NADIA MURAD, DARI KORBAN MENJADI TELADAN

Oleh: Ali Munir S.

NADIA MURAD, DARI KORBAN MENJADI TELADAN

Gagal meraih cita-cita menjadi guru sekolah, Nadia Murad berhasil menjadi guru seluruh umat manusia. Nadia gagal menjadi guru sekolah karena dia warga minoritas agama Yazidi dan seorang perempuan. Pada tahun 2014, Kocho, desa di Irak Utara tempatnya lahir dan tumbuh hingga kelas terakhir sekolah menengah atas, dirampas dan dijadikan bagian dari Negara Islam (ISIS). 

Ibunya dan enam saudara laki-lakinya dibunuh oleh mereka yang menyebut dirinya jihadis ISIS. Nadia sendiri bersama ribuan perempuan sekaumnya diculik, diperkosa dan kemudian dijadikan budak seks. Bahkan dijadikan pelacur yang diperdagangkan melalui media sosial.

Namun, Nadia kemudian berhasil melarikan diri dari tempatnya disandera. Dia sampai di Jerman, negara yang belakangan paling ramah terhadappengungsi. Antara lain bersama Amal Cloney, pengacara yang tidak menuntut bayaran, Nadia terus berjuang untuk menyelematkan kaumnya dan menyeret ISIS ke Mahkamah Internasional. 

Sampai kini ISIS memang belum seperti diinginkannya. Ratusan ribu orang Yazidi masih terdampar dikamp-kamp pengungsian. Ini terutama karena dunia internasional masih pula buta terhadap malapetaka yang menggasak suku Yazidi. Tetapi Nadia tidak berhenti. Dia terus berjuang dengan berbagai cara, termasuk dengan menulis memoar The Last Girl.

Melalui buku tersebut, anak bungsu dari sebelas bersaudara ini mengatakan bahwa dia mesti menjadi gadis terakhir yang menjadi santapan malapetaka berkepanjangan. Berkepanjangan karena kaum Yazidi terus terdampar di tengah konflik antara Arab Suni dan Kurdi Suni. Bahkan sebelum itu, mereka dijajah Dinasti Usmani. Dan ketika Irak digempur tentara Amerika Serikat, kaum Yazidi pun menjadi korban. Perjuangan Nadia yang susah sungguh mengungkap semua itu perlahan berbuah. 

Dewan Eropa mengakui perjuangan Nadia dengan memberi penghargaan HAM Vaclav Havel. Uni Eropa mengakui perjuangannya dengan memberinya penghargaan HAM juga. Dan, menyusul itu, Yayaan Nobel memberi Nadia hadiah Nobel Perdamaian tahun 2018 bersama Denis Mukwege, ginekolog Kongo yang telah dan terus merawat ribuan perempuan yang diperkosa terkait dengan perang.

Dengan itu, Nadia menjadi lebih berdaya untuk mewujudkan apa yang dikatakannya,”Saya ingin mereka yang datang untuk memusnahkan kami, melakukan kejahatan, untuk dimintai pertanggungjawaban atas kejahatan mereka. Kaum minoritas harus dilindungi, mereka harus punya hak untuk mempraktikkan iman mereka. Kita harus memiliki keadilan."

Dengan itu pula, Nadia berkembang dari korban menjadi teladan, bahkan menjadi advokat mereka yang mbegitu mendakan keadilan dan kemanusiaan. Terima kasih dan selamat, Nadia.[]

Foto Nadi Murad oleh Thomas Duffe

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel