Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

APA TUHAN KAMI SAMA?

0 Pembaca

Oleh: Retna Mega Kartika

(Juara II Lomba Menulis Cerpen Hari Santri Nasional 2020)

Kejadian pertama pagi ini yang kulihat dari celah-celah atap kamar 5.

“Mau ke mana?” tanya Si Jilbab Hijau.

“Mau ke pasar, menemani Ibu Nyai belanja,” jawab Si Jilbab Merah.

“Kau yakin akan memakai  jilbab selebar tisu?” kata Si Jilbab Hijau dengan sengit.

“Memangnya kenapa?” timpal Si Jilbab Merah yang masih setia melihat cermin di hadapannya.

“Oalah bagaimana to kamu itu? Ibu Nyai itu kan jilbabnya besar sampai menutupi pantat. Lihat jilbab kamu ini menyentuh pantat aja enggak apa lagi menutupinnya. Nggak malu kamu?” kata Si Jilbab Hijau sambil berjalan mendekati cermin.

“Gunakanlah jilbab sepertiku ini, baru Ibu Nyai tidak akan malu bila berjalan denganmu,” kata Si Jilbab Hijau sombong.

“Aku nggak terbiasa pakai jilbab sebesar  itu, pasti ribet, apalagi ini ke pasar berbelanja bawa banyak barang, nanti pasti repot,” jawab Si Jilbab Merah sambil pergi meninggalkan Si Jilbab Hijau yang masih terus mengerutu.

Aku masih setia menunggu Si Jilbab Merah pulang dari pasar, sambil sesekali aku memejamkan mata. Aku sangat mengantuk. Kemarin malam aku menjadi saksi pertengkaran santri putri asal Klaten dengan santri putri asal Sumatra itu, hanya masalah ukuran jilbab santri asal sumatra itu meperdebatkannya, seperti pagi ini. Kemarin malam mereka bersiap-siap untuk khataman al-Quran, yang diselengarakan untuk merayakan hafalnya 30 juz para santri.

“Sudah siap kamu, Fit?” tanya Salsa.

“Sudah, kamu sudah siap?” tanya Fitri kembali.

“Insyallah sudah,” jawab Salsa.

“Sebentar, apakah kamu tidak merasa kalau jilbabmu kurang besar untuk ukuran santri tahfidz?” tanya Fitri.

“Ah tidak aku sudah nyaman, lagian ini sudah pas kok. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sudah menutup punggung belakang dan menutup daerah depan,” jawab Salasa.

“Apa kata Ibu Nyai nanti, pasti beliau sangat malu melihat jilbabmu yang tidak sebesar jilbabnya,” jawab Fitri dengan sadis.

“Sepertinya tidak. Sudahlah ayo kita turun, pasti kita sudah ditunggu,” kata Salsa sambil tersenyum manis ke Fitri. Manisnya senyum itu selalu membuatku rindu dan selalu ingin mengintipnya dari atas seperti saat ini.

***

Dia sudah pulang dari pasar. Yesss!!!

Aku rindu dengan senyumnya dan bacaan al-Qur’annya. Aku selalu menunggu itu, lihatlah dia keluar dari kamar dan berbelok ke kiri pasti dia mengambil air wudhu untuk melakukan sholat dua rokaat yang entah aku tak mengetahui namanya. Tepat dugaanku, ia mengambil kain putih besar itu dan menggunakannya, menggelar kain yang bergambar dan mulai mengangkat kedua tangannya. Aku suka melihatnya seperti itu, tampak tenang dan bersinar. Ia mulai mengambil Alquran-nya dan membacanya, sungguh merdu suarannya.

Tapi ada satu orang yang menganggu momen itu, aku sangat membencinya, dia si jilbab besar yang kejam, mengerikan, dan jarang tersenyum, dia menggunakan jilbab besar seperti menggunakan selimut untuk menutupi semua tubuhnya, yang suka mengoceh mengomentari dan menasehati orang lain, tapi dia tidak bisa menerapkan pada dirinya sendiri. Dia asyik dengan ponsel di tangannya sambil bergelindingan ke kanan dan ke kiri, tak lupa dengan tawa cekikikannya yang nyaring, membuat telingaku berkedut. Dasar  tak punya sopan santun! Bahkan dia tidak menghormati teman sekamarnya yang sedang mendaras al-quran, dia dengan santainya malah menyetel musik dan beryanyi.

