Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kota Santri Penata Hati

0 Pembaca

 

Oleh: Anggi Sukmaning Putri

(Peserta Menulis Cerpen Lomba Hari Santri Nasional 2020)

Keluarga Bapak Ismanto dan Ibu Hazimah adalah keluarga yang sederhana. Mereka tinggal di daerah pegunungan yang jauh dengan hiruk pikuk perkotaan. Sebelah kanan rumah terdapat sawah yang luas membentang, sebelah kiri hutan dengan semak belukar. Bapak Ismanto dan Ibu Hazimah Memiliki dua putri yang cantik, putri sulungnya bernama Herlina Mayangsari dan putri bungsunya Anum Fathiyah. Saat ini Herlina sudah kelas tiga SMA dan Anum kelas tiga SMP. Dengan penuh harap mereka berjuang untuk melangkah agar menjadi lebih baik di masa depan. 

Di sepertiga malam Anum masih tertidur dengan lelapnya. Samar-samar ia mendengar suara tetehnya melantunkan ayat Alquran. Anum membereskan tempat tidur dan dengan langkah gontai menuju tempat wudhu karena sebentar lagi subuh. Ibu Hazimah yang sibuk dengan adonan bakpaonya segera persiapan salat subuh setelah mendengar azan berkumandang. Satu keluarga tersebut sholat berjamaah di mushalla depan rumah. Usai salat Lina dan Anum membantu uminya mengukus bakpao seperti biasa untuk dititipkan di warung dan kantin sekolah. 

“Kalian siap-siap untuk berangkat sekolah ya, Nduk! Biar umi siapin sarapan.” 

Lina langsung menyahut.... 

“Enggak, Umi. Lina udah siapin jadwal dan seragamnya semalam, biar Nduk Anum yang mandi dulu dan persiapan. Lina mau bantuin Umi siapin sarapan.” Anum langsung paham dan pergi bersiap-siap. 

Burung bercicit dengan merdunya, angin sepoi-sepoi menusuk kulit Lina dan Anum, membawa kedinginan begitu juga kesejukan khas pegunungan. Anum mengeluarkan sepeda lalu mengelapnya, setelah dipanggil Umi untuk sarapan Anum langsung masuk ke dalam dan sarapan bareng. 

Pukul 06.25 Teh Lina mengajak Anum berangkat karena takutnya kesiangan. Mereka tidak lupa berpamitan dengan umi dan abi, dengan penuh kasih sayang umi mencium kening kedua putrinya. Anum dan Lina membawa bekal makanan yang sudah disiapkan umi karena sorenya ada les. 

Lina mengayuh sepedanya dan Anum membonceng di belakang sambil membawa bakpao titipan. Kedua saudara tersebut berkali-kali menundukkan kepala mereka setiap melewati petani yang akan pergi ke sawah. Sampai warung pertama, Anum turun menitipkan bakpao dan lanjut ke sekolah. Di sepanjang jalan mereka bersenda gurau hingga tak terasa sampai depan SMP Anum. 

Anum bersalaman dengan Teh Lina. Gadis itu melangkah penuh semangat memasuki halaman sekolahnya. Di sana tampak petugas kebersihan menyapu dedaunan kering. Anum pergi menuju kantin untuk menitipkan bakpao. Anum tidak merasa malu karena kebiasaanya setiap hari begitu, dan itu juga perintah uminya jadi harus dilaksanakan dengan senang hati. Kan seneng juga bisa membantu umi. 

Anum masuk kelas bersalaman dengan teman-temannya lalu duduk di bangku paling depan, satu meja dengan Najla.

“Selamat pagi anak-anak,” sapa Bu Suci guru matematika 9A, senyum cerah terbentuk dari bibir tipis merah jambunya. 

Siswa 9A dengan saksama mendengarkan Bu Suci yang mulai menerangkan materi aljabar. Sesi tanya jawab dipersilahkan bagi siswa kelas 9A, hingga nada alarm pergantian jam berbunyi keras sampai kelas paling ujung. 

Anum keluar kelas setelah selesai mengikuti Les Bahasa Inggis. Pada sore itu udara terasa dingin disertai hujan lebat, untunglah Anum membawa jaket yang dapat dipakainya. Anum berjalan menuju ruang tunggu. Ketika Anum duduk datanglah seorang anak perempuan siswa Kelas 9B. 

“Bolehkah saya duduk di sini?” 

“Oh tentu boleh, silahkan!” Anum menjawab pertanyaan anak tersebut sambil menyunggingkan senyum. 

Mereka berdua menunggu jemputan sampai anak 9B pamit karena sudah dijemput lebih dulu.

“Teh Lina mana ya? Kok belum sampai juga?” gumam Anum. 

Di tengah hujan deras nampak dari kejauhan seorang perempuan mendekat ke arah ruang tunggu di mana Anum duduk, terlihat sedikit rok warna abu-abunya karena tubuhnya dibalut oleh mantel plastik. 

“Maafin Teteh ya Nduk, Teteh jemputnya telat ya, sampai Nduk Anum nunggunya lama.” 

Sembari naik sepeda, Anum menjawab, “Ngga masalah, Teh. Tadi aku ada temennya nunggu juga dia baru saja pulang.” 

Padahal kenyataannya Anum menunggu lama sendrian setelah anak 9B dijemput 20 menit yang lalu. Ini kebiasaan Anum agar tetehnya tenang dan tidak kepikiran. 

Malam hari, di desa Anum terjadi pemadaman listrik. Anum menyalakan petromax untuk ditaruh di ruang tengah dan Lina menyalakan semprong untuk belajar berdua dengan Anum. Anum tahu betul perjuangan tetehnya yang belajar keras agar setelah lulus bisa menuntut ilmu di kampus UIN impiannya. Anum berharap dan mendoakan agar tetehnya nanti keterima di UIN, bahkan Anum nantinya juga menginginkan kuliah di UIN. 

Malam kian semakin larut, hujan pun semakin lebat. Bahkan suara burung hantu tak lagi ada. Anum dan Lina segera tidur dengan lelap. 

***

Matahari mulai menampakkan sinarnya di ufuk timur. Lina mengatarkan Anum sampai sekolah tiga puluh menit sebelum bel masuk berbunyi. Anum kebetulan tidak membawa bakpao karena uminya sedang tidak bikin. Anum menatap gedung sekolahnya dengan senyum mengembang hingga petugas kebersihan bertanya. 

“Tumben, Neng, udah datang sepagi ini?” 

“Iya dong, mang, hari ini kan saya ada piket,” sambil nyengir Anum pergi meninggalkan mang Baha. 

Tepat di halaman sekolah, Anum bersalaman dengan Ibu guru yang sudah datang lebih pagi darinya. Anum menyusuri lorong, lorong yang diapit kelas-kelas itu cukup panjang karena ada banyak kelas di sekolah ini. Nampaknya di dalam kelas sudah ada Azizi menyapu kelas yang kebetulan jadwal piketnya sama dengan Anum. Anum segera menaruh tasnya tanpa melepas jaket lalu mengambil sapu dan membantu Azizi sebelum bel masuk berbunyi. 

Pak Lukman memasuki ruangan Kelas 9A dan siswa yang tadinya pada ramai dengan obrolan langsung diam seketika. Tanpa belas kasihan, guru Kimia yang disiplinnya bukan main itu memberikan tes mendadak. Hanya diberikan 3 Soal, tapi membuat keringat dingin bercucuran. Anum yang bingung dengan Mata Pelajaran Kimia langsung mengerjakan sebisanya sebelum Pak Lukman mengambil lembar jawaban gadis itu. 

Anum memberikan jawaban nomor 2 kepada Najla. Parahnya, Anum tidak dikasih tau apa-apa sama Najla. Untungnya, Anum masih ingat sedikit-sedikit materi Atom yang pernah diajarkan Pak Lukman sebelumnya. 

Bel Istirahat berbunyi nyaring. Anum dan teman-teman yang biasa bersamanya mengurungkan niat ke kantin. Mereka memutuskan untuk mengambil posisi duduk di lantai paling belakang Kelas 9A dan makan bekal dari rumah bersama. Di tengah keseriusan makan, mereka saling mengobrol. 

“Setelah dari SMP ini, kalian mau lanjut kemana?” Afrin membuka bicara sambil mengunyah kerupuk. 

Wajar aja Afrin menanyakan ini kepada sahabatnya yang 3 tahun menemaninya dan sebentar lagi akan berpisah karena kelulusan. Pokoknya momen mereka bersama sepanjang hari ini akan segera berlalu.

“Aku disuruh ayah sekolah SMA sambil mondok,” Najla menjawab dengan nada lesu. 

“Apalah dayaku yang akan mengambil Jurusan Teknik Elektro di SMK. Padahal belum ngerti sih, tentang seluk beluk Jurusan Teknik Elektro,” Ferlita yang duduk di antara Afrin dan Anum merespon dengan suara datar.

“Sama dong dengan Azizi, dia juga katanya mau ambil Teknik Elektro. Nanti kamu nanya-nanya ke dia aja.” Sahut Najla. 

“Wah, seriusan? Siap dah nanti aku nanya ke dia pastinya.” 

Najla yang memperhatikan Anum langsung bertanya dengan ekspresi kepo, “Nah dirimu mau lanjut ke mana Num, nanti?” 

Anum menjawab pertanyaan Najla dengan dahi sedikit dikerutkan, “em.. Aku belum tau sih mau lanjut ke mana. Tapi pokoknya nantinya aku pengen kuliahnya di UIN biar sama seperti Teh Lina.” 

Obrolan mereka terhenti setelah melihat Bu Laeli guru PAI memasuki ruangan kelas. Semua siswa bingung karena hari itu tidak ada mata pelajaran PAI, tetapi ada guru PAI memasuki ruangan Kelas 9A. Dengan suasana gemuruh karena bingung maka Bu Laeli menjelaskan bahwa maksud kedatangannya yaitu untuk memberikan Kartu Peserta Tryout untuk minggu depan dan memberi tahu bahwa bulan depan sudah Ujian Nasional. 

“Baik, Bu. Terimakasih, Bu!” dengan kompak siswa-siswi di ruangan itu memberikan respon. 

Bu Laeli meninggalkan ruangan kelas setelah menutupnya dengan salam. 

Lagi-lagi Anum dan Teh Lina pulang kehujanan. Namun hari itu tidak mati listrik seperti semalam. Anum sibuk mengerjakan tugas, Umi sibuk menjahit baju dengan hati-hati, Abi mendengarkan musik keroncong di radio kesayangannya, dan Herlina sibuk membaca buku berjudul “Bedah Soal UMPTKIN” yang habis dibelinya tadi sepulang sekolah dengan uang tabungan yang ia kumpulkan. 

Di tengah kesunyian malam Herlina mengabarkan bahwa sebentar lagi dia Ujian Nasional dan tak lama lagi UMPTKIN. Anum yang terlalu fokus dengan tugasnya langsung mengangkat kepala, “Eh, serius Kak? Sama dong, aku minggu depan juga udah Try Out. Lalu bulan depan udah Ujian Nasional juga.” 

Abi langsung mengurangi volume suara radio. 

“Kalian berdua putri-putri Abi yang semangat belajarnnya! Kalian pasti memiliki tujuan masing-masing. Jangan sombong jika menjadi tinggi dan jangan berkecil hati jika harapan kalian tak sesuai keinginan, untuk masalah biaya biar Abi dan Umi, ya, yang memikirkan. Tugas kalian hanya belajar biar nanti sukses dunia maupun akhirat.” 

Herlina melepas mukena setelah usai Salat Dhuha. Gadis itu menyusuri jalan setapak ke ladang belakang rumah sambil membawa sepiring kupasan mangga yang sudah dicuil dan akan dimakan bersama dengan adik satu-satunya. Anum terlihat menikmati pemandangan sembari di kursi bambu bawah pohon Waru. 

“Nduk, Teteh nggak lama lagi udah Ujian UMPTKIN. Minta doa bener-bener ya Nduk. Teteh udah deg-degan.” 

“Iya dong Teteh, pasti Anum doain Teteh kok. Apalagi Anum juga pengen masuk UIN.” Anum tersenyum tipis sambil memasukkan secuil mangga terakhir ke mulutnya dan tiba-tiba Anum menyingkirkan piring kosong tersebut. 

“Gini aja, Teh. Mumpung masih pagi dan udara sejuk kita doa sama-sama aja yuk buat kelancaran kita ujian.” 

Tanpa berpikir panjang Herlina mengikuti kemauan Anum. Mereka terlentang tidur di atas kursi bambu sambil berpegang tangan dan melantunkan doa secara bergantian di tengah kesejukan angin daerah pegunungan. Bahkan embun pagi berkali-kali menetesi pipi Anum dan Herlina. Herlina dan Anum nampak kusyuk dalam lantunan doa mereka. Bahkan ada rasa kesedihan juga di benak masing-masing, bahwa setelah mereka lulus SMP dan SMA pasti waktu yang disita untuk bersama tidaklah banyak.

Bulan demi bulan silih berganti. Abi pagi-pagi bersiap untuk mengantarkan Herlina dengan sepeda ontelnya. Herlina mencium tangan kanan Umi dan mengecup kening adiknya lalu meminta doa kepada mereka berdua agar ujiannya di permudahkan dalam mengerjakan ujian. 

Herlina berangkat dengan abinya menuju UIN. Sesampainya di tengah ramainya kota, Herlina menepuk bahu Abinya. 

“Eh, sebentar Bi!” 

Herlina turun dari sepeda abinya, lalu menghampiri seorang nenek penjual tempe di pinggir jalan. Nampaknya Lina akan memberikan sedekah untuk nenek itu. Lina berpamitan dengan nenek itu lalu pergi bersama Abinya melanjutkan perjalanan ke UIN. 

Herlina berjalan dengan perasaan deg-degan ketika langkahnya memasuki gerbang UIN, kampus yang telah lama ia dambakan. Herlina pamit pergi meninggalkan Abi untuk mencari ruang ujian agar tidak terlambat. Dari jarak 5 meter nampak seorang perempuan dengan gamis dan jilbab biru dongkernya mendekat ke arah Herlina. 

“Perkenalkan, namaku Herlin.” 

Dua gadis itu langsung berjabat tangan. 

“Hai Herlin, namaku Herlina. Panggil aja Lina.” 

Keduanya nampak sedikit terkekeh ketika mengetahui nama mereka hampir sama. Bahkan ruangan ujian pun ternyata juga sama. Keduanya berjalan menaiki tangga ketiga menuju ruang Lab MIPA dan segera mencari tempat duduk mereka karena sebentar lagi ujian dimulai. 

***

Hari Rabu adalah hari penentuan kelulusan Herlina. Tentu ia mengharapkan portal warna hijau berisikan tulisan selamat. Ia nampak gelisah sambil memegang erat handphone milik uminya. 

“Teh Lina jangan terlalu gelisah dong! Anum yakin kok, Teh Lina pasti lulus.” sapa Anum di balik jendela kamarnya. 

Tepat jam 13.00, Lina mulai menuliskan nama dan memasukan kode password ujian dengan teliti. Seketika Lina langsung lemas bersandarkan kursi rotan peninggalan kakeknya. Umi yang mengetahui hal itu langsung menaruh nampan berisi sayur dan menghampiri anak sulungnya. 

“Sudah ya, Nak, jangan sedih dong! Kan masih ada jalur mandiri, biar umi jual kalung umi untuk biaya ujian kamu. Dengan waktu yang tidak lama ini kamu belajar sungguh-sungguh ya. Manfaatkan waktu kamu sebaik mungkin!” 

Isak tangis Lina berlinang dipelukan wanita separuh baya ketika tahu uminya akan menjual kalung demi Lina bisa mengikuti Ujian Mandiri. 

Seminggu sudah waktu berlalu. Lina selepas salat Dzuhur langsung makan siang dan menenteng tas selempang kado ulang tahun Lina dari umi dan Anum, lalu bergegas pergi kembali ke UIN karena mendapat Sesi Tiga Ujian CBT 2. Sama seperti sebelumnya, ia diantar oleh abinya. 

Kenangan tentang teman ujianya yang bernama Herlin masih terngiang jelas saat Lina menaiki tangga. Namun sekarang sama sekali tidak menemuinya. Lina memasuki ruang ujian dengan jantung yang tentunya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Kali ini Lina berjanji tidak akan mengecewakan umi dan abi apalagi uminya telah menjual kalung demi Lina.

***

Sinar matahari menembus jendela kamar kedua gadis remaja itu. Mereka ngobrol berdua di kamar setelah dari subuh membantu uminya membuat bakpao. Sengaja pagi itu Lina mengajak Anum lari pagi, sekalian menitipkan bakpao ke warung-warung. Mereka memilih lari pagi berdua menyusuri kebun teh. Embun pagi dan hembusan angin sungguh membawa kenyamanan aktifitas Anum dan Lina. 

Tepat pukul 8 Lina mengajak adiknya pulang karena Lina akan salat Dhuha sekaligus membuka pengumuman kelulusan ujian CBT 2 yang ia tempuh lima hari yang lalu.

Sesampainya di rumah, jantung Lina kembali berdegup kencang. Padahal tadi sudah refreshing ke kebun teh dengan maksud biar tidak panik dan deg-degan, ternyata itu hanya sementara. Saat ini Lina menunggu jam 10.00 untuk membuka pengumuman kelulusan CBT 2. Anum yang ikut Herlina salat Dhuha sedari tadi hanya memperhatikan tetehnya yang panik bukan main tidak seperti tadi pagi. 

Anum menatap jam dinding kusam. 

“Teh, udah jam 10,00.” 

Mendengar pernyataan tersebut, Lina langsung menuliskan nama dan nomor ujiannya. Kali ini serasa hari bahagia sedunia jika Lina lulus, dan hari ini patah hati juga rasanya apabila mendapatkan portal warna merah seperti sebelumnya. Lina bingung harus berbuat apa jika hasilnya tidak diinginkan.

Ditekannya tulisan “LIHAT HASIL”. Menunggu sinyal yang masih berputar, Lina kali ini benar-benar penuh harap. Hasilnya sudah keluar namun dia tidak percaya, ditelitinya lagi datanya dengan muka yang semakin memerah dan mata sudah berkaca-kaca. Ternyata benar itu adalah data Lina, ia tidak bisa membendung air matanya dan langsung berlari ke kamar. Di situ Anum ketakutan berkecamuk perasaan sedih. Walaupun tetehnya belum memberi tahu, tetapi Anum yakin bahwa kali ini tetehnya mendapat portal merah lagi dan berisikan tulisan “SEMANGAT”. 

Hari sudah menjelang Maghrib. Namun Lina belum mau berkata-kata. Ia hanya keluar untuk salat setelah itu memasuki kamarnya dengan pintu terkunci. 

“Nak, keluar dulu, Nak! Makan! Kamu dari tadi belum makan. Masalah hasil jangan dibawa larut dalam kesedihan. Setiap umat manusia memiliki jalan kesuksesan yang berbeda. Kamu harus bangkit lagi, Nak! Umi tahu kamu kuat.” 

Di dalam kamar tidak ada suara yang menyahut. Anum memeluk erat lengan tangan kiri umi yang berkali-kali mengetuk pintu kamar tetehnya dengan berjuta rasa kekhawatiran. 

Selesai salat Isya, kali ini Herlina akhirnya mau keluar kamar dan menemui keluarganya di meja makan. Lina berjalan menuju kursi yang bersebelahan dengan umi. Air matanya masih mengalir. 

“Umi, Lina tidak lolos seleksi CBT 2. Padahal Lina kan udah berusaha dan berdoa. Dulu Lina tidak diterima di SMA pilihan Lina dan malah kelempar ke pilihan kedua. Sekarang malah Lina tertolak dari Kampus UIN yang bener-bener Lina harapin dan perjuangin. Umi kenapa hidupku begini ya? Serasa tidak adil, Umi.” 

Umi menyeka air mata putri sulungnya. 

“Husss, jangan bicara seperti itu! Umi tidak pernah mengajarkan kamu patah semangat, kan? Umi dan Abi mengajarkan kamu untuk selalu kuat menjalani hidup yang banyak rintangan ini. Apabila kamu mengalami kegagalan, bangunlah dan kembali kepada Allah! Apabila kamu berada di puncak kejayaan, tunduklah dan kembali kepada Allah!” 

Umi memeluk lembut putrinya lalu mengecup keningnya. Kali ini pandangan Lina tertuju pada Anum. 

“Nduk, kamu pengen keterima di UIN dan menuntut ilmu di sana, kan?” 

Anum mengangguk sembari mengunyah nasi. Teh Lina melanjutkan kalimatnya. 

“Nduk, nanti kamu sekolah di MAN aja dan tinggal di kota santri. Nanti kamu bisa mondok di situ sambil sekolah.” 

***

“Nduk, buruan Najla udah jemput!” teriak umi dari halaman rumah.

1 menit kemudian, muncullah Anum dengan mengenakan pakaian seragam biru putih. 

“Berangkat ke sekolah dulu ya, Umi!” 

Anum mencium tangan kanan uminya, begitu juga Najla. 

Anum berangkat sekolah pagi-pagi dijemput Najla. Kelas 9C kebetulan ada jadwal mengambil ijazah hari ini. Sehingga bisa mendaftar sekolah lanjutan lebih cepat. Mereka berangkat sekolah tidak tergesa-gesa. Karena Najla jarang sekali melawati jalan yang dilewati Anum sehingga ingin menikmati indahnya pemandangan. Karena terlalu asyik dengan keindahan alam hingga akhirnya mereka sampai di halaman sekolah. Najla memarkirkan sepedanya di paling ujung dengan rapi. 

“Rin, Anum dan Najla sudah sampai tuh.” Ferlita memberi tahu Afrin yang sedang sibuk berkaca. 

“Hey, Anum! Hey, Najla!” 

Begitu mendengar suara Afrin, mereka langsung mencari sumber suara dan mendekat. Keempatnya saling berpelukan bagaikan Teletubis, karena sudah lama tidak bertemu maka sejuta kerinduan hinggap di diri masing-masing. 

Saat sampai di depan rumah Anum, Najla langsung buru-buru pulang karena ada acara pernikahan kakak sepupunya. Padahal di benaknya ingin sekali mampir karena masih rindu dengan Anum yang mungkin besok akan jarang banget bertemu, apalagi Anum sudah bilang ke teman-temanya jika akan mondok nantinya. 

Anum membalas lambaian tangan sahabatnya, lalu masuk ke dalam rumah setelah Najla tidak lagi kelihatan batang hidungnya. 

“Assalamualaikum, Teh Lina. Ini ijazahnya sudah saya ambil.” sambil menunjukan ijazah, di situ sudah tertera bahwa nilai NIM Anum 35,00. 

“Baik, Nduk. Besok teteh datang ke kota santri sama ke MAN ya, buat daftar. Kamu istirahat aja di rumah sambil mempersiapkan barang yang nantinya mau kamu bawa ke pondok.” 

Siang itu matahari nampak terik. Anum menata barang-barang yang akan dibawa ke pondok barunya. Tentu ia sedih karena nantinya tidak satu atap dengan Umi, Teh Lina, dan Abi. Namun ini akan dia lakukan demi membuat orangtua bangga. 

Anum memasukan baju-bajunya satu-persatu ke dalam tas ransel yang biasa ia bawa ke sekolah, dari luar terlihat teh Lina sudah pulang. 

“Anum ambilin minum ya, Teh?” Tawar Anum yang melihat tetehnya nampak keletihan, apalagi sinar matahari benar-benar menusuk kulit. 

“Tidak usah, Nduk. Kamu lanjutkan beres-beres dulu, ya! Kata Pak Kyai besok kamu sudah boleh datang ke pondok.” 

Anum kemudian berbalik arah dengan perasaan sedikit sedih karena Teh Lina benar-benar mendorongnya agar tetap mondok. 

Hari ini adalah hari terakhir Anum melihat suasana desanya sebelum nanti pergi ke pondok. Tentu ia akan merindukan rumah dengan sejuta kenangan. Kalaupun pulang dari kota santri, pasti besok sudah berbeda cerita. Air mata Anum menetes mengkhawatirkan orangtua dan tetehnya seakan Anum tidak menginginkan digiring ke “penjara suci” selama bertahun-tahun. 

“Nduk, sudah siap belum? Jika sudah siap, kita berangkat sekarang.” 

Anum yang mendengar suara Teh Lina dari arah ruang tamu langsung menyeka air matanya dan melangkah keluar. 

“Sudah, Teh.” 

Ternyata yang akan mengantar Anum bukan hanya Teh Lina. Di situ Anum mendapati umi dan abinya sudah berdandan rapi dan siap mengantarnya sampai pondok pesantren. Mereka berjalan berempat menuju jalan raya agar bisa naik angkot yang biasa lewat. 

Sesampainya di pondok pesantren, mereka langsung masuk setelah tadi penjaga keamanan mengizinkan mereka. Sebelum Teh Lina nampak mencari seseorang, di situ sudah ada seorang mengenakan pakaian jubah putih menghampiri mereka dan langsung menyuruh untuk menuju kamar santri putri menaruh barang-barang. 

Abi menunggu di luar sambil bercengkrama dengan Pak Kyai. Sedangkan Umi dan Teh Lina mengantar masuk. Lina menyusuri lorong kamar yang sebelumnya sudah Ia lihat saat mencarikan tempat tidur Anum. Dengan wajah masih sedikit lesu, Anum hanya berjalan membuntuti tetehnya hingga ia sampai di tempat tidur yang akan ia tempati setiap harinya nanti. 

Anum menangis dan terus merangkul uminya serta memegang erat tangan kanan tetehnya saat hendak ditinggal pulang. 

“Sudah, Nduk! Jangan nangis terus! Di sini kamu akan menemukan pengalaman dan ilmu bermanfaat yang akan menuntun dirimu menjadi lebih baik ke depannya.” 

Anum langsung melepas pelukan uminya dan menatap wajah keluarganya satu persatu. Teh Lina mengelap air mata Anum lalu berpamit pulang menyunggingkan senyum tipis. Ia langsung berpindah ke abinya tercinta bersalaman lalu merangkulnya. Kali ini ia menghampiri uminya yang sedari tadi memperhatikanya. Umi berpamitan lalu mencium kening putri bungsunya itu dan berlalu pergi.

Di tengah suasana yang benar-benar masih asing baginya, Anum menata barang-barang yang ia bawa dari rumah ke tempat ia tinggal sekarang ini. Dalam waktu 5 menit kemudian pintu terbuka dan ada seorang gadis masuk ke kamar. Tentu mereka nampak sedikit kaget. 

“Assalamualaikum, Ukh. Sudah dari tadi ya?” sapa seorang santri putri tersebut sembari duduk di pinggiran tempat tidur. 

“Waalaikumsalam, Ukh. Saya di sini baru dari jam 4.” 

“Namanya siapa, Ukh, kalau boleh tau?” Tanya santri itu. 

“Nama saya Anum Fathiyah. Biasanya dipanggil Anum. Ukhti sendiri siapa namanya?” 

“Oh, Anum. Kenalin ya, nama saya Azisa. Dan satu lagi di kamar ini namanya Maira. Kebetulan dia lagi di masjid sekarang sekalian salat Maghrib. Kita barengan aja ya, ke masjid!” 

Anum langsung mempercepat membereskan barang-barangnya agar bisa segera datang ke masjid bersama Azisa. 

Ruangan demi ruangan telah Anum lewati. Di situ ia melihat banyak santriwan dan santriwati. Namun ia hanya baru mengenal Azisa, santri yang sekamar dengannya. Seusai salat Maghrib, semua santri diperintahkan masuk kamar membaca Alquran di ruangan masing-masing. 

Sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, mereka langsung menuju ke ruang makan untuk makan malam bersama-sama. Saat jadwal makan malam mereka menyadari bahwa di situ ada wajah asing Anum. Ketika Anum disuruh memperkenalkan diri, ia langsung menyebutkan namanya, dan beberapa santri juga memperkenalkan diri kepada Anum. 

Jam makan malam sudah habis, mereka semua berhamburan ke masjid untuk shalat Isya dilanjut doa bersama. 

***

Anum langsung membuka mata setelah Meira membangunkan tidur lelapnya. Di situ ia mendapati Meira sudah mengenakan jilbab warna cream dan Meira bilang bahwa Azisa sudah ke masjid lebih dulu. Anum kemudian melihat jam. 

“Masih jam 3.20 udah disuruh bangun. Padahal aku sering bantu-bantu umi di rumah setelah shalat Subuh.” Anum bergumam dalam hatinya. 

Kali ini ia melangkah gontai untuk cuci muka dan wudhu. Setelahnya, Anum berjalan ke masjid dengan Meira agar tidak terlambat mengikuti jadwal pembacaan Alquran. Setelah salat Subuh, ternyata masih dilanjutkan Muhadatsah pagi. Di situ Anum yang sama sekali belum mengerti Bahasa Arab langsung ding dong. Meira yang mengetahui Anum sama sekali belum mengerti Bahasa Arab langsung berbisik. 

“Sudah, jangan khawatir. Nanti kita belajarnya santai, yang penting kamu memahami dulu setiap materi yang diberikan. Nanti kamu lama-lama paham.” 

Anum menoleh ke arah Meira dan langsung mengangguk. 

Pagi itu benar-benar pagi pertama Anum menjadi santri. Ia bengong di balik jendela seusai mandi. Angan-angannya tertuju pada kampung halaman. Dia tidak tahu sekarang teteh dan uminya sedang apa. Azisa dengan tampilan rapi membuyarkan lamunan Anum. 

“Hei, jangan bengong mulu, nanti kesambet! Temenin nuker galon, yuk! Air galon sudah habis soalnya, hehe.” 

Anum langsung mengiyakan. Mereka bergegas berangkat ke mini market. Karena jaraknya tidak begitu dekat, maka mereka berdua menggunakan sepeda motor khusus santri. 

Anum mengamati setiap perjalanan bersama Azisa. Bukan lagi pegunungan yang ada di depan mata. Namun suasana perkotaan dengan keasriannya yang tidak kalah jauh dari pegunungan. Anum benar-benar kagum karena di sepanjang jalan melihat banyak beberapa pondok pesantren dan para santri yang terlihat sedang melakukan aktifitas. Anum terus menoleh kiri-kanan melihat keindahan kota santri, berbeda dengan Azisa yang fokus menatap ke depan karena sudah terbiasa. 

Daerah itu memang nampak asing bagi Anum, namun sudah mulai memunculkan rasa kenyaman di dalam dirinya. Anum dan Azisa dengan cepat langsung menukarkan galon, takutnya terlambat bantu-bantu masak. Karena khusus hari Minggu dan Rabu, yang memasak makanan adalah para santri sendiri.

Kali ini Anum ada jadwal masuk kelas seperti yang dibilang Azisa sepulang perjalanan membeli galon. Anum mendengarkan penyampaian yang sudah diberikan oleh Ibu Nyai. Sekitar jam 9.30-10,00 santriwati diizinkan istirahat, dan dilanjutkan lagi masuk kelas hingga Dhuhur. Dari situ para santri menuju masjid untuk salat Dhuhur. Selesai salat Dhuhur, Anum dan yang lainnya langsung mengantre makan siang di dapur pondok. Lalu dilanjutkan dengan istirahat siang di kamar masing-masing. 

***

Tepat di hari Senin, dengan semangat Anum menyetrika seragamnya karena sudah mulai sekolah di MAN yang Teh Lina daftarkan. Anum berangkat sekolah jalan kaki bersamaan dengan Azisa. Kebetulan Meira bersekolah di SMA, jadi berangkatnya tidak barengan. 

Sesampainya di MAN, Anum yang masih siswa baru bingung dengan ruang kelasnya karena sekolahnya luas, bertingkat, dan penuh kelas-kelas. Tanpa berfikir panjang Anum menghampiri seorang perempuan dengan jilbab syar’i, bertubuh lebih tinggi 3 cm dari Anum. Anum langsung menyapanya, setelah tahu ternyata itu adalah teman SD-nya dulu yang rumahnya di kampung sebelah desa Anum. Mereka berdua langsung tertawa sambil berjalan mencari ruang kelas masing-masing. Anum masuk ke ruang kelas X IPA 5 dan gadis yang baru saja ia temui memasuki kelas X IPS 1. 

Ketika kembali ke pondok, Anum gelisah akan mengikuti Lomba Nadhom Hidayatus Sibyan, apa tidak. Selesai hafalan Alquran sore hari, Anum yang kebetulan sudah mandi menggunakan jadwal MCK-nya untuk belajar kitab kuning privat bersama Bu Nyai. Anum memanfaatkan waktunya yang hanya sebentar, karena besok pagi sudah lomba bersaing dengan seluruh pondok di Kota Santri. 

Seusai jadwal kegiatan belajar pagi, Anum menulis surat izin sekolah dan dititipkan ke Azisa agar disampaikan ke kelasnya. Karena hari ini Anum akan berangkat ke Balai Perkumpulan Santri untuk mengikuti lomba. Anum berangkat diantar oleh perempuan yang seumuran dengan tetehnya. Perempuan bernama Hasna itu membimbing cara membaca yang lebih sempurna hingga sampai di giliran Anum dipersilahkan juri menunjukkan bakatnya. Sebenarnya Anum belum pernah berpengalaman baca-baca kitab kuning. Tidak tau kenapa, selama Anum menjadi santri ia lebih aktif melakukan hal positif daripada sebelumnya. 

Jam 11.00 Anum dan Hasna menunggu pengumuman. Betapa kagetnya Anum ketika dipanggil maju ke depan oleh panitia. Ya, atas nama Anum Fathiyah memenangkan Juara 2 Nadhom Hidayatus Sibyan. 

Seharian ini Anum nampak bahagia sekali. Bukan hanya karena ia memenangkan lomba, namun tadi Umi dan Teh Lina datang ke pondok mengantar 3 bungkus nasi goreng yang telah ia bagikan dengan teman sekamarnya. Umi dan Teh Lina memang hanya datang dalam waktu 5 menit, namun sudah membuat rasa rindu Anum terobati. Jika diizinkan berlama-lama pasti mereka akan bertemu lebih lama. Karena itu sudah termasuk peraturan pondok, jadi Anum tidak berani melanggar. 

Di jadwal MCK sore, Meira menghafal lagu Hadroh berhubung ia vokalis Hadroh. Azisa sibuk merapikan barang-barangnya, dan Anum memanfaatkan waktunya untuk hafalan ayat Alquran terlebih dahulu, karena antre kamar mandi masih banyak. Di pondok tersebut nampak berbeda dengan tempat umum. Jadi walaupun sekian banyak santri mengantre kamar mandi, mereka tetap tidak ribut. Karena mereka akan mengetahui hukuman yang menimpa apabila ribut gara-gara antre. Bahkan sendal jepit dan pasta gigi saling berbagi walaupun terkadang tidak meminta izin terlebih dahulu. Semua tidak ada yang dipermasalahkan bagi anak-anak pondok pesantrennya Anum.

Anum meminta jatah pulang kampung seminggu sekali, karena berkeinginan mengajarkan TPA di kampung halaman dengan ilmu agama yang ia miliki. Betapa terkesannya karena setiap kali Anum tiba di masjid, anak-anak TPA langsung mengikutinya di belakang, sampai Anum merasa ia seperti seorang jendral yang digiring pasukannya. 

Tidak lama, hanya sebentar saja pulang kampung setelah itu kembali ke pondok pesantren dengan perjanjian waktu yang sudah ditentukan. Anum serasa ingin pulang ke rumah menjenguk keluarga. Namun dengan waktu yang terbatas, ia tidak bisa datang ke rumah. Jika mereka saling bertemu itu hanyalah suatu kebetulan. Sebenarnya Anum sering mengingat kenangan dengan teman-teman, kehangatan keluarga setiap saat, bahkan masa indah bersama teh Lina dari waktu ke waktu. Jika sudah teringat begitu, buliran-buliran air mata mengalir di pipi Anum. Sebelumnya Anum sudah pernah didapati Azisa menangis di pojokan kamar, lalu Azisa menenangkannya karena sesungguhnya kebanyakan santri seperti itu ketika sudah merindukan segala hal di rumah. 

Hati Anum tertata rapi seusai ia mengenal jadi santri, yang awalnya sama sekali tidak berfikiran untuk masuk ke pondok pesantren bahkan menolaknya, kini Anum serasa ingin tinggal di pondok hingga tua. Sungguh di kota santri menganggap antar sesama itu saudara, tidak ada kata membenci semuanya benar-benar ramah tamah. Apabila ada yang butuh bantuan, maka sebisa mungkin saling membantu. Menurut Anum, menjadi santri itu ternyata seru dan menyenangkan. Berbagai hal susah maupun senang. Itu semua dapat ia lalui secara mandiri. Sudah banyak perubahan yang terjadi pada Anum, baik dari segi mental, kedisiplinan dan tentunya ilmu yang diperoleh selama mejadi santri. 

***

Tahun demi tahun silih berganti, kini Anum sudah lulus dari MAN dan melanjutkan kuliah di perguruan tinggi UIN. Anum dan keluarganya nampak senang saat mengetahui Anum lulus jalur SBMPTN sekaligus UMPTKIN. Karena masalah biaya yang masih terbatas akhirnya Anum memilih salah satu, Anum memilih mengambil yang jalur UMPTKIN di UIN. Itu karena ia juga sudah minat dengan program studi pilihanya. Anum tetap melanjutkan mondok, namun kini sudah tidak mondok di kota santri melainkan berpindah ke pondok kampusnya. 

Untuk Teh Lina, ia sekarang semester 5 di Universitas Terbuka dan bekerja sampingan menjadi penjahit. Teh Lina jarang beristirahat karena banjir orderan. Dari situ ia membiayai pendidikannya dan pendidikan Anum. Semakin semangat Anum mengemban ilmu, maka akan semakin semangat Teh Lina mengais rezeki. Herlina sudah menyuruh orangtuanya tidak bekerja terlalu berat lagi agar bisa banyak istirahat di rumah dan tidak terlalu letih. Jika Anum ada jadwal libur ia selalu pulang ke rumah membantu tetehnya mengantar jahitan. 

Rasa syukur tidak henti-hentinya Anum curahkan. Kelak ia akan melangkah maju ke depan terus dalam menggapai impian karena nanti berkeinginan menaik-hajikan kedua orangtuanya. Anum menjalani hari dengan menanamkan kata-kata yang pernah diucapkan uminya. Apabila suatu saat mengalami kegagalan tetap bangun dan ingat Allah. Sedangkan apabila berada di puncak kejayaan, tunduklah dan kembali kepada Allah.[] 


*Aku bernama Anggi Sukmaning Putri yang kini berusia 18 tahun, dan sedang menjalani kuliah semester satu prodi akuntansi. Aku lahir di Bantul,01-Oktober-2002, merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara. Aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Aku biasa memanfaatkan waktu luangku untuk menulis, menyanyi dan mendengarkan musik. Dari hobi menulis, aku mulai membuat beragam jenis tulisan seperti catatan buku diary, puisi, dan cerpen. Nama instagramku @anggy_sukma02. Dulu aku sering menggunakan waktuku untuk mengikuti giveaway di instagram, disitu aku pernah memenangkan undian pulsa 2 kali sejumlah 50.000 dalam pengundi yang berbeda dan 1 buah airpods diantar sampai rumah tanpa dipungut biaya. Semenjak memasuki dunia perkuliahan aku sudah lama tidak mengikuti giveaway. 

Di semester pertamaku ini, aku sudah mulai mengikuti organisasi pergerakan mahasiswa islam indonesia dan mengikuti UKM tari sekaligus paduan suara. Jika di desa aku mengikuti beladiri sejak 2015, sempat vakum di tahun 2017 dan mulai aktif lagi tahun 2018, dengan segala perjuangan sekarang aku sudah memasuki sabuk biru bintang satu, artinya aku sudah diizinkan menjadi pelatih. Rasa persaudaraan benar-benar aku dapatkan disitu, seluruh motivasi dan dorongan dari pelatih selalu aku tanamkan di dalam sanubariku. Dalam menjalani hari-hari aku sering sekali mengalami kegagalan, bahkan merasa hidup ini tidak adil. Namun aku selalu teringat kata-kata “apabila mengalami suatu kegagalan, bangkitlah dan ingat Allah. Dan apabila berada di puncak kejayaan, tunduklah dan kembali kepada Allah.” Dalam menjalani hidup, aku mempunyai motto “lan tarji’a al ayyamu allatii madhot.” Aku selalu menyikapi segala sesuatu dengan rasa syukur dan pantang menyerah. Semua akan terasa indah apabila kita merasa ikhlas dengan apa yang kita kerjakan.

Posting Komentar untuk "Kota Santri Penata Hati"