Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SANDARAN HATI KANG ZAID

0 Pembaca

Oleh: Zidna Fitriana

(Peserta Lomba Menulis Cerpen Hari Santri Nasional 2020)

"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup. Dan yang   paling       pahit adalah berharap kepada manusia."

( Sayyidina Ali bin Abi Thalib )

 Malam beranjak matang. Suasana pondok pesantren Nurul Huda terlihat sepi. Kegiatan belajar mengajar telah usai beberapa jam yang lalu. Para santri telah kembali ke asrama untuk beristirahat setelah seharian penuh belajar mengaji. Hanya ada beberapa yang masih terjaga. Sebagian dari mereka ada yang melaksanakan sholat malam di masjid. Namun ada juga yang lebih memilih menikmati malam dengan secangkir kopi sambil bersantai sejenak sebelum tidur. 

     Angin berhembus pelan. Dedaunan jatuh berserakan. Bulan purnama mengintip dibalik rindangnya pepohonan. Bintang gemintang menghias langit malam. Lampu kamar satu persatu dipadamkan, penghuninya sudah tidur. Lenggang.

***

  Di koridor lantai dua asrama putra, seorang pria sedang berdiri, menatap langit yang terlihat indah malam itu, berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini. 

     “Kang Zaid, sampeyan ngopo ndalu-ndalu ngalamun ten mriku?”. Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah samping.  Membuat ia yang sedang melamun sedikit terkejut.

     Kang Zaid menoleh. Ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit kesal karena ada yang mengganggu ritual melamunnya.

     Kang Ahmad tertawa kecil, melihat ekspresi kesal Kang Zaid, “Hehe, ngapunten, Kang, udah bikin sampeyan kaget.” 

     Kang Zaid mengangguk. Kembali menatap langit malam. 

     Hening beberapa saat.

     “Sampeyan kenopo tho, Kang, nak tak delok-deloke akhir-akhir ini kok sering melamun, taseh wonten masalah nopo, Kang?” Kang Ahmad bertanya pelan, sambil menepuk-nepuk akrab bahu Kang Zaid.

     Kang Zaid menggeleng, “Mboten, Kang.”

     “Kalau semisal ada masalah jangan sungkan cerita ke saya. Siapa tau saya bisa kasih masukan.” 

     Kang Zaid tersenyum, “Nggeh Kang, matur suwun. Tapi, emang gak ada apa-apa kok.”

     “Ya sudah saya tak kembali ke kamar dulu, mau tidur. Silahkan sampeyan lanjutkan ritual melamunnya”. Kang Ahmad sudah berpamitan, menepuk bahu Kang Zaid, lantas berjalan santai ke kamarnya.

     Itulah Kang Ahmad, orang yang selalu bersikap baik kepadanya. Orang yang sering memberinya motivasi ketika dirinya tengah berada di titik terendah. Bahkan, Kang Ahmad mau meminjamkan uangnya ketika dia telat kiriman. Baginya, Kang Ahmad sudah ia anggap seperti keluarga, tapi kali ini ia tidak ingin membebani Kang Ahmad dengan masalahnya. Terlebih saat ini Kang Ahmad tengah sIbuk mempersiapkan acara peringatan Maulid Nabi yang akan diadakan minggu depan.

     Sepeninggalan Kang Ahmad, Kang Zaid menghela nafas panjang. 

     Sudah hampir pukul dua belas malam, ia melirik arloji di pergelangan tangannya. Sebentar lagi pasti akan ada pengurus yang berkeliling untuk mengecek keadaan pondok. Namun,ia belum berniat kembali ke kamar. Ia masih sIbuk memikirkan permintaan pamannya tempo hari, yang meminta ia untuk berhenti mondok agar bisa membantu pekerjaan pamannya.

      Sejujurnya ia masih ingin mondok. Ia masih ingin memperdalam ilmu agamanya. Tetapi ia tidak mungkin menolak permintaan pamannya. Karena bagaimanapun juga pamannya yang sudah merawat dan membesarkan dirinya sepeninggal kedua orang tuanya. 

     Kang Zaid kembali menghela nafas panjang. Belum beranjak dari tempatnya berdiri. 

     Masih ada satu hal lagi yang mengusik pikirannya. Membuat ia tak bisa memejamkan mata meski malam telah larut. Ia pun tak paham dengan apa yang terjadi pada dirinya. Selama ini ia terlalu sibuk belajar dan menghafal di pondok. Seumur hidupnya baru kali ini ia mengalami perasaan yang aneh, semacam patah hati kah? Entahlah. 

     Kang Zaid menghela nafas untuk yang kesekian kali. Lelah.

     “Kang Zaid.” Seseorang memanggilnya. Kali ini bukan Kang Ahmad melainkan Kang Malik, pengurus bagian keamanan yang bertugas keliling pondok malam itu. 

      “Udah malam sampeyan kok belum tidur, Kang?” Kang Malik bertanya sambil menepuk pelan bahu Kang Zaid.

       “Belum, Kang.” Kang Zaid menjawab pendek. 

        “Mpun ndalu, Kang. Sebaiknya sampeyan segera tidur, biar besok bangunnya tidak kesiangan.” 

          Kang Zaid mengangguk, “Nggeh, Kang.”

          “Yasudah saya tak lanjut keliling dulu.” Kang Malik sudah beranjak pergi.

     Kang Zaid mengusap wajah. Mungkin lebih baik ia kembali ke kamar sekarang, sebelum nanti ada pengurus yang menegurnya lagi.

***

Kang Zaid terbangun tepat ketika adzan subuh berkumandang dari speaker masjid. Bergegas melangkah ke kamar mandi setelah mengambil handuk dan peralatan mandinya. Beruntung antrian di kamar mandi belum terlalu penuh jadi ia tidak perlu menunggu lama. 

     Tidak butuh waktu lama Kang Zaid sudah siap dengan sarung dan koko putihnya. Lantas bergegas melangkah menuju masjid. Sesampainya di masjid, sambil menunggu iqamah, Kang Zaid melaksanakan dua rakaat sholat fajar. 

     Tepat ketika Kyai Umar melangkah masuk ke dalam masjid, salah seorang santri berdiri, mengumandangkan iqamah. 

***

Usai kegiatan sholat jamaah, para santri diwajibkan mengikuti kegiatan kajian kitab Fathul Mu’in. Sebelum memulai kajian biasanya Kyai Umar akan meminta salah satu atau salah dua santri untuk “sorogan”—santri membaca afsahan mereka sendiri disimak oleh Kyai dan seluruh santri.

     Para santri mendengarkan penjelasan Kyai Umar dengan khidmat meski ada beberapa yang terkantuk-kantuk. 

      Tepat pukul 06.00 WIB Kyai menutup kajian. Beberapa santri bergantian menyalami Kyai Umar sebelum kemudian meninggalkan masjid, kembali ke asrama

***

Pagi itu setelah selesai sarapan Kang Zaid berjalan menuju gazebo taman belakang masjid. Tempat yang biasanya digunakan para santri untuk belajar bersama atau sekedar ngobrol-ngobrol santai sambil ngopi. 

     Sebenarnya tujuan awal Kang Zaid ke sana hendak muthola’ah kitab. Mumpung masih pagi, otaknya masih fresh, mungkin ia bisa menaklukkan dua sampai tiga bab. Namun tujuan itu berubah ketika ia tidak sengaja menemukan selembar foto di antara lembaran buku catatannya. Lihatlah! Itu foto seorang gadis cantik berjilbab merah muda yang sedang tersenyum dengan amat anggun. Gadis itulah yang akhir-akhir ini telah mengusik pikirannya. 

     Dan hanya soal waktu, seluruh kenangan itu kembali hadir tanpa permisi.  Seperti sebuah kaset yang disetel ulang. Memutar kembali kejadian sepuluh tahun silam, saat untuk pertama kalinya ia bertemu dengan gadis di foto tersebut.

    Kang Zaid mengalihkan pandangannya sejenak. Menatap sekitar. Semburat cahaya matahari pagi menerpa wajahnya. 

***

Sepuluh tahun silam.

     Pagi itu, Kang Zaid ditugaskan untuk berbelanja ke pasar. 

     Setelah menerima secarik kertas yang berisikan daftar belanjaan, Kang Zaid bergegas melajukan motornya menuju pasar.

      Sesampainya di pasar, Kang Zaid langsung menuju lapak pedagang langganannya. Lantas membeli barang sesuai daftar belanja. Tak butuh waktu lama bagi Kang Zaid untuk menyelesaikan tugasnya. 

     Persis ketika Kang Zaid hendak mengambil motornya di parkiran, ia melihat seorang gadis yang tengah diganggu oleh tiga orang preman. Maka tanpa perlu pikir panjang Kang Zaid segera menolong gadis tersebut. 

     “Lepaskan dia!” bentak Kang Zaid pada tiga preman itu. 

     “Hahaha rupanya ada yang sok mau jadi pahlawan di sini.” Ketiga preman tersebut menyerang Kang Zaid secara bersamaan. Namun dengan lihainya pria itu menghindari pukulan demi pukulan. Dengan bekal ilmu beladiri yang ia miliki, ketiga preman tersebut dengan mudah dikalahkannya.

     Setelah para preman tadi pergi, Kang Zaid melangkah mendekati gadis tersebut. 

    “Kamu baik-baik saja?” tanya Kang Zaid.

     Gadis itu mengangguk lantas bilang terimakasih. Masih tersisa sedikit wajah ketakutannya. 

***

     Itulah pertemuan pertama Kang Zaid dengan gadis itu. Pertemuan yang sangat tidak sengaja. Pertemuan yang ia kira tak akan pernah berlanjut. Namun ternyata Allah punya rencana lain, mereka berdua dipertemukan lagi di pesantren. 

     Tepat dua tahun yang lalu.

     Awalnya ia hanya biasa saja, tidak ada yang istimewa. Namun seiring dengan berjalannya waktu, perasaan itu  mulai tumbuh tanpa disadarinya. Selama ini ia tidak pernah berbicara langsung dengan gadis itu, hanya sesekali berpapasan.  

     Tapi malam itu, Kang Zaid diam-diam menulis sepucuk surat untuk gadis itu. Ia ingin mengungkapkan perasaannya. Tidak! Ia tidak akan mengajak gadis itu berpacaran. Ia hanya ingin tahu bagaimana perasaan gadis itu terhadapnya. Lama ia menunggu jawaban. 

     Dan saat perasaannya kepada gadis itu sempurna tercungkil, ia harus kecewa ketika mendengar kabar bahwa gadis itu sudah dijodohkan oleh orang tuanya. Membuat ia tenggelam ke dalam luka yang amat dalam.

      Ini semua salahnya. Kenapa ia harus mengharapkan cinta dari seorang manusia padahal cinta Allah kepada hamba-Nya jauh lebih besar? Dan kenapa ia harus menyandarkan harapanya kepada manusia padahal ada Allah, sebaik-baik tempat bersandar?[]


*Namanya Zidna Fitriana. Usianya genap 17 tahun hari ini. Memiliki hobi membaca sejak kecil. Menjadi penulis adalah salah satu cita-citanya. Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin ia tulis tapi waktunya tidak cukup. Baiklah, sampai sini saja. Bye! 


Posting Komentar untuk " SANDARAN HATI KANG ZAID"