Senjakala Terakhir Seorang Santri

Senjakala Terakhir Seorang Santri
Senjakala Terakhir Seorang Santri
Siluit burung-burung camar terdengar syahdu di pojok kampung itu.  Awan mulai menutup fajar yang bersinar cerah di pagi itu, penduduk pun mulai sibuk dengan rutinitas mereka.  Langit yang mulai gelap tapi tak kunjung menurunkan hujan, kulihat burung-burung camar mulai goyah dari peraduannya, pagi yang gelap mungkin tak terlalu bersahabat baginya mengawali aktifitas. 

Ada segumpal teka-teki berkeliaran di pikiranku, dan tak bisa aku pungkiri apa yang musti aku putuskan, sejenak aku duduk menenangkan pikiran, hingga pelan-pelan mulai tenang. Aku berharap ada secercah cahaya petunjuk dari Sang Maha Pencipta. Di satu sisi melanjutkan belajar ke pondok pesantren, di sisi lain sekolah di luar pesantren. Akhirya melalui sebuah ‘peristiwa’ tanpa bisa berkata apa-apa, pilihan  melanjutkan sekolah ke pesantren tak terelakkan, ada panggilan kuat yang harus aku turuti, meski aku tau  menjadi santri bukan perkara semudah membalikkan telapak tangan, harus siap dengan aturan-aturan yang kala itu aku rasa mengekang, harus sholat berjamaah, dilarang keluar sembarangan, dan terpisahnya secara ketat interaksi laki-laki dan perempuan. Intinya semua hal yang menyangkut akhlaq agama menjadi pusat perhatian. 

Mungkin karena aku sudah terbiasa sekolah di luar hingga setingkat SMP, rutinitas pesantren yang tertutup jelas menjadi tanda tanya dan tantangan  besar bagi yang akan terjun ke dalamnya. Bagaimanapun aku harus komitmen dan meneguhkan jiwa dan pikiranku untuk bersyukur karena panggilan jiwa untuk mondok datang secara tiba-tiba dan  begitu kuat. Semoga dari kebingungan akhirnya berbuah ke-ajeg-kan seiring ridho kedua orangtua, dan Tuhan semesta alam. 

Saatnya aku menapaki seragam putih abu-abu di pagi hari dan kopiah, kemeja, sarung di sore hari. Seragam SMA seperti pada umumnya aku pakai menginjak jam 07 pagi hingga jam 13 siang, kemudian di jam 13:30 hingga ketika sekolah Diniyah (sekolah pondok) 16:30, pakaian ala-santri seperti yang aku sebut diatas (peci, kemeja dan sarung) menjadi seragam yang aku kenakan. Bait-bait syair arab menggema di setiap ruang kelas, sahut-menyahut dengan irama khas yang belakangan aku tahu adalah nadhom-nadhom dari hafalan santri terhadap kitab nahwu; emriti, dan alfiyah. aku tergolong santri yang tidak sukses menghafal nadhom-nadhom indah dari kitab alat tersebut. 

Nahwu menjadi salah satu disiplin ilmu yang musti dikuasai disamping shorrof dan bahasa arab untuk bisa membaca dan memaknai ‘kitab kuning’, kitab karangan ulama-ulama terdahulu yang juga dikenal dengan ‘kitab gundul’. Disebut ‘kitab kuning’ karena bahan kertas kitab berwarna kuning, dan disebut pula ‘kitab gundul’ karena tulisan kitab tanpa menyertakan harokat. 