Aku kesal melihatnya. Akhirnya kuputuskan untuk merayap di atas tempat di mana ia berbaring, kumantapkan hatiku dan kujatuhkan diriku di atas punggungnya, dia berteriak dengan kencang sampai menghentikan bacaan al-Qur’an temannya. Dia terus loncat-loncat agar aku jatuh dari punggungnya, tapi aku tidak mau, aku semakin memegang erat jilbab besarnya sambil kuayun-ayunkan. Rasannya seru sekali melihat dia terus berteriak-teriak ketakutan.

Uh seruuuu!!

Aku tertawa cekikikan tanpa bisa berhenti hingga dia melepas jilbab besarnya dan melemparnya ke lantai, dia mengambil sapu dan dengan ganas memukulkan sapu itu ke atas jilbab besarnya. Aku berlari berusaha menghindarinya tapi sia-sia, jilbab itu terlalu besar bagiku hingga aku pusing dan pengap di dalamnya. Akhirnya aku terpukul oleh sapunya, aku pusing dan memuntahkan cairan hijau ke jilbabnya, ia memasukanku ke dalam plastik.

Aku menangis dan berpikir bahwasannya aku tidak akan bisa lagi mendengar bacaan al-Qur’an, senyum manis, kelembutan dalam perkataan dan tampilan anggun dari Salsa. Aku meminta kepada Tuhan  seperti  yang dilakukan Salsa setiap malam. Aku berkata pada Tuhanku yang entah aku tak tahu siapa Dia. Aku meminta kepada-Nya pertolongan agar aku selamat dan bisa mendengar bacaan al-Qur’an Salsa. Aku sudah pusing dan kehilangaan oksigen. Hingga aku mendengar suara lembut itu.

“Tunggu, akan kau bawa ke mana tokek itu Fit?” tanya Salsa.

“Akan kubuang tokek sialan ini ke sungai agar dia tahu rasa, seenaknya aja jatuh di atasku,” jawab Salsa.

“Jangan! Jangan lakukan itu! Berikan plastik itu kepadaku,” kata Salsa sambil merebut kantong plastik yang berisikan aku.

Aku senang Salsa memintaku.

“Untuk apa?” tanya Fitri.

“Akan kulepas dia keluar pondok, tapi jangan menyiksannya apalagi tadi kau sudah memukulnya.”

“Tapi dia tadi sudah berani menggangguku,” jawab Fitri.

“Iya aku tahu, tapi kamu sudah memukulnya, itu sudah cukup, lagian apa kamu tahu itu tadi niatan dia untuk mengganggumu atau dia tidak sengaja terpeleset?” tanya Salsa yang tidak dijawab oleh Fitri.

“Tidak tahu kan, atau nanti kamu akan terus menyiksanya hingga mati dan berdosa karena membunuh hewan yang tidak berdosa,” kata Salsa.

“Tidak, Salsa. Aku memang sengaja melakukannya, karena aku benci padannya. Tapi, sudahlah jangan didahas, aku sudah tak tahan lagi di dalam plastik pengap ini,” kataku yang tak didengar oleh siapapun.

Salsa membuka plastik itu. Aku dikeluarkannya perlahan dan ditaruhnya di atas pohon. Dia tersenyum ke arahku dan pergi meninggalkanku. Aku tersenyum dan berterimakasih pada Tuhan. Seperti yang suka dilakukan Salsa. Aku senang bisa selamat walau aku ada di luar kamar bahkan di luar pondok pesantren, tapi tak masalah. Toh aku seekor tokek yang bisa merayap dan berjalan menyelinap di antara dua celah genting di atap dan menuju kamar Salsa untuk melihat senyumnya dan mendengarkan suara bacaan al-qurannya.

Aku meminta kepada Tuhanku lagi untuk menjauhkan si jilbab besar menyebalkan itu dari Salsaku yang baik hati. Ternyata Tuhan itu baik. Aku tak tahu siapa Dia dan aku tak mengenal-Nya, tapi Dia mau menolongku, jadi ini juga alasan Salsa selalu meminta kepada Tuhannya. Apakah Tuhanku sama dengan Tuhan Salsa? Aku tak tahu, tapi aku berharap Tuhanku sama dengan Tuhannya.[]

*Retna Mega Kartika, lahir pada 11 Mei 2005, di desa Randulanang, kecamatan Jatinom, kabupaten Klaten, provinsi Jawa Tengah. Saat ini Mega sedang menimba ilmu agama di PP. Fadlun Minalloh, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Posting Komentar untuk " APA TUHAN KAMI SAMA?"