Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pesantren Pilihan Papa

0 Pembaca

Oleh: Nayla Nahjatul Anja

(Peserta Lomba Menulis Cerpen Hari Santri Nasional 2020)

Kiara Anusaibah Hasan, itu nama lengkapku, nama yang menurutku terdengar sangat kampungan. Andai saat aku diberi nama, aku bisa protes pasti sudah aku lakukan saat itu. Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Sekarang aku duduk dibangku kelas 3 SMP, lebih tepatnya SMP Bunga Bangsa di Jakarta. Abangku yang pertama merupakan salah satu guru sekaligus donatur  tetap di salah satu Pondok Pesantren di Jawa Barat. Jujur sampai saat ini, aku masih dibuat heran oleh abangku itu, dia sarjana lulusan Universitas ternama dan meraih predikat Cumlaude tapi dengan mudahnya dia menetapkan pilihan untuk mengabdi di Pondok pesantren yang menurutku sangat amat kampungan. Abang ku yang kedua sekarang sedang melanjutkan studi nya di Luar Negeri, biasa lah dia itu anak kesayangan Emak, Bapak, pasti apa saja maunya selalu dituruti. Sedangkan aku anak perempuan satu-satunya, anak bungsu pula yang di setiap keluarga pasti jadi pusat perhatian dan kesayangan, malah tertindas. ‘Malang’ mungkin kata yang sangat tepat untuk kondisiku sekarang. Tidak pernah boleh jalan sama temen-temen, apalagi pulangnya malam, kalau ketahuan akan disidang paripurna deh aku sama Mama Papa, kaya DPR saja. Harus ikut les sana-sini, bahkan aku ngerasa hidup dan waktuku cuma untuk les dan les. Malang banget kan nasibku.

Hari ini sekolahku ngadain Ujian Akhir Sekolah, tapi entah kenapa aku males banget buat dateng ke sekolah akhirnya aku memutuskan untuk tidur lagi setelah mematikan alarm lalu aku menarik kembali selimut dan melanjutkan tidurku yang sempat terganggu. Baru saja aku akan melanjutkan mimpi indahku yang terputus, tiba-tiba terdengar suara yang sangat familiar di telingaku membuyarkan mimpiku yang baru dimulai.

“ Araa..Banguun” Teriak Mama sembari mengetok pintu kamarku dengan keras.

“ Araaa!! Kalo dalam hitungan ketiga kamu ga bangun. Ga ada uang jajan hari ini” sambung mamaku lagi.

“Satu…..dua….ti..” belum selesai Mama menyelesaikan hitungannya aku buru-buru bangkit dan membuka pintu kamarku.

“ Mama nii apa-apaan si, dikit-dikit potong uang jajan!” Potongku dengan wajah kesal.

“Ya makanya kalo waktunya sekolah itu bangun, kebiasaan buruk kok dipelihara” jawab Mama seraya berbalik meninggalkanku. Aku pun kembali memasuki kamar untuk bersiap ke sekolah. Setelah bersiap aku menuju meja makan dimana ada Mama dan Papa yang sedang menyantap sarapannya.

“ Pagi Pa, Ma” Ucapku seraya ikut bergabung duduk bersama mereka.

“Pagi sayang, gimana tidur kamu nyenyak?” Tanya Papa kepadaku.

“ Nyenyak dong Pa” jawabku sambil melahap sarapanku.

“ Oh iya Ara, Papa mau ngasih tahu kamu, kalo minggu depan kita berangkat ke Bandung ya”

“Hah? Serius Pa, minggu depan? Ke Bandung? “ jawabku dengan nada antusias, karena aku berpikir kalau Papa mengajakku bertemu bang Farhan sekaligus berlIbur tentunya.

“Iya, Papa serius”

“ Kita berapa lama Pa disana? Seminggu atau dua minggu?” tanyaku lagi.

“Seminggu ? Ngaco kamu ra” sambung Mama dengan tertawa mengejekku.

“ Lah emang berapa lama Ma?”

“ Kamu itu ke Bandung bukan untuk liburan, tapi sekolah” jawab Mama lagi.

“ Hah ? Uhukk....uhukk..” Jawabku yang tersedak karena kaget.

“ Kamu akan Papa sekolahkan di tempat Abang kamu disana, Papa harap tidak ada penolakan karena kamu sudah Papa daftarkan disana” tambah papa lagi menjelaskan.

“ Tapi Paa..”

“ Gaada tapi-tapian Ara”

Akupun hanya bisa pasrah dengan keputusan yang Papa buat untukku, karena sekuat apapun aku membantah keputusan Papa tidak akan pernah bisa berubah. Sepulang sekolah aku langsung bergegas menuju kamarku, hariini aku sedang dalam keaadan mood yang sangat jelek. Bahkan tadi disekolah aku tidak bisa mengerjakan soal dengan fokus mengingat ucapan Papa dimeja makan tadi pagi. Setiap hari waktuku hanya kugunakan untuk merenung dikamar, aku selalu membayangkan bagaimana kehidupanku saat berada di tempat yang menurutku seperti penjara itu.

Bagaimana aku akan makan, tidur, bahkan bagaimana aku akan mandi di tempat kampungan seperti itu. Waktu terasa berjalan sangat cepat bagiku, sehingga tak terasa besok adalah hari terakhirku di Jakarta. Malam ini aku berniat untuk melarikan diri dari rumah, sampai paling tidak hari keberangkatanku dibatalkan. Aku telah meminta salah satu temanku, Cika untuk menjemputku di jalan masuk kompleks rumahku. Jam sudah menujukkan pukul 01.00, dengan berbekal tas ransel berisi beberapa pakaian dan makanan ringan aku keluar dari kamarku dengan sangat berhati-hati agar tak ada yang menyadari kepergianku. Rumahku sudah gelap gulita karena semua lampu telah dimatikan aku berjalan melewati dapur menuju pintu belakang. Namun, saat kubuka pintu belakang ternyata pintunya terkunci, aku mencoba mencari kunci dilaci meja yang biasanya digunakan untuk menyimpan kunci.

Saat tengah mencari kunci aku dikagetkan dengan lampu yang tiba-tiba menyala. Akupun mencoba menengok memastikan siapakah yang telah menyalakan lampu.

“Eh, Mamaa. Kok belum tidur ma jam segini?” ucapku basa-basi.

“ Mau kemana ra?” tanya mamaku dengan nada mengintimidasi.

“Enggak ma, ini Ara mau ambil minum kok” bohongku seraya mengambil gelas.

“ Mau minum atau mau kabur kamu”

“ Kabur?? yang bener aja deh ma, Ara mau kabur kemana coba malem-malem begini”

“ Terus ngapain bawa tas gede gitu?”

“ Enggak ma, ini tadi ara mau ambil makanan dikulkas jadi ara bawa tas deh takut gamuat soalnya” jawabku mencoba tenang. Mendengar jawabanku Mama hanya bisa mengangguk sembari terus melihat kearahku. Pada akhirnya aku gagal untuk kabur malam ini, mungkin memang sudah nasibku untuk berangkat ke penjara itu besok.

Dengan menghela nafas kesal akupun berjalan menaiki tangga menuju kamar dan meninggalkan Mama yang masih memandangku penuh curiga. Akhirnya hari dimana aku harus berangkat dan mengikuti keinginan Papa untuk pergi ke Bandung tiba juga. Dengan berat hati aku keluar dari kamarku untuk menuju meja makan, sebelumnya aku sempat memandang sedih ke seluruh penjuru kamarku karena setelah ini aku akan sangat merindukan kamarku ini. Sesampainya di meja makan tanpa basa - basi aku langsung duduk dan melahap sarapanku. 

Terlihat Papa dan Mama yang sepertinya bingung dengan kelakuanku yang tak biasa ini. Mama memberiku nasihat agar aku bisa menerima keputusan Papa ini dengan lapang dada, dan bisa belajar dengan baik disana nantinya. Begitu juga dengan Papa yang selalu memberiku cerita teman-temannya tentang betapa indah dan asiknya hidup di Pesantren. Tapi bagiku semua itu hanyalah dongeng yang Papa buat utuk menenangkanku dan menurutku pada kenyataannya semua itu tidak seindah cerita Papa. Setelah selesai sarapan aku dan Papa bersiap untuk berangkat, kali ini Mama tidak akan ikut bersama kami karena Mama akan menghadiri acara pernikahan sahabatnya di bogor. Awalnya aku sangat kesal kepada Mama karena dia lebih mementingkan sahabatnya dibandingkan aku anaknya. Tapi setelah dinasehati oleh Papa akhirnya aku terima. Setelah berpamitan kepada Mama akhirnya aku dan Papa pun berangkat.

