medsos menjadi sarana untuk menyampaikan politik berbau agama untuk mengelabuhi pemikiran masyarakat, khususnya pengguna medsos yang masih "amatiran".

Situasi ini tidak terjadi secara kebetulan atau alamiah saja. Tetapi melui desain yang sudah rapi. Mengapa ada sosok yang tidak pernah dikenal tiba-tiba menjadi terkenal saat perhelatan politik? Mereka tidak serta merta terkenal secara alami karena satu atau dua prestasi. Tapi disetting untuk terkenal. Tepatnya diperkenalkan oleh tim yang sudah disiapkan. Inilah fungsi tim medsos atau cyber, yang banyak digunakan sekarang.

Tokoh agama atau tokoh masyarakat musti paham soal ini. Jika tidak maka akan banyak korban berjatuhan. Seorang tokoh adalah penentu sikap masyarakat setempat yang mengikutinya. Tokoh menjadi orang yang dipercaya di tengah-tengah kebingungan masyarakat akan satu pandangan, termasuk politik.

Tokoh agama lebih dipercaya karena mereka dianggap paling tahu arah yang lebih baik. Tidak hanya untuk kepentingan dunia, tapi juga kepentingan akhirat. Tokoh diikuti karena dianggap paling tahu soal kebenaran. Makanya, kepentingan politik memang maknyus jika dibungkus dengan agama. Kondisi masyarakat yang masih banyak fanatis kepada tokohnya akhirnya menjadi lahan empuk elit-elit politik.

Mereka menjadikan ini sebagai peluang untuk kepentingan politiknya. Dibuatlah narasi politik kental dengan agama. Ada yang tiba-tiba mendadak didaulat menjadi santri, bahkan ulama, demi menarik hati dan simpati masyarakat yang taat kepada tokoh agama (kiai).

Di sisi lain, dihembuskan opini bahwa ulama yang terlibat dalam politik dicitrakan buruk. Dengan harapan, agar masyarakat menganut ulama yang seperti tahu bulan, digoreng dadakan, harga murah lima ratusan. Ada dua pola permainan: kalau tidak mencitrakan diri sebagai orang baik maka menyerang orang lain supaya dianggap buruk. Sasarannya tentu saja mereka yang masih belia menggunakan medsos.

Ini teorinya, serupa cara agar menjadi orang terbaik di sekolah sebagaimana yang pernah saya tonton dalam film tri idiot beberapa tahun silam, "Kalau kamu tak bisa mendapat nilai tinggi, buatlah nilai orang lain menjadi rendah. Maka kamu akan menjadi pemenang".

Dalam situasi politik jelang Pilpres 2019 ini terjadi. Kemarin, saya disuguhi video para calon presiden dan wakil presiden yang lagi di atas panggung sambil joget santai karena ada hiburan musik dangdut. Videa tersebut kini beredar di medsos dengan caption buruk kepada Kiai Ma'ruf Amin. Kiai Ma'ruf disalahkan, karena dia sebagai ulama, tetapi malah ikut joget santai di panggung.

Pikiran saya, "Lha emang sejak kapan orang yang jadi ulama tidak boleh joget". Ini kan persoalan etis. Etispun relatif. Masak iya, Kiai Ma'ruf hanya karena ulama harus selalu menunduk atau ceramah agama di atas panggung. Justru itu yang tidak etis. Dzalim, dalam arti, tidak menempatakan sesuatu pada tempatnya. Kenapa juga yang dikomentari hanya Kiai Ma'ruf Amin. Kok yang lain tidak.

Pikiran saya langsung menyimpulkan, pasti yang bikin caption buruk itu adalah rival Kiai Ma'ruf Amin. Mereka ingin Kiai Ma'ruf dianggap ulama tak tahu diri sehingga tak dipilih jadi Presiden 2019. Kalau tidak memilih Kiai Ma'ruf maka yang dipilih lawannya. Semakin banyak yang terpengaruh dengan video tersebut, maka rival politik Kiai Ma'ruf yang akan menang.

Sayangnya, strategi memenangkan pertandingan politik dengan cara semacam ini tak banyak orang tahu. Apalagi pengguna medsos pemula. Mereka jelas akan terperangkap dan percaya begitu saja. Celakanya, kalau yang terpengaruh adalah seorang tokoh, tokoh agama atau tokoh masyarakat, maka yang lebih banyak lagi yang tersesat. Mereka akan diikuti dan tidak sadar bahwa mereka sedang dalam kesalahan.

Memfilter setiap informasi yang kita baca di medsos adalah kunci yang perlu di ketahui pengguna medsos pemula alias amatir. Para aktifis medsos sudah paham ini. Bagi pegiat medsos anyaran, sikap yang penting adalah "skeptis". Ragukanlah setiap informasi yang diterima. Jadikalah informasi itu sebagai pengetahuan saja, sebelum benar-benar sudah diklarifikasi oleh pihak-pihak tertentu yang kompeten. Sebaliknya bukan menjadi landasan untuk bersikap atau mengambil keputusan.
Kebiasaan yang masih saya jumpai, orang yang gagap dengan medsos, mereka asal ngeshare informasi yang diterimanya. Entah dari mana sumber dan asal muasalnya, tidak mereka pikirkan terlebih dahulu. Asal cocok dengan pikiran dan hatinya karena embel-embel "Gusti Allah", langsung dipercaya begitu.

Apa mereka tidak tahu bahwa Abu Jahal dan Nabi Muhammad itu sama-sama pakai jubah? Yang membedakan adalah prilakunya. Nabi adalah gambaran sifat-sifat ketuhanan. Sedangkan Abu Jahal gambaran sifat kesetanan.

Salah dan benar, baik dan buruk, etis dan tidak etis, itu samar lho bro!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel