Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Berdialog dengan Kematian

0 Pembaca

Oleh: Taufik Hidayat

Salah satu variabel dari kejadian pandemi COVID-19 ini adalah kematian. Pada situs worldometers.info, per tanggal 16 April 2020 tercatat sudah lebih dari 134 ribu jiwa yang meninggal akibat virus tersebut. Data terbaru pada hari ini (24 April 2020) yang dilansir tirto.id, bahwa total kematian yang diakibatkan COVID-19 di seluruh dunia mencapai 190.743 jiwa. Sementara di Indonesia, peristiwa yang terkait dengan hal itu, diantaranya penerbitan Fatwa Pedoman Pengurusan Jenazah Muslim Yang Terinfeksi COVID-19 yang terbagi atas ketentuan umum (menjelaskan terkait kondisi syahid akhirat, salah satunya meninggal karena wabah) dan khusus, penolakan jenazah yang meninggal akibat virus ini di beberapa daerah, serta lainnya. Tetapi tulisan ini (tentang kematian) tak hanya membahas dalam skala waktu pandemi, melainkan dalam masa yang beragam dimana akan dilakukan penjelajahan pandangan-pandangan beberapa tokoh tentang kematian. 

Suatu waktu Hawking ditanya oleh seorang anak kecil, “Ke manakah kau pergi tuan? Bukankah kau tak percaya kehidupan setelah kematian?”. “Aku tak pernah pergi ke mana pun. Aku masih di dunia ini, dalam serpihan sejarah umat manusia. Bukankah ketiadaan hanya perkara yang dilupakan oleh dunia?”, jawab Hawking (seorang ateis).[1] Kalimat Hawking tersebut bila dipahami juga dapat menjadi bahan renungan bagi kita, bahwa mungkin ketiadaan atau akhir kehidupan atau kehidupan setelah kehidupan di dunia ini seringkali merupakan perkara yang dilupakan atau tak dipersiapkan.

Sementara Jorges Luis Borges dalam “Labyrinths: Selected Stones and Other Writings” menyampaikan, bahwa kematian dipandang sebagai hal tentang berakhirnya kehidupan yang menjadikan manusia lemah.[2] Mengerti bahwa kematian sebagai titik akhir kehidupan tidaklah cukup. Apalagi bila ingatan tentang kematian hanya mengantarkan manusia pada perilaku-perilaku yang dilandasi keputusasaan, kehilangan semangat dalam menjalani sisa waktu hidup, atau kabur arah tujuan dan hakikat hidupnya.

Lalu lewat “Philosophical Deaths and Feminine Finitude”, Linnell Secomb menjelaskan suata pandangan bahwa tidak mungkin merasakan kematian pada kematian orang yang lain, sebagaimana ketidak-mungkinan merasakan pengalaman pada pengalaman orang lain.[3] Pelajaran juga untuk kita, bahwa acapkali kita lupa mengambil pelajaran dari orang-orang yang telah mendahului kita atau peristiwa yang telah dialami lebih dulu oleh orang-orang di sekitar kita. Padahal disitu ada bahan untuk berkembang atau perbaikan kualitas diri.

Kemudian Schopenhauer, menulis esai ”On the Doctrine of the Indestructibility of our True Nature”, menyatakan bahwa kematian dipandang sebagai berakhirnya penderitaan atau terbebasnya dari belenggu fenomena.[4] Ambil satu contoh, misalnya kasus bunuh diri. Model pemikiran seperti kerap menyelimuti kepala pelaku bunuh diri. Dalam benaknya, bahwa bunuh diri bias mengakhiri penderitaan yang sedang dia alami dan dia sudah tidak kuat lagi untuk memikul beban itu. Selain itu, misalkan kejadian merasa dikucilkan dari lingkungan atau merasa tersiksa dengan kesendiriannya dalam sikon seperti itu ada yang mengganggap bahwa kematian adalah solusi efektif. Padahal, bila dipikirkan dengan matang bahwa mengakhiri belenggu atau penderitaan dengan jalur kematian adalah hal yang tidak tepat.

Berikutnya Norbert Elias, “Loneliness of the Dying” karyanya mengutarakan bahwa kematian dipandang sebagai bentuk proses kehidupan menuju musnah, sehingga pengetahuan atas kematian muncul sebagai problem social.[5] Pemikiran seperti ini menjadi ujian bagi mereka yang masih sulit mengidentifikasi diri dengan proses menuju kematian, kemudian memilih mengisolasi atau menarik diri dari lingkungan, sehingga kematian adalah problematika bagi hidupnya.

Terakhir, “The Denial of Death” karya Ernest Becker mengkritik pandangan yang mengabaikan kematian dengan cara menyibukkan dirinya hanya untuk menutupi rasa takut terhadap kematian.[6] Kematian bila disikapi dengan hanya rasa takut, bukanlah hal yang tepat. Menyibukkan diri juga hal yang sebetulnya tak bermasalah, asal dapat dipastikan bahwa kesibukannya bernilai kebaikan.

Bila film saja ramai dipersepsikan dengan happy ending (akhir yang bahagia), apalagi kematian yang pasti penuh dengan harapan manusia bahwa akhir riyawat hidupnya (kalau dalam Islam) bisa khusnul khotimah. Lantas, bagaimanakah Islam memandang kematian? Pada kesempatan lain, ada tulisan yang akan membahas itu, insyaAllah.

Referensi:

[1] “Kematian dan Perjalanan Antar Bintang (Sebuah Obituari Singkat untuk Hawking)” oleh Risalatul Hukmi, diposting pada antinomi.org.

[2]  “Menalar (kembali) Kematian Sebagai Suatu Akhir” oleh Fajar Nurcahyo, diposting pada lsfcogito.org.

[3]  Ibid.

[4]  “Ketika Schopenhauer Berbicara tentang Kematian” oleh Muhammad Fitriansyah, diposting pada lsfcogito.org.

[5]  “Siksa dan Sakralitas Kematian” oleh Rizki Amalia Affiat, diposting pada islambergerak.com.

[6]  “Berada Menuju Kematian” oleh Teguh Hindarto, diposting pada qureta.com.


Posting Komentar untuk " Berdialog dengan Kematian"