Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

HATIMU MASIH TERTIDUR, KAH?

0 Pembaca

Oleh: Qotrotun Nadia

(Peserta Lomba Menulis Cerpen Hari Santri Nasional 2020)

“Santri teladan dalam kompetisi pertama ini, jatuh kepada Kurnia Sari. Dimohon kepada ananda, untuk menaiki podium dan menerima penghargaan dari ketua asrama,” begitu pembawa acara mengumumkan. Dengan penuh riuh, semua santri bertepuk-tangan, memberi selamat kepadanya. Kurnia lalu maju, menaiki podium, dan menerima penghargaan dari ketua asrama pondok.

Betapa, pada saat itu hati Ikah bergetar, menginginkan dirinya berada di posisi Kurnia. Ia ingin membuktikan kepada teman-temannya, bahwa dirinya bisa. Ia berandai-andai, sesuatu yang tidak mungkin terjadi.

Setelah Kurnia turun dari podium, pembawa acara mengumumkan, bahwa akan ada kompetisi santri teladan yang kedua, yang akan diumumkan enam minggu lagi. Pada saat itu juga, andai-andai Ikah tadi, akan mungkin terjadi.

Sepulang dari acara, seperti biasa, Ikah membersihkan diri di kamar mandi sebelum tidur. Sebelum tidur juga, ia berencana untuk memperbaiki dirinya, membuat dirinya semakin rajin, sehingga ia bisa naik ke podium, dua bulan ke depan. Ia akan belajar sampai larut malam, bangun malam untuk tadarus dan sholat malam, berlaku baik kepada semua orang, dan lain sebagainya. Lama berandai-andai, tertidurlah ia dengan sendirinya.

Hari pertama setelah Ikah merencanakan sesuatu, buku-buku yang sudah lama tak disentuhnya hingga berdebu, kini disentuhnya lagi, dibawanya ke aula, dibersihkan, bahkan dibaca. Ia membacanya hingga halaman ke-4, pada bab ‘pembagian air’, kemudian membatasi dan menutupnya. Ia lalu membaca buku yang lain lagi, hingga ia tertidur ketika jam menunjukkan pukul 1 malam. 

Ia terbangun pada pukul setengah 3 malam. Ikah lalu menuju kamar mandi untuk sikat gigi dan berwudhu. Ia lalu menuju kamarnya, mencari rak bukunya dan mengambil al-Qur’an untuk dibawanya ke aula. Ia lalu memakai mukenanya yang belum ia kembalikan ke kamar seusai shalat isya’ berjamaah di aula tadi malam. Ikah shalat tahajjud empat rakaat, berdoa supaya ia terpilih menjadi santri teladan dua bulan mendatang, dilanjutkan tadarus sampai azan shubuh. Tak lupa, ia juga shalat sunnah qabliyah shubuh sebelum jama’ah dimulai. 

Ikah mengisi hari-harinya dengan belajar, salat sunnah, membaca, dan melakukan hal-hal baiknya di aula.

Sampailah minggu kedua. Ikah sudah mulai bosan dan lelah dengan kegiatan yang ditargetnya tepat dua minggu yang lalu. Ia sudah mulai meninggalkan kebiasaan bangun malamnya. Ia tetap bangun malam, tapi saat sudah mendekati waktu shubuh. Ia juga sering tertidur lebih awal pada malamnya sehinga target membaca kitabnya tak terpenuhi. 

Namun, ia lalu teringat akan cita-citanya untuk naik di podium, satu bulan setengah ke depan. Ia pun kembali memaksakan diri untuk melakukan lagi kebiasaan satu minggu lalu. Satu, dua, sampai tiga hari terlaksana. Namun setelahnya ia merasa tidak mampu lagi untuk melakukan itu semua.

Ikah berencana untuk istirahat sejenak dari kegiatan-kegiatan itu. Ia berencana, untuk tidak melakukan kegiatan itu semua selama tiga hari. Namun, hari keempat sampai kelima, ia malah tetap tidak melakukan kembali kegiatan itu. 

Tepat pada minggu keempat dari ia memulai targetnya. Ia membuat jadwal terbaru, yang menurutnya lebih ringan dari sebelumnya. Ia melakukan itu semua tepat seperti dalam jadwal, tanpa merasa keberatan. Minggu kelima, ia juga masih bertahan dengan jadwal barunya. Namun, pada awal minggu keenam, ia mulai menemukan ide kotor, dan ia lakukan juga ide itu. Setiap malam, ia akan tampak belajar dengan sangat fokus dan bersungguh-sungguh. Padahal, di dalam buku itu, terdapat buku cerita yang ia dapatkan dari perpustakaan desa sebelah pondok. Ia terus mengisi buku-buku pelajarannya dengan buku cerita, sampai pada minggu keenam. Minggu yang selama ini ia tunggu-tunggu.

Tibalah malam pengumuman santri teladan. Malam pembuktian baginya. Malam penghargaannya, malam kebahagiaan yang akan ia rasakan. Ia memakai baju terbaiknya, berdandan sebaik-baik rupa, dan bahkan berlatih tersenyum di depan kamera.

Tibalah waktu pengumuman itu. Ketua panitia, Ustadzah Nana, menaiki podium untuk membacakan hasil dari kompetisi santri teladan. Ikah semakin mendongak, semakin percaya bahwa dirinya akan dipanggil setelah itu.

“Santri teladan dalam kompetisi kedua santri teladan ini, jatuh kepada ananda Lailatul Muslihah. Dimohon kepada ananda, untuk menaiki podium dan menerima penghargaan dari ketua asrama.”

Saat itu juga, Ikah merasa patah, jatuh, dan hancur. Ia merasakan sakit hati yang begitu dalam, juga kecewa dengan dirinya sendiri. Ia mengira, ustadzah salah membacakan nama. Ia juga mengira, bahwa tulisannya tidak jelas, sehingga yang harusnya ‘Muslikah’ justru salah dibaca dengan ‘Muslihah’.

Laila berjalan ke depan untuk menaiki podium. Disertai tepuk tangan para santri yang meriah. Laila berfoto bersama ketua asrama, membawa piagam penghargaan dengan senyum indahnya. Hati Ikah menangis sejadi-jadinya melihat itu. Tidak matanya. Ia menahan tangis dari matanya jatuh. Ia tidak ingin orang-orang mengetahui, betapa kecewanya ia.

Selesai acara itu, Ikah langsung kembali ke kamar, membersihkan diri, shalat isya’, dan tidur sambil membuang air matanya yang sedari tadi ia simpan.

Keesokan harinya, ia memberanikan diri untuk ke kamar ustadzah, menjelaskan apakah santri teladan itu memang benar-benar Laila, dan bukan dia. Ataukah memang Ustadzah Nana salah membacakan nama?

“Assalamu’alaikum,” ia mengetuk pintu kamar ustadzah.

“Wa’alaikumsalam. Masuk.” Terdengar suara dari dalam menjawab salam darinya. Dengan sopan, ia lalu membuka pintu dan masuk ke dalam, menjelaskan apa yang ia pendam sedari tadi malam. Ia menanyakan, apakah santri teladan dalam kompetisi kedua ini benar-benar Laila, bukan dirinya.

Ustadzah Nana menegaskan lagi bahwa santri teladannya memang benar-benar Laila, bukan Ikah. Ia lalu menanyakan alasan, mengapa bukan ia yang menjadi santri teladan, melainkan Laila. Padahal, ia merasa lebih pantas daripada Laila.

Ustadzah Nana menjawab, “Hatimu masih tertidur ketika ngaji Pak Kiai, Kah.”


*Qotrotun Nadia, lahir pada 6 Maret 2006, di desa Ladang Panjang, kecamatan Sungai Gedang, kabupaten Muaro Jambi, provinsi Jambi. Saat ini Nadia sedang menimba ilmu agama di PP. Fadlun Minalloh, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta.

Posting Komentar untuk "HATIMU MASIH TERTIDUR, KAH? "