Sensor Program TV: Mana Lebih Berbahaya dengan Kebebasan Media Sosial?

Oleh: Ali Munir S.
Sensor program TV: Mana Lebih Berbahaya dengan Kebebasan Media Sosial?

Beberapa hari lalu saya menonton salah satu program di TV yang menampilkan Tari Tradisional. Dalam tayangan tersebut sang penari di sensor gambarnya karena memakai kebaya yang transparan. Luar biasa upaya pemerintah kita melarang penampakan-penampakan yang bugil, seakan akan mereka berpikir: Jika gambar penampuilan disensor, maka kehamilan di luar nikah akan berkurang. padahal? Di usia ini serba tidak jelas, gelap gelapan di luar nikah sudah biasa. Pergaulan bebas terjadi di mana-mana. Tak ada lagi sekat dan kontrol moral antara laki-laki dan perempuan. 

Lalu, apa maksudnya sensor program TV yang sebenarnya itu adalah Tarian Nasional hazanah lokal? Sementara media social yang bahkan lebih intim dibebaskan? Saya menangkap kerancuan, keterbalikan, dan ketidak seriusan dari cara-cara pemerintah membina Indonesia. Rupa-rupanya mereka ingin menyembunyikan hazanah lokal semacam kebaya dan tarian, dari pada mencegah kebebasan bermedia social yang syarat dengan kebencian dan adu domba. Sehingga proyeksi budaya global semakin subur dan berkembang pesat di negeri yang semestinya bermoral ini.

Jika demikian kenyataannya, apa yang pemerintah kerjakan? Dalam pikiran saya, sekarang ini jarang sekali pemerintah benar-benar serius memikirkan nasib bangsanya. Buktinya, rata-rata PNS bekerja cukup sekadar absensi tepat waktu. Soal kerja urusan belakangan, yang penting gaji lancar. Bukannya membuat lebih baik, malah membunuh hazah lokal. Bangsat bukan?

Tapi tak perlu takut. Kita memang sedang berada di Negara di mana orang-orang bangsat banyak bertebaran. Tinggal kita memilih nasib: menyerah pada keadaan, atau melawan dengan cara yang lebih bangsat!!!

Framing Terbalik

Dulu sebelum teknologi berkembang, lahir banyak pemikir hebat dari Indonesia. Mereka dahulu berani dan nekat memupuk Individualisme dalam hal ide dan gagasan, namun plural secara social. Mereka suka membaca buku, menulis, dan berperang dalam gagasan mereka untuk unjuk kebolehan dalam hazah intelektual. Namun secara social mereka begitu hangat dan akrab.

Sekarang, framing media dan teknologi telah membalikkan semuanya. Kids era now lebih suka mengikuti ide orang lain, dari pada melahirkan gagasan sendiri. Mereka malas sekali dalam berpikir. Mereka lebih suka buat tren rame-rame dari pada adu kebolehan gagasan masing-masing, mirip robot yang diremot oleh orang-orang barat. Dan sebaliknya, secara social mereka individualis, acuh tak acuh. Sedangkan secara ide mereka sama saja. Isi otaknya sama: mainan.

Yogyakarta, 2018

0 Response to "Sensor Program TV: Mana Lebih Berbahaya dengan Kebebasan Media Sosial? "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel