Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Santri Demo

0 Pembaca

Oleh: Muhamad Ulum Munafi’

(Peserta Lomba Menulis Cerpen Hari Santri Nasional 2020)

“Merdeka…!”

“Hidup mahasiaswa…!”

“Hidup rakyat Indonesia…!”

Toa bergema keras di depan gerbang kantor DPRD. Aku berorasi dengan volume suara tertinggi yang aku punya, membakar semangat teman-teman mahasiswa. Kami memprotes kebijakan pemerintah tentang undang-undang ekspor-impor yang merugikan para petani. Kami para mahasiswa mewakili rakyat kecil sebagai penyambung lidah menuntut undang-undang tersebut dibatalkan. 

Sejak setengah tahun lalu aku menjabat sebagai ketua BEM fakultas di salah satu universitas ternama. Beberapa hari yang lalu aku Bersama teman-teman demontrasi di depan kantor DPRD untuk menyuarakan keresahan masyarakat. Di sisi lain, aku adalah seorang santri mahasiswa. Aku mondok di salah satu pesantren yang berada di seberang kampus. Rata-rata santri disana juga kuliah atau sekolah. Sudah menjadi budaya santri punya karakter sopan dan tidak suka kegaduhan seperti demonstrasi dan semacamnya. Ini secara tidak langsung menjadi masalahku, dimana aku sebagai ketua BEM yang harus selalu berada di garda terdepan saat aksi di jalan, tapi disisi lain tidak disukai oleh teman-teman santri ketika kembali ke pondok. 

Akibat orasiku saat demo beberapa hari yang lalu, aku masuk salah satu media daerah dengan menarasikan kerusuhan. Namaku langsung tercoreng di pondok, santri-santri membicarakanku dengan menelan mentah berita-berita itu. Ada yang mencoba bertanya kepadaku. 

“Kenapa sih kamu ikut demo?”

“Ya… karena menyuarakan masyarakat.” Jawabku singkat.

“Mana ada yang merasa di suarakan, justru masyarakat resah lihat kalian.” 

Mendengar jawaban itu aku merasa sakit hati, tapi aku memilih untuk tidak meladeninya, percuma saja jika aku ajak mereka diskusi karena tidak paham apa yang kami demonstrasikankan.

Tidak berhenti disitu saja, beberapa ustadz ketika mengajar juga menyindirku sangat keras, dan membuat para santri menjadi tambah memusuhiku. 

“Sebagai santri itu sudahlah, fokus ngaji dan kuliah saja ndak usah anaeh-aneh, apalagi sampai demo kerusuhan masuk TV daerah, itu mencoreng nama baik pondok.” Jelas beliau sambil sedikit melirik ke arahku.

Sindiran itu membuat aku semakin merasa tidak nyaman berada di pondok, tapi aku tidak mungkin pindah atau keluar dari pondok. Ada pesan bapak yang selalu kuingat “mondok itu ibarat menggali sumur, cukup gali satu saja tapi sampai keluar airnya. Jangan gali satu, belum keluar airnya sudah pindah lubang lagi.” Itu yang membuatku tidak akan pernah keluar atau pindah dari satu pondok sampai tuntas. Tapi aku juga tidak mungkin mundur dari ketua BEM karena sudah menjadi amanah yang sangat besar bagiku dan harus dijalankan juga sampai tuntas. 

Hari-hariku dipondok menjadi penuh kebingungan. Setiap malam aku selalu berdoa dan meminta petunjuk agar diberi kekuatan untuk menghadapi itu semua tanpa melepas tanggung jawabku. Mereka yang mencoba baik dan berniat mengingatkanku untuk tidak ikut-ikutan demo, aku cuma berkata dalam hati dan memahami bahwa mereka belum pernah ikut demo, belum pernah membahas atau mendiskusikan masalahnya, dan tidak tahu kondisi lapangan yang sebenarnya. 

Tiba-tiba nada dering membunyarkan lamunanku, panggilan dari Albert salah satu kepala departemen politik BEM yang aku pimpin.

“Bos, lusa ada instruksi demo ke pusat.”

“Jakarta?”

“Iya di Jakarta, dan kamu ada jatah orasi di urutan ketiga.”

Deg!, aku terkejut. Bagaimana ini?  aku tidak mungkin menolak, peranku disitu sangat berpengaruh sekali. Disisi lain pondok tidak mungkin mengizinkanku, yang ada aku malah  semakin dijauhi oleh santri-santri, apalagi demo pusat yang pasti diliput media nasional. Tapi aku tidak mungkin pergi ke Jakarta tanpa izin dari pondok, apa jadinya jika terjadi apa-apa disana, bukankah pondok juga yang bertanggung jawab. 

Semalam penuh sambil membuat teks orasinya, aku memikirkan bagaimana caranya izin kepada pengurus, lalu setelah aku pertimbangkan matang-matang cara terakhir agar dapat izin adalah tidak izin  ke pengurus. Aku berniat langsung sowan dan minta pendapat kepada Mbah Yai, tapi resikonya ketika Mbah Yai dawuh tidak boleh, maka aku harus dengan berat hati tidak berangkat aksi ke Jakarta. Esoknya aku langsung sowan ke ndalem.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikum salam.” Sapa beliau mempersilahkanku untuk duduk. 

“Ada apa kang?” tanya beliau.

“Gini Mbah yai…” Aku menceritakan posisiku sebagai ketua BEM dan harus berangkat demo ke Jakarta yang berniat meminta izin.

“La kepentinganya apa? setahu saya demo itu ya rusuh, saya sudah tua tidak paham begitu-begitu, coba terangkan!” Tanggap Mbah Yai.

Dengan nada agak ragu aku mulai menjelaskan kepada beliau. 

“Besok saya demo mengenai undang-undang ekspor-impor, dimana kebijakan sangat meresahkan para petani. Kami sudah mengkaji betul isi dan imbasnya. Mungkin para petani melihat kita resah dengan demonya yang kadang tak terkendali, tapi kami lebih resah jika harga sayur, padi itu turun drastis merugikan mereka. Para petani sebetulnya bukan benci sama kita tapi hanya tidak tahu saja.”

“Oalah gitu toh, ya sudah sana hati-hati tapi tidak usah membuat keributan.”

Mendengar jawaban dari beliau, aku begitu lega dan segera pamit untuk persiapan berangkat. 

Aku berangkat bersama tiga puluh mahasiswa. Dalam perjalanan selalu aku himbau untuk saling menjaga satu sama lain, tidak melakukan tindakan anarkis, atau merusak tanaman, bagaimanapun mereka adalah tanggung jawabku. Sesampai di Jakarta, mahasiswa dari berbagai daerah mulai berkumpul, bendera-bendera sudah berkibar. Kita siap berjuang demi memperjuangkan rakyat kecil. Kali ini adalah demo yang sangat penting sekali. Formasi segera terbentuk, semua saling bergandengan tangan untuk bersuara. Polisi sudah siap siaga berada di depan pintu gerbang, mengawal ketat aksi kita. Beberapa ketua BEM dari universitas lain mulai bergantian berorasi dan menyanyikan lagu kebanggaan mahasiswa. Dan kini giliranku bersuara.

“Hidup mahasiswa…!” 

“Hidup rakyat Indonesia…!”

“Hidup petani Indonesia…!”

Suaraku begitu lantang mengglegar bagaikan petir yang menyambar ditengah hujan deras, menggertak para tikus-tikus berdasi, membakar semangat perjuangan, untuk mereka yang tak dapat jatah keadilan. 

Setelah orasiku, tak selang beberapa lama salah satu pejabat DPR keluar dan mengumumkan bahwa pengesahan undang-undang dibatalkan. Tangis haru pecah seketika, membayangkan perjuangan para mahasiswa daerah yang rela ke Jakarta, mereka saling berpelukan gembira dan mempersembahkan ini semua kepada rakyat jelata. 

Wajahku masuk sangat jelas di TV terliput media nasional. Sepanjang perjalanan aku memikirkan bagaimana nanti ketika sampai di pondok, apakah para santri tambah membenciku? Apakah aku mencoreng nama baik pondok? Apakah sindiran semakin keras menyerang? Bukankah tidak ada yang tahu kalau aku sudah sowan kepada Mbah Yai?.  Pikiran-pikiran itu terus menghantuiku, tapi biarlah. Yang terpenting keberangkatanku di restui beliau dan demoku membuahkan hasil.

Kling…Tiba-tiba ada notifikasi pesan dari salah satu santri. 

“Mbah Yai tadi malam mujahadah, mendoakan yang demo di Jakarta. Termasuk menyebut namamu.”

Kabar tersebut merubah suasana hatiku menjadi percaya diri. Para santri sudah mengetahui bahwa Mbah Yai juga sudah mengizinkanku. Sesampainya di pondok aku disambut bangga oleh semuanya.[]


*Muhamad Ulum Munafi’, beralamat di Kalibening, Krasak, rt.03 rw.03 Kec. Mojotengah Kab. Wonosobo, Jawa Tengah. Penulis bisa dihubungi melalui IG: nafixzoansxon, Email: ulumnafix@gmail.com, dan No WA: 08979174485.

Posting Komentar untuk " Santri Demo"