Setelah lamanya perjalanan yang kami lewati tak terasa akhirnya kami pun sampai di pondok pesantren tempat bang Farhan mengajar ini. Mataku langsung tertuju pada bangunan kumuh yang terbuat dari kayu, walaupun terlihat besar dan luas tapi tentu saja tak sebaik rumahku di Jakarta. Aku dan Papa kemudian turun dari mobil dan disambut ramah oleh seorang kakek tua yang kutebak adalah pemilik pesantren ini dan istrinya.

Setelah itu aku dan Papa diajak untuk memasuki bangunan kumuh ini disana aku melihat bang Farhan yang sedang menunggu kedatangan kami dengan beberapa guru lain tentunya. Aku langsung memeluk bang Farhan dengan manja, rasanya aku ingin mengadukan semua kelakuan Mama dan Papa kepadanya. Tapi belum sempat aku bercerita Papa langsung menyuruhku untuk duduk. Akupun duduk dengan tidak melepaskan tanganku pada lengan bang Farhan, tentu saja karena aku ingin memperlihatkan kepada semua orang bahwa lelaki tampan nan gagah disampingku ini adalah abangku. Terlihat oleh mataku bahwa banyak pasang mata yang tak melepas pandangannya dari arahku dan bang Farhan, tatapan mereka tampak iri dan cemburu kepadaku. Tentunya hal ini menjadi hIburan tersendiri untukku dengan melihat tatapan santriwati yang seakan ingin menerkamku.

Saat ini aku sudah berada di sebuah ruangan sempit dan kumuh yang mereka sebut akan menjadi kamarku. Setelah selesai berbincang tadi Papa memutuskan untuk langsung kembali ke Jakarta dan Bang Farhan harus pergi untuk mengajar murid-muridnya.

Di dalam kamar ternyata aku tak sendiri melainkan ditemani oleh 4 orang lainnya. Kemudian aku memilih untuk meletakkan koperku dan bergegas tidur. Kasur yang disediakan pesantren ini sangatlah buruk dan tak seempuk kasur milikku dirumah. Dengan terpaksa aku memutuskan untuk tidur untuk menghilangkan penat selama perjalanan tadi. Baru sebentar aku terlelap aku dibangunkan oleh salah seorang santri dalam kamarku, ia membangunkanku dan berkata bahwa sudah waktunya untuk sholat maghrib.

Aku yang masih mengantuk tentu saja menolak ajakannya untuk sholat berjamaah di mushola santriwati, namun karena dia terus memaksa akhirnya aku berbohong bahwa saat ini aku sedang datang bulan. Dan ternyata cara itu ampuh untuk membuatnya berhenti menggangguku. Setelah santri itu keluar aku melanjutkan tidurku kembali.

Namun, setelah merasa cukup dengan tidurku aku kemudian bangkit dan bersiap untuk mandi. Aku berjalan menyusuri kamar -kamar untuk menuju kamar mandi, sebenarnya aku merasa jijik karena harus mandi di tempat yang kotor dan dipakai oleh banyak orang seperti ini, tapi mau tak mau aku harus tetap mandi ditempat ini. Saat tengah mandi tiba-tiba air didalam bak habis dan kran tidak bisa menyala, aku yang tengah dipenuhi sabun tak bisa keluar dan mencari bantuan akhirnya aku berteriak.

“ Woyy yang ada diluar tolongin guee, airnya habis”

karena tak kunjung mendapat jawab akhirnya aku berteriak lagi

“ Woyyy siapapunn disanaa tolongin guee….woyy”

Akhirnya tak lama kemudian aku melihat seorang santri yang datang dan bertanya

“Kamu kenapa teriak-teriak?”

“ Loe ini tuli apa gimana si, lo ga denger gue bilang apaan tadi air disini habis terus krannya mati” jawabku dengan ketus.

“Air disini memang sering mati pada jam segini, santri di sini selalu ditekankan kalau ingin mandi lebih baik jangan terlau malam karena khawatir hal seperti ini terjadi kam..”

“Lo kesini mau bantuin gue apa ceramah si, dari tadi ngoceh mulu heran gue” potongku saat ia sedang berbicara. Lalu dia menimbakanku air dari sumur dan membawakanku satu ember penuh air, tanpa berterimakasih aku langsung menyambar ember berisi air yang dibawanya.

“kamu tidak pernah diajarin orang tuamu untuk bilang terima kasih ya?” Tanyanya padaku. Sadar dengan pertanyaan yang bernada menyindir itu dengan terpaksa aku mengucapkan terimaksih pada santri itu.

“ Makasih airnya”

“sama -sama, Oh, iya nama saya Dewi. Kamu Kiara kan?“ Pertanyaannya hanya kujawab dengan anggukan malas dan kemudian langsung menutup pintu kamar mandi untuk melanjutkan kegiatanku.

Hari ini adalah hari tepat satu minggu keberadaanku di pesantren ini, jangan kalian pikir aku tak pernah mencoba untuk kabur  dari tempat kumuh ini. Aku sungguh ingin kembali ke ke Jakarta. Di sana aku tak harus mengenakan baju kebesaran dan hijab yang sangat panas ini. Aku sudah berkali-kali mencoba untuk kabur namun semuanya gagal dikarenakan sangat ketatnya penjagaan di pesantren ini. Belajar dari pengalamanku aku akhirnya menyusun rencana sedemikian rupa agar bisa berhasil kabur dari tempat ini.

Hariini adalah hari berdirinya pondok pesantren ini, dan akan ada acara yang dilakukan di gedung utama pesantren ini. Saat para penjaga pesantren tengah berkumpul di sana itu adalah waktu yang paling tepat untuk aku bisa pergi dari tempat ini. Saat aku merasa waktu untukku melancarkan aksiku tiba. Aku langsung bergegas menuju gerbang utama pesantren ini, dan benar saja disana aku tidak melihat satupun penjaga. Aku dengan sigap langsung meanfaatkan kesempatan emas ini dengan memanjat gerbang, tentunya aku telah berganti pakaian dengan setelan kaos dan jeans andalanku saat ini. Setelah berhasil keluar dari pesantren aku kemudian segera menjauh sejauh mungkin dari pesantren ini menuju jalan besar dan berharap menemukan bantuan di sana.

Aku terus berjalan menyusuri jalan sepi di sekitar pesantren, rasanya sudah sangat jauh aku berjalan keluar dari pesantren tapi belum juga kutemukan jalan besar. Aku mulai merasa lelah dan juga haus tapi tak kutemukan warung di sekitar sini. Akhirnya aku memutuskan untuk beristirahat di sebuah gubuk yang mirip seperti pos ronda. Saat tengah beristirahat aku melihat 2 orang lelaki dengan perawakan layaknya preman menghampiriku. Aku yang sebenarnya merasa takut mencoba menyembunyikan ekspresi takutku dan memilih untuk melawan mereka berdua. Namun semakin aku melawan mereka justru semakin berani menggodaku. Aku merasa sangat takut dan mencoba untuk melarikan diri tapi tanganku dicekal oleh mereka sehingga aku hanya bisa berontak.

“ Lepasin tangan gue!” Teriakku mencoba melepaskan diri, tapi nihil karena tenaga mereka lebih besar dariku.

“ Neng cantik, mau kemana sih, mending sama kita aja biar ga sendirian” goda preman itu lagi.

“ Lepasin gue! Gue bakalan aduin lo ke Bokap gue supaya lo pada masuk penjara!”

“Cantik-cantik kok galak sih neng” goda mereka dengan tertawa mengejekku.

Aku merasa sangat takut saat ini, aku hanya bisa berteriak memanggil nama Papa dan Bang Farhan berharap mereka bisa menyelamatkanku. Aku terus berteriak meminta bantuan sampai kulihat Dewi dengan beberapa santri lainnya mendekat kearahku dan mencoba membantuku mengusir para preman itu. Krena jumlah kami yang banyak akhirnya preman itu pun menyerah dan pergi meninggalkan kami. Aku yang masih merasa ketakutan akhirnya menangis, dan Dewi mencoba untuk menenangkanku dengan memelukku. Setelahnya kami kembali ke pesantren setelah dijemput oleh beberapa pengurus pesantren setelah dewi menelpon untuk meminta bantuan.

