Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

DOAKU UNTUK MEREKA

0 Pembaca

Oleh: Ridwan Maulana

(Peserta Lomba Menulis Cerpen Hari Santri Nasional 2020)

“Sebenarnya gimana sih itu anaknya. Setiap hari di rumah kita terus, nggak pernah pulang. Sudah dua minggu ini, Le. Apa orangtuanya itu nggak nyari atau gimana sih? Apa dia malah nggak punya rumah? Itu lho, bapakmu sama kakakmu sampe nggak tahan ngeliat orangnya tiap hari di rumah terus nggak pergi-pergi, bahkan sama sekali nggak keluar dari kamarnya Yusuf. Sebenernya kalo masalah keberatan atau enggak, Ibu tuh tidak keberatan. Dia kalau butuh makan, Ibu juga kasih makan kok. Tapi, masalahnya itu tetangga. Nggak enaklah, kalo dilihat sama tentangga-tetangga.’

“Tiap hari main ke rumah kita. Orang-orang tidak tau dia siapa, rumahnya mana, anak siapa, orang bener atau bukan, dan banyak lagilah pokoknya. Dia kan juga bertato. Ibu itu nggak enak sama bapakmu. Kamu juga tahu sendiri kan, bapakmu itu siapa dan jadi apa di masyarakat? Bapakmu itu orang yang dianggap tahu dan lebih paham dalam hal agama. Bapakmu itu salah satu orang yang dijadikan panutan dan rujukan dalam hal-hal agama di masyarakat. Masak tiap hari orang-orang yang datang ke rumah kita seperti itu. Masak anaknya main sama orang-orang yang nggak bener,” kata Ibu Ridwan.

“Iya, Buk. Ridwan juga paham. Tapi, Ridwan juga kasian sama mereka. Pokoknya yang penting dikasihani ajalah mereka, teman-teman Yusuf. Mereka itu bukan orang-orang jahat, bukan orang-orang hina seperti yang ada di pikiran-pikiran orang pada umumnya. Menurutku, semua orang selama ini salah menyikapi orang-orang seperti itu. Setiap melihat orang-orang seperti teman-teman Yusuf, pasti mereka udah samapi beranggapan negatif. Wah, dasar preman! Wah, dasar bajingan! Wah, dasar orang tak berpendidikan! Ngapain hidup kok jadi orang yang nggak bener segala! Tubuh kok malah dikasih tato segala! Lidah kok dikasih tindik segala! Telinga kok harus dikasih persing segala! Rambut kok pake dikasih warna-warna segala! Hamil kok diluar nikah! Masih muda kok udah main-main sama seks! Sukanya kok nyakitin orang yang nggak bersalah! Sukanya kok tempramen, dikit-dikit udah kaya psikopat! Masih muda udah mabuk-mabukan, sama ekstasi lagi! Ya pokoknya gitulah, Buk. Kenapa sih, orang-orang memandang mereka dengan kebencian, kemurkaan, dan kekejian—hingga rasanya ingin memusnahkan mereka dan menjauhkan mereka dari kehidupan. Begitu egoisnya mereka, Buk. Kenapa ketika melihat orang-orang seperti itu mereka harus membencinya—hanya karena buruknya kepribadian mereka pada saat itu. Mereka tidak memikirkan kenapa dan bagaimana mereka bisa memiliki kehidupan yang menjadikan mereka memiliki kepribadian itu. Padahal orang-orang seperti itu bukanlah harus dibenci dan dijauhi, apalagi dimusnahkan. Melainkan, kita dekati, kita kasihi, kita sayangi, kita asuh, dan kita kasih didikan-didikan—tentang akhlak, masa depan, tanggung jawab, sopan santun, kasih sayang, dll—agar mereka bisa sama dan serasi apabila hidup bersama-sama dengan masyarakat yang pernah duduk di bangku pendidikan sekolah, maupun pesantren,” kata Ridwan kepada Ibunya.

“Sekarang gini. Itu tuh Si Marwan. Yang katanya dari kemarin menginap di rumah kita beberapa hari, bahkan beberapa minggu itu. Dia bisa sampe kayak begitu—jadi anak liar, nggak pernah ada di rumah, adanya cuma keluyuran terus, hidupnya penuh miras dan ekstasi, tubuhnya penuh tato sampe ke muka-mukanya, nggak kenal yang namanya agama apalagi solat, dsb—itu kronologinya kayak gini. Dia sekarang hidup sebatangkara. Persisnya emang aku kurang tahu, Buk. Tapi yang jelas kurang lebih begini. Kedua orangtuanya sempat mengalami cekcok rumah tangga yang agak lumayan parah. Hingga pada suatu hari kedua orang tua Marwan pisah rumah—mereka punya rumah banyak.’

“Semenjak itu Marwan tak sudi lagi bertemu dengan mereka. Marwan pergi dari rumahnya. Dia menjalani hidupnya dengan sebatangkara di salah satu kos-kosan orangtuanya yang sudah beberapa tahun kosong tidak dihuni oleh siapapun. Singkat cerita. Beberapa tahun kemudian tiba-tiba kos-kosan tersebut dijual oleh orangtuanya. Tamatlah Si Marwan. Dia tidak punya tempat tinggal. Tentang uang hasil penjualan kos-kosan itu, separuh dari hasil penjualan oleh Ibunya diberikan ke kakak perempuan Si Marwan dan separuh hasilnya seharusnya adalah hak Marwan, tapi tak sepeserpun Marwan menerima hasil penjualan tersebut. Entah tujuan Ibunya Marwan apa aku tidak tahu. Yang jelas aku tak sanggup membayangkannya. Begitulah kira-kira kronologinya hingga sekarang Marwan bisa sampai rumah kita, Buk,” kataku lagi kepada Ibu.

“Ya begitulah, Buk, intinya. Semua orang-orang hingga sampai seperti itu, pasti punya latar belakang—yang mendororong dan menyudutkan mereka hingga mau tak mau, ya,  jadilah mereka seperti apa yang kita lihat seperti sekarang ini. Kalo tahu, Buk. Temen yusuf yang satunya, namanya Ocit. Dia sempet satu sekolah sama anak tetangga sebelah. Dulu saat dia masih sekolah nakalnya minta ampun. Siapa-siapa ditantang duel dan dihabisin sendiri sama dia. Dulu, pernah suatu hari, di sekolah dia kena masalah. Hingga dia dipanggil ke ruang BK. Dia disidang langsung oleh kepala sekolanya, sendirian. Singkat cerita, pada saat sidang bapak kepala sekolah berada pada tingkat emosi dan kemarahan yang sangat tinggi. Kata-kata yang keluar dari mulutnya tak terkontrol tanpa sadar. Seakan-akan bapak kepala sekolah tersebut mengeluarkan ucapan dengan kata-kata tak berperikemanusiaan. Kamu jadi anak kok kalau diatur susahnya minta ampun, Le! Kamu tahu sapi ndak, Le?! Sapi saja, makhluk yang tidak berakal masih bisa diatur kok, masak kamu tidak. Sebenernya kamu itu anak apa to, Le!? Anak sapi po?! Si ocit terperangah kaget matanya melotot mendengar ucapan bapak kepala sekolah yang mengejutkan itu. Si Ocit sangat marah mendengar itu. Dia sangat tidak terima orangtuanya disama-samakan dengan hewan, dengan sapi. Seketika itu Ocit berdiri dari kursi yang didudukinya. Meja kaca di depannya dihantamnya keras sekali hingga pecah. Meja itu hancur menjadi pecahan-pecahan kaca yang berserakan. Tanpa berpikir panjang Ocit mengambil pecahan kaca sebesar arit. Dihantamkan ke kepala bapak kepala sekolah tersebut, ditancapkan di pergelangan tangan beliau dan ditarik sampai lengan bagian atas. Kaca tersebut tajam sekali. Sekujur tubuh bapak kepala sekolah berlumuran penuh darah. Setelah itu bapak kepala sekolah dilarikan ke rumah sakit. Akhirnya sekarang tubuh bapak kepala sekolah tersebut dipenuhi jahitan,” cerita ridwan kepada Ibu.

“Nah, dari cerita Si Ocit  tadi juga ada latar belakang yang mempengaruhi, Buk.”

Bapak Ocit pergi meninggalkan Ocit sejak lama. Tak sekalipun Ocit tahu siapa bapaknya, seperti apa dia, dan di mana dia. Tak sedikitpun belaian kasih sayang dia dapatkan dari bapaknya. Dia merasa tak punya siapa-siapa kecuali Ibunya. Dia memendam kemarahan yang sangat besar kepada bapaknya sejak dulu. Sungguh bajingan orang yang yang telah berani-beraninya menghamili Ibuku dan lari dari tanggung jawabnya. Aku dijadikan korban olehnya sebagai hasil dari main-main dengan seks yang sebatas memenuhi hasrat birahi hewaninya. Dia menikahi Ibuku hanya untuk melegalkan hubungan seksnya dengan Ibuku. Setelah itu dia pergi meninggalkan Ibuku. Ibuku dia anggap hanya segumpal keratan daging yang mempesona dan menggoda untuk dikawini. Dikira Ibuku tidak punya hati. Dia begitu teganya tidak memikirkan perasaan Ibuku akibat kelakuannya. Coba bayangkan betapa sakit hati Ibuku, begitu kecewanya Ibuku dengan pengkhianatannya, begitu berat Ibuku menjalani hidup dengan memikul tanggungjawab seorang pengecut yang tak bertanggungjawab, membanting tulang dengan tubuh lemahnya demi menafkahi hidupnya dan anaknya, sendirian. Hingga pernah suatu saat dia memiliki niat akan membunuh bapaknya apabila kelak dia sempat bertemu dengan bapaknya. Baginya tak akan ada ampun bagi siapapun yang berani-berani mengusik dan menyakiti hidup Ocit dengan Ibunya. Ya, pokoknya gitulah, Buk. Masih banyak lagi temen-temen Yusuf yang seperti itu,” cerita ridwan lagi kepada Ibunya.

“Buk. Aku punya cita-cita yang besar sekali. Cita-citaku cuma satu. Jadi orang yang terpelajar. Jadi orang yang sukses. Jadi orang yang kaya raya. Aku ingin kuliah di jurusan sosiologi. Aku ingin bisa menjadi orang yang mudah bermasyasakat dan bergabung dengan siapapun. Aku ingin mencari celah-celah jalan untuk masuk ke lingkungan-lingkungan masyarakat yang seperti mereka mereka di luar sana. Lalu aku akan masuk ke lingkungan tersebut. Aku bergaul di situ. Aku bermasyarakat di situ. Aku akan merangkul mereka dengan kebaikan-kebaikan yang akan aku biuskan di aliran-aliran darah kebudayaan mereka. Mungkin aku juga akan memberikan doktrin-doktrin ajaran agama di kehidupan mereka, dengan perlahan-lahan. Aku ingin menghidupi dan menampung mereka dari segala keterlantaran mereka oleh nasib-nasib mereka yang kurang beruntung.’

“Entah terlantar dari kasih sayang orangtua, keharmonisan keluarga yang sempurna, perlakuan yang sepantasnya, maupun keterlantaran dari kecukupan bermacam kebutuhan-kebutuhan hidup, dan sebagainya. Aku ingin menjadi perantara Allah sebagai petunjuk mereka dan penolong keseimbangan kehidupan mereka. Dengan aku punya usaha besar, restoran misalnya, lalu aku akan jadikan mereka menjadi pegawai-pegawai restoranku. Aku akan berikan pekerjaan kepada mereka dengan tidak terlalu berat agar tidak mendapatkan pukulan keras dari kerasnya kehidupan di zaman ini yang umumya dirasakan oleh banyak orang. Gaji akan tetap aku berikan dengan standar agar kebutuhan-kebutuhan hidup mereka tetap tercukupi seperti umumnya. Aku akan memberikan tempat tinggal kepada mereka yang tidak memiliki tempat tinggal.’

“Aku akan menjadikan mereka menjadi keluarga bagi mereka yang tidak memiliki keluarga. Aku akan berikan mereka fasilitas-fasilitas pendidikan. Formal maupun non formal. Umum maupun keagamaan. Agar mereka juga memiliki tatakrama dan sopan santun. Agar mereka tidak ditindas lagi dan dihina lagi. Terutama juga kepada putra-putra keturunan mereka yang kelak akan menjadi satu-satunya harapan yang akan mereka jadikan sesuatu yang mereka banggakan di masa depan. Tentunya juga, agar mereka mengenal yang namanya Tuhan. Dan kedepannya di dalam kehidupan mereka, mereka akan tahu bahwasannya semuanya yang ada di dunia ini tempat kembalinya juga akan ke Tuhan lagi—termasuk diri mereka. Selanjutnya, mereka akan kuberi semangat dan kubantu membangun percaya diri untuk menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka tak seburuk dan sehina seperti yang mereka kira selama dan mereka juga mampu mencapai pada posisi hingga sampai titik ini, bahkan lebih,” cerita Ridwan lagi kepada Ibunya.

Sejak saat itu Ridwan selalu giat dalam belajarnya dan penempuhannya dalam segala hal yang menjadi jalan pencapaian cita-citanya. Dia memiliki satu semboyan dalam hidupnya Aku ingin terbang dan melihat serta mencari manasaja tempat yang harus dituruni dan siapa saja orang yang harus ditolong, lalu aku akan turun dan menolong mereka. Dan doaku akan selalu untuk mereka.[]

Wonokromo, Bantul, 20 November 2020


Biodata Penulis:

*Ridwan Maulana, lahir pada 19 November 2002 di Sleman, D.I.Yogyakarta. Sekarang Ridwan sedang menimba ilmu agama di PP. Fadlun Minalloh, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta.


Posting Komentar untuk " DOAKU UNTUK MEREKA"