POLITISASI KESALAHAN ILMIAH

Oleh: Cakpin

POLITISASI KESALAHAN ILMIAH

KEBENARAN ilmiah diakui atau tidak kini merajai kebenaran. Kebenaran dengan metode deduktif yang mula-mula dicetuskan oleh Aguste Comte pada Abad ke-18 tersebut tidak berlebihan jika dalam banyak kesempatan telah mengalahkan kebenaran agama di tengah-tengah masyarakat. Sebut saja fenomena dimana sebagian orang tidak lagi percaya pada pengobatan tradisional dan lebih percaya sepenuhnya kepada dokter.

Tidak masalah memang, sepanjang kebenaran itu bersifat objektif dan digunakan untuk kemashalahatan. Dan telah terbukti penelitian-penelitian ilmiah dengan metode-metode deduktif telah mengubah dunia menjadi sedemikian rupa, terus berkembang dan maju sampai sekarang.

Tetapi yang perlu dicatat, kebenaran-kebenaran ilmiah selalu bertautan dengan kepentingan-kepentingan non ilmiah. Kenyataan ini setidaknya jauh-jauh hari sempat diingatkan Focoult, salah satu filosof Prancis, bahwa pengetahuan ada relasi dengan kekuasaan.

Catatan ini tidak akan bicara Focoult. Tetapi hanya ingin menegaskan bahwa telah sejak lama pengetahuan (ilmiah) tidak selalu murni ilmiah dan untuk kepentingan ilmiah demi kepentingan kemanusiaan. Tetapi kadang-kadang bertaut dengan kepentingan-kepentingan lain. Dalam konteks ini, pengetahuan dijadikan senjata memanipulasi kebohongan. Di tengah-tengah masyarakat yang "menuhankan" pengetahuan ilmiah, cara ini sangat ampuh untuk membodohi masyarakat.

Sebut saja kampanye "rokok membunuhmu" yang secara masif disebarkan melalui institusi kedokteran telah menjadi hantu yang menakutkan bagi masyarakat. Ada dugaan, kampanye tersebut adalah bentuk peperangan perusahaan farmasi dan tembakau. Contoh yang saya sebutkan ini memang masih menjadi perdebatan di tengah-tengah masyarakat, walapun harus diakui pembela tembakau jauh lebih sedikit daripada pencelanya. Sehingga apakah benar bahwa kampanye "rokok membunuhmu" melalui kebohongan ilmiah masih menjadi tanda tanya besar.

Tetapi masyarakat tidak akan bisa menolak adanya kebohongan ilmiah setelah disuguhkan fakta soal operasi plastik Ratna Sarumpet, aktivis perempuan yang belakangan menyedot perhatian publik. Kebohongan itu memang tidak dilakukan secara langsung berdasarkan pernyataan atas nama pengetahuan ilmiah. Tetapi karena pelaku pembohongan itu seorang dokter yang pasti tahu seluk beluk ilmu kedokteran maka tidak berlebihan jika disebut telah melalukan pembohongan ilmiah untuk kepentingan non ilmiah: politik dan kekuasaan.

"Saya juga seorang dokter. Saya melihat meraba dan memeriksa luka bu Ratna kemarin. Saya bisa membedakan mana gurat pasca operasi dan pasca dihujani tendangan, pukulan. Hinalah mereka yang menganggap sebagai berita bohong. Karena mereka takut kebohongan yang mereka harapkan sirna oleh kebenaran." kata Dokter Hanum binti Rais setelah memeriksa luka bonyok Ratna Sarumpet yang dinilai telah dianiya.

Selang beberapa waktu setelah ungkapan tersebut, Ratna kemudian mengaku ke publik bahwa dirinya melakukan operasi plastik, bukan dianiaya, bukan dihujani pukulan sebagaimana kata Hanun Rais. Sebagai seorang dokter yang telah melalui pendidikan kedokteran profesional tentu Hanun sangat mudah untuk membedakan bahwa Ratna Sarumpet sedang operasi plastik atau tidak. Tetapi mengapa Hanum justru dengan yakin mengatakan Ratna Sarumpet telah dianiaya (dengan bermodal pengetahuan ilmiah kedokterannya)?

Jawaban yang paling mungkin adalah karena ambisi dukung mendung calon dalam perhelatan politik 2019. Hanum telah mencederai kredibilitasnya sebagai dokter. Hanum telah melakukan pembohongan atas nama pengetahuan ilmiah yang melekat pada dirinya.

"Bagaimana kini dokter Hanum mempertanggungjawabkan kesimpulannya yang sama sekali salah?" kata Goenawan Mohammad dalam catatan singkatnya di Facebook, Kamis 04 Oktober 2018.

Catatan Goenawan Muhammad yang hanya 9 pragraf pendek dan banyak mengajukan pertanyataan tersebut adalah satu perspektif yang menurut saya menarik untuk dikupas lebih jauh. Saya pun sengaja membuat catatan ini di antara ribuan catatan dalam sudut pandang politik yang telah berhamburan di media sosial dan media online.

Setidaknya dapat menjadi renungan bersama, kalau tidak menjadi pintu gerbang untuk membongkar sejumlah kebohongan atas nama ilmu pengetahuan.[]

Semarang, 05 Oktober 2018

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel