Catatan Ngopi: Kapitalis yang Baik, Apakah Marx Sudah Mati?

Catatan Ngopi: Kapitalis yang Baik, Apakah Marx Sudah Mati?
Liputan6.com
Kalau saya ngobrol sama orang ini, saya pasti merasa senang sekali dan selalu ingin melayani. Karena dia memiliki rasa ingin tahu, dan menjawab segala kegelisahan yang ada dalam dirinya. Siapa lagi kalau bukan Bung Farid, Demisioner Komisaris GMNI UIN, yang agak lugu-lugu namun memiliki semangat dan rasa penasaran yang tak pernah akan selesai. Ya, judul di atas saya ambil dari istilah yang dikatakan Farid: Kapitalis yang mensejahterakan karyawannya adalah kapitalis yang baik. Apa iya?

Mari kita rinci satu persatu. Awalnya, Farid bertanya kepada saya.

“Ayo, Li. Kita diskusi. Bagaimana perkembangan sekarang ini menurut kamu? Apakah kamu menemukan ide-ide yang baru?” Wah. Berat, seakan saya penghasil ide.

“Sekarang ini pola hidup generasi baru sudah terbalik. Dulu, mereka memiliki dan suka melahirkan ide-ide mereka secara individualis, namun sosial mereka tetap bersama-sama. Sekarang, pikiran mereka sama, isi otaknya sama, namun social mereka individualis. Tak mau tahu nasib orang lain.” Saya mengatakan begitu, Farid agak mikir-mikir.

“Contohnya?” Katanya.

“Mana lebih dekat antara kamu: dengan HP-mu atau Aku?”

“Lebih dekat HP lah, Li. Tapi kan dari dulu emang orang kota itu individualis, Li. Jadi spesifik dulu.”

“Kan sikap itu berjalan sesuai perkembangan budaya global yang mereka terima. Tentu saja orang kota lebih dulu individualis, karena mereka sudah terima budaya barat dan teknologi lebih awal. Tapi kan pada akhirnya juga orang desa masuk ke dunia barat itu, sehingga pada akhirnya ya sama saja, orang desa atau kota. Coba kamu lihat sekarang apa yang terjadi di desa. Apakah budaya dan sosialnya masih kental?”

“Iya juga, ya. Terus apa solusinya, Li?”

“Sadar diri, lah. Harus ada juga kontrol dari orang tua dan tokoh masyarakat yang dituakan. Dan yang paling penting adalah bagaimana kita bisa mengkolaborasikan antara pemikiran baru dengan budaya lama. Agar semuanya bisa bertahan, tak ada yang hilang.”

“Terus ini kita ngomongin politik, Li. Menurutku selama ini politikus itu terbagi dua. Pertama, orang yang memang kompeten dalam ilmu politik pemerintahan, sehingga mereka memang benar-benar ingin mensejahterakan rakyat. Kedua, politikus yang punya wirausaha dan kaya, sehingga mereka terjun ke politik untuk mengamankan asetnya melalui kebijakan yang pro para pengusaha. Faktanya sekarang kayak gitu. Menurutmu sekarang gimana, Li?” Saya sudah pikir ini pertanyaannya bersifat subjektif, dimana Farid di pihak Politikus (calon). Dia memiliki visi bagaimana politik itu diduduki oleh orang yang berkompeten.

Tiba-tiba, Mas Gogon yang sedari tadi main HP, ikut nimbrung pembicaraan.

“Kalian ini ngomong jangan terlalu serius. Ngobrol yang ringan aja, cewek kek, apa kek…” Ucapnya.

“Hahaha.. Soalnya Ali ini cerdas, Mas, orangnya. Dia selalu melahirkan gagasan-gagasan baru kayak gitu. (Ge Er saya wkwkwkwk)” Jawab Farid. Sementara Mas Gogon kembali main HP.

“Ya, begini. Aku justru gak sepakat kalau begitu. Karena di sisi lain, menurutku, justru pengusaha yang juga melek politik sangat berpotensi untuk tidak korupsi. Aku gak sepakat memetakan itu. Karena baik buruknya jalan pemerintahan, tergantung pada pribadi si politikus. Banyak kok politikus baik yang kaya raya.” Jawab saya.

“Tapi selama ini faktanya seperti itu, Li. Kapitalis mereka, duduk di politik untuk mengamankan asset-asetnya.”

“Ada gak, politik non pengusaha yang korupsi?”

“Ya ada, lah, Li.”

“Ya sudah, mana lebih parah: Nyuri uang Negara miliaran rupiah, atau regulasi usaha?”
“Iya, iya, ya…”

“Tapi kan mereka kapitalis, Li. Dan itu harus dilawan. Sama seperti yang punya kafe Basa-Basi ini (Pak Edy), dia kan menumpuk uang. Kapitalis berarti, kan?”

“Belum tentu. Karena setahuku Kapitalis itu menumpuk uang dengan cara merugikan orang lain. Disini kan nggak, mereka hidupnya sejahtera. Malah senang karena diberi pekerjaan.”

Kemudian Mas Gogon kembali nimbrung.

“Gini, gini… Sekarang aku coba memposisikan diriku sebagai pengusaha, dan kamu sebagai buruh. Orang yang kerja disini sejahtera tidak?”

“Sejahtera, Mas.”

“Ya, sudah. Berarti?”

“Kapitalis itu kan orang yang menumpuk nilai lebih, Mas. Sebaik apapun dia kalau menumpuk nilai lebih, berarti bagi saya itu Kapitalis tetap. Inti teori Marx kan gitu. Nah, kalau kayak di Basabasi ini berarti dia Kapitalis yang baik.” Ucap Farid. Saya pun tertawa terkekeh-kekeh.

“Gak bisa. Kapitalis ya, yang merugikan orang lain (buruh).” Jawab mas Gogon.

“Hm… Coba kita kembali ke belakang, apa alasan Marx membuat teori itu?” Kata saya.
“Iya setuju.” Kata Farid.

“Kan dia buat teori itu esensinya kan Buruh yang dirugikan? Bukan soal orang yang kaya?”

“Iya, iya….”

“Berarti kan, kalau tidak merugikan buruh berarti bukan Kapitalis. Kalau kamu bilang ada kapitalis yang baik, gak berarti lah teori Marx sekarang. Karena antara yang baik dan buruk sudah dinamakan sama: sama-sama Kapitalis. Padahal maksud Marx bukan itu.”

“Pengusaha dan karyawan itu kan sudah ada kesepakatan, Bung. Dari awal sudah ada perjanjian kerja. Kalau tidak sesuai kebutuhan yang silahkan mengundurkan diri. Kan gitu.”

Sampai disini saya sudah lelah menulis. Selanjutnya di Basabasi itu kami masih membicarakan banyak hal, sampai pada Gojek yang sedang dijalani Farid. Semoga di masa depan terus tumbuh para Kapitalis yang baik, sebagaimana dikatakan Farid. Entah benar atau tidak, sebenarnya semua hal di dunia ini memang Paradoks. Marx bisa saja mati dalam satu hal, namun tetap hidup dalam hal yang lain. Bukankah teori kualitatif itu memang seharusnya berkembang? Tergantung keadaan yang sedang terjadi, sebagaimana Soekarno menimba teori ilmu Marx untuk melahirkan teori Marhaenisme di Indonesia.

Masalahnya sekarang, adakah yang masih mengkaji, mengembangkan dan mengkolaborasikan teori itu?

Kafe BasaBasi, 2018

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel