Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dosa Itu Seperti Titik Hitam

0 Pembaca

Oleh: Eva Anastian

(Peserta Lomba Menulis Cerpen Hari Santri Nasional 2020)

“Kyai, sandal saya hilang di masjid!” kata seorang santri sambil menenteng satu sandal, sedang kakinya berjinjit tanpa alas kaki. 

“Sarung saya hilang di jemuran!” sahut santri lain yang berdiri di bawah jemuran.

“Seragam saya ditukar orang!” santri yang bertubuh paling besar turut mengadu.

Begitulah hebohnya para santri saban hari di sebuah pondok pesantren kecil milik Kyai Aji. Maklum saja, santri yang menimba ilmu di sana kebanyakan adalah anak-anak kecil yang masih duduk di madrasah setara dengan sekolah dasar. Tiada hari tanpa santri yang mengadu kehilangan barang. Kendati demikian, Kyai Aji tak pernah sedikit pun marah. 

Seperti pagi itu, ketika Kyai Aji tengah menikmati kopi hitam sebagai minuman wajibnya, anak-anak berteriak perihal barangnya yang hilang. Dengan segera Kyai Aji bangkit dari duduknya dan meninggalkan separuh kopi hitam yang belum sempat diminumnya. Bagi Kyai Aji, santri adalah urusan nomor satu. Apalagi santri yang terbilang masih kecil dan bahkan belum mampu mencuci bajunya sendiri. Saat dia keluar dari dalemnya, tanpa disadari seorang anak kecil telah berjongkok di samping pagar yang mengitari bangunan itu. Matanya awas menatap kepergian Kyai Aji. Dia menghitung setiap langkah kaki Kyai Aji. 

“Delapan ... sembilan ... sepuluh!” serunya dengan mengecilkan suara. 

Begitu sampai pada hitungan kesepuluh, kakinya mengambil langkah cepat menuju ke dalam dalem. Bangunan kecil yang menjadi ruang pribadi Kyai itu dimasukinya tanpa ragu. Kedua tangannya ditangkupkan, jari telunjuk dan jari jempolnya meniru bentuk pistol. Dia bergaya seperti detektif yang sedang menyelinap. Langkahnya pelan namun penuh keyakinan. Kepalanya celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Saat tatapannya sampai pada separuh kopi hitam di atas meja, dia langsung beraksi cepat meneguk kopi itu sampai habis. 

“Ah ... nikmat sekali kopi ini,” katanya sembari mengusap mulutnya hingga tak ada secuil serbuk kopi pun agar tak dicurigai. 

Seusai menghabiskan kopi Kyai Aji, anak itu segera meninggalkan dalem sebelum Kyai Aji kembali. 

Tidak butuh waktu lama, Kyai Aji dapat menyelesaikan masalah santrinya dengan adil. Santri yang kehilangan barang itu dimintanya untuk meminjam keperluannya dahulu pada santri lain. Tak lupa, Kyai Aji juga mengingatkan pada santrinya agar selalu menerapkan tata cara meminjam dengan benar agar tidak ada lagi santri yang merasa kehilangan. Semua santri kembali pada kegiatannya masing-masing. Termasuk dengan Kyai Aji, beliau juga menuju dalem untuk mengaji dan terlebih dahulu beliau akan menghabiskan kopinya. 

Tapi, begitu beliau masuk ke dalam dalem, kopi yang ditinggalkannya tadi sudah tak bersisa. 

“Seingatku, tadi masih ada separuh di sini,” gumamnya. 

“Mungkin orang tua ini lupa,” lanjutnya sambil terkekeh. 

Kyai Aji sama sekali tak mencurigai jika salah satu santrinya telah masuk dan menghabiskan kopi itu. Dia beralih mengambil Alquran di rak dan mulai mengaji. Huruf demi huruf dilafalkannya dengan penuh kaidah tajwid. Lantunan suara yang merdu dengan irama khas Kyai Aji membuat telinga siapapun yang mendengarnya merasa tenteram. 

Meskipun pada awalnya Kyai Aji tak begitu memperhatikan perihal separuh kopinya, namun kali ini dia benar-benar dIbuat bingung. Kejadian kopinya yang selalu habis saat ditinggal pergi barang sebentar itu terjadi terus menerus. Maka pagi itu, Kyai Aji sengaja meninggalkan kopinya yang masih utuh di dalam gelas. Dia pergi untuk mengurus santrinya. Seperti biasa, seorang santri yang mengintai dari samping pagar itu langsung masuk ke dalam dalem. 

“Kenapa kopi ini masih utuh?” tanyanya kebingungan. 

“Sudahlah, mungkin ini rezekiku,” katanya sambil tertawa kecil. 

Tanpa disadari, Kyai Aji telah berdiri di samping jendela dalem. Begitu tahu bahwa santrinya sendiri yang menghabiskan kopinya, Kyai Aji menggelengkan kepala dan tersenyum. Tapi, Kyai Aji sama sekali tak menghampiri atau memarahi anak itu. Dia kembali mengurus santrinya dan membiarkan anak itu menghabiskan kopinya. 

***

Surau telah dipenuhi puluhan santri. Mereka duduk berjajar di bawah temaram lampu yang menerangi serambi. Santri yang paling kecil duduk di barisan paling depan agar tak bergurau. Adapun santri yang sudah besar dan dua orang pengurus duduk di barisan paling belakang. Mereka menantikan Kyai Aji yang akan memberikan wejangan seperti biasa. Ketika Selasa malam tiba, mengaji kitab memang ditiadakan dan diganti dengan wejangan Kyai Aji. Sebagian santri merasa senang karena mereka tidak lagi pusing dengan setoran hafalan ataupun huruf pegon yang harus mereka baca dan pahami. 

Begitu Kyai Aji datang, semua santri melantunkan sholawat seperti penyambutan kedatangan Kyai pada umumnya. Seruan sholawat itu memenuhi sudut surau, membawa aroma kedamaian di dalamnya. Kyai Aji membuka wejangannya dengan memberi salam dan langsung dijawab oleh seluruh santrinya. 

“Ada kesalahan besar yang jarang disadari ketika menimba ilmu di pondok. Kesalahan yang sudah dianggap umum oleh sebagian besar santri,” kata Kyai Aji sambil memandangi santrinya. 

“Bukan meninggalkan shalat ataupun mencuri waktu di siang hari untuk berbuka puasa, melainkan mengambil sesuatu yang bukan milik kita tanpa izin, gasab. Seandainya dosa semacam itu tampak seperti sebuah titik hitam di tubuh kita, pasti sudah menghitamlah tubuh ini karena banyaknya dosa yang diperbuat,” lanjut Kyai Aji. 

Seluruh santri memperhatikan dengan saksama, wejangan Kyai Aji begitu sampai ke hati para santrinya. Namun, salah seorang santri yang duduk di barisan paling depan celingak-celinguk seperti mencari sesuatu. Dia memeriksa tangan dan kakinya berulang kali. 

“Tidak ada titik hitam,” gumamnya. 

Kyai Aji tersenyum melihat tingkah santri itu dan kembali melanjutkan wejangannya hingga selesai. 

          Seusai wejangan itu selesai, seluruh santri mengambil posisi duduk melingkar sesuai tim kamar masing-masing. Inilah saat yang ditunggu mereka, makan malam. Mereka tidak membawa piring, gelas, ataupun sendok. Hanya ada beberapa nampan di sana, satu nampan untuk sekelompok santri dalam satu lingkaran. Terlepas dari kesederhanaan tadi, mereka sangat menikmati makan malam bersama itu. Namun, santri yang celingak-celinguk tadi masih sIbuk memperhatikan tangan dan kakinya. Dia merasa waswas jika tiba-tiba muncul titik hitam di badannya.  

“Kenapa kau tidak makan, Nak?” Tanpa disadarinya, Kyai Aji telah duduk di sampingnya. 

“Saya takut, Kyai. Nanti jika titik hitam itu tiba-tiba muncul,” jawabnya dengan polos. 

“Kenapa harus takut? Bukankah kau tidak melakukan apa pun?” 

Santri itu terdiam dan menunduk. Dia tak berani menatap wajah Kyai Aji barang sedetik pun. 

“Maafkan saya Kyai, saya telah meminum kopi yang ditinggalkan Kyai. Saya tidak ingin tubuh saya menghitam,” jawabnya ketakutan. 

Kyai Aji terkekeh mendengar jawaban santrinya itu. Dielusnya kepala anak itu dengan lembut. 

“Sudah kumaafkan,” kata Kyai Aji sambil melebarkan senyumnya.[] 


*Eva Anastian lahir di Magelang, 6 Juni 2002. Tercatat sebagai siswi MAN 1 Kabupaten Magelang yang sudah menginjak tahun terakhir. Gadis dengan hobi menulis ini merupakan kontrIbutor terpilih dan telah menjuarai beberapa lomba cerita pendek yang diikutinya. Jejak bisa ditemukan di akun instagram @evaanaztian ataupun akun facebook Eva Anastian. 

Posting Komentar untuk "Dosa Itu Seperti Titik Hitam"