Sesampainya di Pesantren aku langsung bergegas menuju ke kamar karena merasa masih syok dengan kejadian tadi. Aku menangis dan merutuki kebodohanku yang pergi diam-diam dari pesantren ini. Tak lama kemudian Dewi menghampiriku dia menenangkanku dan berkata bahwa semuanya kan baik-baik saja. Disini aku merasa sangat bersalah kepada wanita sebaik Dewi yang selalu aku perlakukan dengan kasar tapi dia begitu tulus menerimaku. Aku pun memeluknya dan meminta maaf untuk semua kesalahanku selama ini kepadanya. Dewi kemudian mengatakan padaku bahwa saat ini aku dipanggil ke ruang Kyai Besar. Dengan ditemani dewi aku akhirnya pergi untuk menemui Kyai Besar, di sana aku juga melihat bang Farhan dengan wajah yang terlihat sangat marah kepadaku. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku dan tak berani menatap Bang Farhan yang ada dihadapanku. Kyai Besar kemudian memberiku nasihat agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali nantinya. Aku yang memang merasa bersalah hanya bisa meinta maaf kepada Kyai Besar dan berjanji tidak akan mengulangi kejadian seperti ini.

Saat ini aku berada di ruangan Bang Farhan tanpa ada Dewi yang menemaniku, ya setelah dari ruangan kyai besar Bang Farhan memintaku untuk menemuinya di ruangannya. Aku masih tak berani untuk menaikkan wajahku menatapnya yang kuyakini saat ini tengah marah besar kepadaku.

“ Ara, kamu ini kenapa sih bisa bertindak sebodoh itu hah!? Abang bingung sama kamu Ra, harus dengan cara apa abang nasihati kamu supaya kamu bisa nurut apa kata abang.”

“Maafin Ara bang.” Jawabku singkat dan masih menundukkan wajahku.

“Abang capai Ra harus terus-terusan marahin kamu kayak begini, kamu itu adik perempuan abang satu-satunya. Dan kewajiban abang adalah jagain kamu di sini, tapi kalo kamu begini terus abang harus gimana Ra” sambung Bang Farhan lagi.

“ Ara minta ma..af bang, A..ra janji gak ba..kal ngu..langin lagi.” Jawabku dengan suara yang tersedu karena menangis. Jujur baru kali ini aku mendengar Bang Farhan semarah ini padaku. Dia biasanya akan selalu membelaku saat Mama dan Papa mulai tidak adil padaku tapi sekarang Bang Farhan benar- benar marah kepadaku.

“Ara. Abang itu sayang sama kamu, makanya abang ngelakuin ini, bukan berarti abang mau melihat kamu menangis seperti ini Ra.” Ucap Bang Frhan seraya memelukku dan mengelus kepalaku untuk menenangkanku. Aku yang berada di pelukan Bang Farhan semakin terisak karena merasa bersalah.

“ Sudah dong Ra, adek abang jangan nangis gini! Abang minta maaf kalo kata-kata abang

tadi itu keterlaluan ya dek”

Aku hanya menjawab ucapan bang Farhan dengan anggukan dan masih memeluk Bang Farhan bahkan semakin erat.

“ Bang, maafin Ara ya . Ara janji Ara ga akan ulangin kesalahan ini lagi.” Ucapku sungguh-sungguh. Dan dibalas dengan anggukan oleh Bang Farhan.

Hari ini aku terbangun pukul 05.00 setelah alaram berbunyi, aku sengaja menyetel alarm agar bisa terbangun untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah di mushola.

Setelah terbangun aku bergegas mengambil air wudhu dan kemudian bersiap menuju mushola bersama teman-temanku. Setelah selesai sholat kegiatan dilanjutkan dengan tausyiah subuh oleh para ustadzah. Setelahnya para santri dipersilahkan untuk mandi dan bersiap menuju sekolah. Kegiatan seperti inilah yang selau rutin aku lakukan selama kurang lebih 2 bulan aku berada di pesantren ini. Sekarang aku mulai menyadari bahwa dimanapun aku berada asalkan aku selalu bersyukur semua akan terasa lebih indah dan mudah untuk dijalani. Aku juga sekarang paham mengapa Papa menyarankanku untuk bersekolah di sini, semua itu semata-mata hanya untuk masa depanku yang lebih baik.

Aku juga merasa bersyukur karena telah menjadi bagian dari pesantren ini, karena dari sinilah aku mulai belajar bagaimana caranya bersyukur dan menghargai orang lain.[]


*Namaku Nayla Nahjatul Anja, aku lahir di Malang pada tanggal 30 November 2001. saat ini aku merupakan seorang Mahasiswa aktif jurusan Geofisika Universitas Mulawarman, Samarinda , Kalimantan Timur. Aku merupakan anak kedua dari Lima bersaudara. Saat ini aku tinggal bersama kedua orang tuaku di Tenggarong, Kalimantan Timur.


Posting Komentar untuk "Pesantren Pilihan Papa"