Entah kenapa aku lemah bila berhadapan dengan hafalan-hafalan. Oleh karena itu aku hanya memahami sekedar yang mampu aku pahami. Langkahku mulai menemukan arahnya dimana letak minat dan bakat yang menjadi karakteristik diriku mulai tak sadar  ketika pelajaran-pelajaran seperti tauhid, dan segala yang berkenaan dengan bukan hafalan, tapi penalaran-penalaran berpikir, nyambung dan ada semangat ingin tau yang cukup intens didalamnya. Ya, aku mulai senang membaca buku baik buku yang berkenaan dengan agama maupun tidak, buku-buku yang berkaitan dengan nalar  filosif, imajinatif dan intuintif. Buku filsafat yang pertama aku baca adalah The Spoke Of Zarathustra, Nietsche, dalam terjemahan bahasa Indonesia tentunya. Kemudian Dunia Sophie, Novel filsafat yang ditulis Justin Gurder Frank, Pemikiran Karl Marx yang ditulis Frans Magnis Suseno dan beberapa buku-buku yang lain.  Sejarah Tuhan oleh Karen Amstrong adalah buku yang menarik perhatianku waktu itu, Pencarian Tuhan dalam kurun waktu 4000 tahun yang dilakukan oleh umat manusia menjadi sesuatu yang mengundang rasa ingin tahu ditengah gelora pencarian jati diri.

Yah, sloganku waktu itu adalah ‘Tiada Hari Tanpa Membaca’. Karena dengan membaca transformasi pengetahuan berlangsung. Wawasan, kosa-kata dan  nalar kritis akan tumbuh dan berkembang, saat itu tanpa membaca sehari seolah ada sesuatu yang hilang yang merupakan bagian dari diriku. 

Aku mulai berani bicara di depan guru, bertanya dan kadang mengkritisi. Seiring waktu kemudian aku dikenalkan dengan organisasi. Di dalam pondok ada sebuah organisasi santri yang berasal dari wilayah banyuwangi disebut ‘Firqotul Masriq’ dan kebetulan aku dipercaya menjadi ketua dalam satu periode. Pengalaman menjadi ketua kelas ketika masih masa SMP ternyata berulang di organisasi ini. Teman-teman menilai dalam periode kepemimpinanku organisasi tidak berkembang. Ya, aku akui  karena aku memang cenderung acuh yang hanya mau bertindak ketika sudah mendesak. Aku lebih suka inisiatif yang tidak datang dariku. 

Di luar pesantren, Pondok mengirim beberapa perwakilannya untuk bergabung dengan Organisasi anak cabang Nahdhotul Ulama (NU) yakni IPNU dan IPPNU Jember. Kebetulan aku mendapat kesempatan bergabung disini bersama kawan-kawanku yang lain diantaranya Sofyan, Zainul, Syukron dll. Si Sofyan kini menjadi guru dan bekerja di Departemen Agama, si Zainul bergelut di usaha koperasi, dan si Syukron menjadi seorang petani.  Dari MAKESTA (Masa Kesetiaan Anggota) dan beberapa kegiatan yang rutin diadakan seperti pelatiahan Jurnalistik, seminar dan kepemimpinan. 

Slogan NU; Tawassut, Tawazun, I’tidal dan Tasammuh digaungkan disini. Ia menjadi prinsip dan cukup mendarah daging. Tawassut memiliki pengertian sebagai sikap moderat dengan melihat persoalan tidak hanya dari satu sudut pandang, Tawazun adalah menimbang-nimbang persoalan  sebelum sebuah keputusan diambil, I’tidal berarti harus berbuat adil kepada siapapun tanpa melihat agama, ras, suku dan golongan, dan Tasammuh adalah sikap menjunjung tinggi toleransi.    
        
Dalam pelatihan Jurnalistik, dipelajari bagaimana kiat, dan kode etik penulisan berita dan sebuah karya ilmiah. Ada sebuah pertanyaan yang aku ingat dari seorang pembimbing ketika sesi pelatihan kepemimpinan waktu itu, “apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin ketika ada dalm gambaran situasi seperti ini; bersama tiga anggotanya tersudut dalam satu Bunker kecil dengan sepotong roti seteguk air minum dan kapasitas oksigen yang sangat terbatas, jika dihirup oleh ketiga anggotanya mungkin hanya cukup bertahan satu hari, sedangkan keadaan di luar bunker ratusan musuh bersenjata lengkap mengepung dengan moncong senjata yang siap membunuh. Sebagai seorang pemimpin apa yang akan kamu lakukan pada situasi tersebut?”.

IPNU IPPNU adalah akronim dari Ikatan Pelajar Nahdhotul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhotul Ulama. Bagiku pernah menjadi bagian dalam organisasi ini adalah sesuatu yang cukup berarti. Setidaknya nilai-nilai ke-NU-an terus bersemayam bahkan mengalir dalam darah dan sumsum kami seperti ter-ikrar dalam Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Dalam kaderisasi kami dididik untuk mengetahui madzhab yang dianut NU dalam sumua lini ajaran Islam meliputi aqidah, fiqh, dan tasawuf. Di bidang aqidah NU mengikuti madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan madzhab Imam Abu Manshur al-Maturidi. Di bidang fiqh NU mengikuti salah satu dari Imam madzhab;Imam abu Hanifah, Imam Malik ibn Anas, Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal. Di bidang tasawuf NU bermadzab kepada Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam abu Hamid al-Ghozali. 

Disamping mengikuti kegiatan organisasi, belajar dikelas juga tak kalah menarikya. Gus Makmun,  adalah Guru yang cukup intens dengan kajian-kajian serius, wawasan dan penguasaanya terhadap banyak disiplin ilmu membuat banyak santri takjub. Beliau salah satu pengasuh pondok yang seolah ‘menyuntik’ kami dengan rasa ingin tau terhadap disiplin keilmuan hingga menggerakkan semangat membaca, pengaruh pemikirannya telah banyak menelurkan penulis dan pemikir profesional, Seolah menyampaikan pesan bahwa mengabdi dan mencintai bangsa tidak melulu dengan sebilah pedang atau bambu runcing, namun mempersiapkan kader yang ‘militan’ dalam berpikir dan menulis juga menjadi prioritas utama. 

Aku akui jiwa muda memang tak bisa digerus oleh zaman, seperti kata-kata yang populer sering dilontarkan, “Usia boleh tua tapi jiwa harus tetap muda”. Bagaimana para tokoh-tokoh revulusioner bangsa dalam kesenjaan mereka, tapi pikiran dan jiwa tetap segar tak tersentuh usia, Begitu pula seorang pendidik yang patut ditauladani walau tubuh lelah, tak sedikitpun lelah itu mereka tampakkan. Berbicara, memberi nasehat dengan mencontohkannya terlebih dahulu dalam laku pribadinya. 

Padatnya aktifitas di Pondok, tak terasa 3 tahun begitu cepat terlewati. Penghujung senja kian tiba aku harus keluar dan kembali ke habitatku. Keluarga dan masyarakat, didikan dan proses selama di pondok akan memasuki langkah awal pengujian, antara keinginan melanjutkan studi dan selesai sampai disini. 

Ditengah arus perubahan di masyarakat, seiring waktu, perubahan-pun tak terelakkan. Peristiwa memang tak bisa ditebak, aku hanya memikirkan ditengah hari ketika tiada kesibukan, rentang perjalanan dibeberapa waktu dalam hidupku, mudah-mudahan ada hikmah yang dapat aku simpulkan dipenghujung jalan nanti. 

Atribusi diatas hanya catatan kecil dari perjalananku mengenal dunia pesantren, perkenalan sepintas di dunia itu membawa kesan yang tak terlukiskan sepanjang waktu. Diakhir senja itu seorang pendidik berpesan, “agar kelak mampu menjadi agen-agen perubahan”. Wallahu a’lam.[] 






Hadi Pranoto, pernah belajar di Pondok Pesantren al-Falah, Jember, dari Banyuwangi. Kontak WA: 0895 2773 3832, FB: https://www.facebook.com/pranoto.hadi.5811



0 Response to "Senjakala Terakhir Seorang Santri"

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan Bijak dan Kritis!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel