Catatan di Masa Wabah Covid-19 Bagian 1

Catatan di Masa Wabah Covid-19 Bagian 1
Catatan di Masa Wabah Covid-19 Bagian 1
Nongkrong bareng, jalan bareng, hingga belajar di kelas, barangkali adalah yang paling kita rindu dalam masa physical distancing ini. Bagaimana tidak? Mengobrol langsung bersama orang-orang itu, di tempat yang biasa itu, dengan semua hal unik yang mereka bawa dari rumah atau entah dari mana asalnya itu, selamanya tak akan tertandingi oleh media sosia secanggih apapun. Dan semua itu kita tinggalkan sementara sebagai upaya perlawanan atas wabah ini, kita menyebutnya jaga jarak. Tapi, sebenarnya siapa yang berjarak paling jauh dengan diri kita? Paling jauh dalam makna yang tidak dibatasi, jika ada, siapa dia?

Mantan? Ya, mungkin itu adalah jawaban sebagian kita, namun setidaknya saat ini, saya tertarik menyampaikan pandangan Nietzsche tentang seseorang yang berjarak paling jauh, paling “asing”, yang seringkali luput dari perhatian kita.

Salah satu aforismenya dalam pendahuluan I Genealogi Moral, seperti berikut:
 “…kenyataan pahitnya adalah kita menjadi orang asing bagi diri kita sendiri, kita tidak mengerti tentang diri kita sendiri, kita pasti salah tentang diri kita sendiri; pepatah yang berbunyi “Setiap manusia berada paling jauh dari dirinya sendiri,” akan bertahan selamanya untuk kita. Bagi diri kita sendiri, kita bukanlah ‘orang-orang yang paham’….”

Dari tulisan di atas, bukan seseorang dengan jarak fisik ternyata, bukan seseorang ketika kita berada di kutub utara maka dia berada di kutub selatan, dan bukan pula seseorang yang ketika kita adalah sosialis maka ia adalah kapitalis, atau ketika kita adalah golongan kanan maka ia adalah golongan kiri, sebaliknya, ia adalah orang yang sangat dekat secara fisik, teman seideologi, seagama, sedarah-serahim, sejenis kelamin, karena ia adalah diri kita sendiri.

Secara pribadi saya sependapat dengan Nietzsche. Seringkali saya begitu memperhatikan orang lain sehingga menelantarkan diri sendiri, dan begitulah keadaan semua orang menurut Nietzsche, serius dengan sesuatu di luar dirinya hingga melupakan dirinya sendiri. Dan pada kondisi seperti sekarang, saya berencana untuk lebih perhatian pada diri saya sendiri, dan secara perlahan juga pada orang-orang terdekat, dan sepertinya saya tidak punya rencana untuk menetapkan siapa yang patut disalahkan atas wabah ini, lol.. 

Mari kita melawan keadaan dengan mulai memperhatikan diri kita, bersama kita bisa hadapi Covid-19.[]

Ahmad Dafa Audi Hafiz

Selasa, 17 April 2020
*tulisan diambil dari postingan terbaru penulis di laman facebook pribadinya

0 Response to "Catatan di Masa Wabah Covid-19 Bagian 1"

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan Bijak dan Kritis!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel