Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sepasang Mata Bakti untuk Ayah dan Bunda

0 Pembaca

Oleh: Sutarni

(Peserta Lomba Menulis Cerpen Hari Santri Nasional 2020)

Di sebuah suasana perkotaan yang ramai orang dan kendaraan, seorang pemuda atau bisa dibilang anak-anak itu tertidur di pinggiran jalan. Usianya sekitar 11 tahun. Dilihat dari pakaiannya, pemuda itu anak orang kaya. Sepatu warna putih, kemeja biru muda, celana jeans, dan syal abu-abu di lehernya. Semua tampak baru. Entah di mana dan dari mana pemuda itu berasal. Karena kawasan ini sudah termasuk kawasan perkotaan yang lumayan kumuh.

Beberapa menit kemudian, lewatlah seseorang berperawakan bapak-bapak berjenggot putih dengan sorban di pundak. Bapak itu mencoba membangunkan pemuda itu.

“Nak,… Nak,…”, sambil menggerakkan bahu pemuda itu.

“Eh,… mmh… apa sudah sam..pa..i?”, pemuda itu menengok kanan dan kiri.

Pemuda itu tampak asing dengan lingkungan sekitarnya. Kemudian dilihatnya bapak tadi dengan pandangan yang masih kebingungan.

“Anda siapa, Pak?” pemuda itu sedikit ragu untuk bertanya.

Bapak itu tersenyum sembari mengulurkan tangannya, “Panggil saya Pak Joko.”

“Siapa namamu, Nak?” tanya Pak Joko. 

Pak Joko membantu pemuda itu bangun dan menepuk-nepuk baju yang kotor, membersihkan debu yang menempel. Sambil dielusnya kepala si pemuda.

“Nama saya Andi, Pak Joko.” Andi menundukkan kepalanya.

Sambil melirik koper biru tua tidak jauh dari tempat Andi tidur tadi, Pak Joko seolah sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. 

“Apa kamu lapar, Nak? Ayo ikut ke rumah bapak di sana. Masakan Bu Joko enak-enak!” tangan kanannya menarik tangan Andi dan tangan kirinya menarik koper biru tua. 

Andi menganggukkan kepala tanda setuju. Keduanya berjalan menuju rumah sederhana tepat di ujung gang di seberang jalan. 

Tempatnya tidak terlalu bersih tapi juga tidak kotor. Tidak ada banyak orang tinggal di gang ini. Gang Jati, nama itu terlihat tepat di pintu masuk. Cukup tersembunyi dan tidak banyak orang tahu atau menyempatkan untuk tahu. Beberapa laki-laki paruh baya bertampang seram duduk di pos ronda tanpa memakai baju atasan menatap dengan tidak ramah. Andi membalas tatapan itu polos. Pak Joko yang melihatnya diam-diam tersenyum. 

Tiba di rumah yang tidak besar, cukup sederhana untuk ditinggali keluarga sederhana. Bukan rumah sewa, rumah yang ditinggali Pak Joko adalah rumah milik kakaknya yang ditinggalkan sebagai warisan yang tidak diinginkan. Malam harinya Andi tidur di salah satu kamar kosong di rumah Pak Joko. Bu Joko, atau nama aslinya Rini, tidak keberatan jika Andi tinggal bersama mereka. Kebetulan Bu Rini mengajukan usulan agar Andi dimasukkan ke salah satu podok di kota sebelah. Jaraknya yang tidak terlalu jauh, sekaligus memberikan pengalaman serta kesempatan agar Andi bisa sekolah. Karena mereka tidak mungkin bisa menyekolahkan Andi di sekolah biasa karena masalah biaya. 

“Apa tidak terlalu terburu-buru, Bu? Dia baru saja datang ke rumah ini, belum tahu keadaan sekitar, bapak takut Dia kebingungan dan sakit.” kata Pak Joko.

“Tidak masalah, Pak, Ibu lihat Dia orangnya pemberani. Kita hanya harus memberikan dorongan dan semangat agar dia mengerti keadaannya sekarang. Kita malah tidak perlu menyembunyikan kenyataan, jujur itu penting. Besok kita bicarakan baik-baik.” dengan nada lembut Bu Rini menjelaskan.

Keesokan paginya Andi langsung setuju dengan tawaran Pak Joko. Malah keduanya terkejut dengan begitu cepatnya Andi setuju untuk masuk pondok. 

“Pak,.. Bu,.. Saya mau kok masuk pondok sekalian sekolah. Tapi saya inginnya tetap tinggal di sini. Apa boleh?” tanya Andi sambal menunduk. 

Matanya sesekali melirik kedua orang yang sudah menyelamatkannya itu.

“Tentu saja, tentu!” sempat saling melirik, Pak Joko dan Bu Rini memeluk Andi “sayang”.

Tiba di pondok, Andi belajar tentang agama, pendidikan sekolah menengah, dan mengikuti kegiatan ekstra bela diri. Saat pelajaran agama pertamanya, Andi mempelajari bahwa betapa diharuskannya seorang anak berbakti kepada orang tuanya dan tidak boleh membantah. Dengan cermat dicatatnya semua yang dipelajari. Di pondok, Andi mendapatkan teman-teman baru, guru-guru baru, pengalaman dan ilmu baru. Semua hari-harinya dijalani sampai waktu tak terhitung Andi lulus dari pondok. 

Seorang laki-laki berumur 20 tahun-an berulang kali membenarkan kacamata yang terus melorot dari tempatnya. Tangannya gemetar hebat, padahal malam itu tidak terlalu dingin. Laki-laki itu melewati gang gelap, menengok ke sana ke mari tanpa tujuan, tidak tahu arah. Berulang kali tangan kirinya merogoh saku celana kain hitam. Memencet-mencet benda kotak pipih yang sama sekali tidak mau menyala. Tiba-tiba di depannya ada dua orang bertubuh tinggi besar. Lekukan ototnya terlihat dari cahaya remang. Saking takutnya, laki-laki itu menjatuhkan benda kotak pipih yang ternyata HP android miliknya. Dua orang itu berhenti tepat di depan laki-laki yang sedang gemetar.

Seperti biasa, sepulang dari pondok, jam 10 malam melewati jalanan gang yang gelap. Andi, masih dengan muka datarnya yang jarang atau bahkan tidak pernah menunjukkan ekspresi itu, melihat seseorang di jalanan gang. Saat dia sudah mendekat, tidak sengaja dia melihat HP yang baru saja jatuh dari saku seseorang di depannya. Dia tidak mengenal orang itu. Tapi dua orang yang baru saja menyadari kehadirannya itu adalah tetangga dekat rumahnya. Saat dia ingin membantu mengambilkan HP, laki-laki itu jatuh terduduk. 

“Pakde Jojon sama Pakde Alim mau ke mana malam-malam begini? Apa hari ini ada tugas jaga?” langsung Andi bertanya kepada dua orang yang dikenal itu. 

“Ke Alipa Mart, beli rokok. Duluan yo, ndak dicari istri nanti.” Pakde Jojon menjawab. 

Kedua orang itu langsung pergi.

“Kamu tidak apa-apa? Ini HP nya, lain kali jangan keluar malam-malam dan jalan sendirian di tempat sepi. Di mana rumahmu? Mau aku antar?” Tanpa basa-basi Andi menawarkan bantuan. 

Laki-laki itu mengulurkan secarik kertas bertuliskan alamat. Langsung saja diantar laki-laki itu oleh Andi, tentunya dengan berjalan kaki beberapa menit dan menuju ke stasiun kereta. Jadwal kereta sudah sampai akhir, kebetulan melewati tujuan alamat di kertas tadi. Dengan sabar Andi menemani, bahkan sampai naik kereta. Sesampainya mereka di tempat tujuan, Andi menatap sekilas rumah besar ber-cat cream. Laki-laki tadi sudah cukup tenang meski tidak mau bicara sepatah kata pun selama perjalanan. 

“Aku tinggal ya, di sini alamatnya. Kamu bisa masuk sekarang.” Andi segera bergegas pergi. 

Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Sontak kaget Andi ditarik lengannya. 

“Te..rima kasih sudah mengantarku. Namaku Nico. Ayo masuk, ini sudah malam.” ajak Nico.

Belum sempat menjawab, Andi sudah ditarik masuk ke dalam rumah. Suasana terang dan hangat dirasakan Andi. Seolah masuk ke tempat yang familiar. Tangan Andi reflek menyentuh dada kirinya. 

“Ma, Pa, aku pulang!” meski sudah malam Rico tetap berteriak memanggil orang tuanya.

Dari tangga di ujung ruangan tampak sepasang suami istri bergandengan tangan turun. Keduanya sudah tampak tua. Terlihat beberapa uban di rambut. Salah satu tangan istri mengelus perut yang sedikit mengembang. Kedua pasangan suami istri itu tampak kaget melihat Andi. 

“Rico, kamu naiklah ke kamarmu. Biar kami yang menemani temanmu, ya?” kata ayahnya dengan penuh perhatian. 

“Baik, Ayah!” Rico langsung naik tangga dan pergi ke kamarnya.

Andi berjalan pelan, kepalanya menunduk, pikirannya entah ke mana. Teringat kata-kata ayah dan ibunya tadi. Ya. Kedua orang tuanya yang telah meninggalkan seorang anak tidak bersalah di tempat asing saat berlibur. 

“Jangan pernah kembali lagi ke rumah ini! Kamu tidak pantas menjadi anak kami! Pergi!” usir ayahnya dengan lantang. Ibunya bahkan enggan berlama-lama meliriknya.

Andi tentunya diam saja tidak membalas perkataan orangtua kandungnya. Bahkan dia pergi sesuai perintah orangtuanya. Teringat apa yang diajarkan gurunya di pondok waktu pertama belajar agama. Seorang anak tidak boleh membantah orangtuanya. 

Seminggu kemudian, Pakde Alim lari tergopoh-gopoh mencari Andi di pondok. 

“An! Andi! Di mana kamu?” teriak Pakde Alim.

Langsung saja Andi berlari menemui Pakde Alim. 

“Iya Pakde. Ada apa?”

“Pak Joko sama Bu Joko! Rumah! Kebakaran!” dengan keras Pakde Alim mengabarkan ada kebakaran di rumah Andi. 

Mereka langsung berbondong-bondong pergi ke rumah Andi. Tapi hanya tinggal abu hitam dan asap mengepul keluar dari sisa-sisa puing saka rumah. Andi menunduk, memejamkan matanya cukup lama. Baru saja dilihatnya jasad Pak Joko dan Bu Joko diselamatkan, ditutupi kain putih. Kenyataan baru membuatnya tidak sadar. Andi diam begitu lama karena shock yang dialami. Kehilangan dua orangtua angkat yang sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang. 

Tanpa sadar setelah kebakaran, Andi kembali lagi ke rumah Rico. Rumah kedua orangtua kandungnya. Bukan untuk meminta belas kasih. Andi hanya memiliki mereka berdua sebagai kerabat paling dekat. Dengan niat ingin meminjam uang sementara untuk hidup, Andi kembali ke rumah besar itu. Andi sempat bingung melihat bekas air mata di pipi ibu kandungnya. Perutnya masih terlihat besar seperti terakhir kali dia melihatnya. 

Beberapa saat kemudian, ayah kandung Andi menemuinya langsung. Mengerti maksud kedatangan Andi, ayahnya itu memasang wajah mengejek.

“Aku yakin kamu tidak akan bisa mengembalikan uang itu.” katanya.

Andi merasa bingung dengan perkataan ayah kandungnya. 

“Kalau kau mendonorkan salah satu matamu, aku akan berikan uang yang kamu minta.” ayah kandung Andi langsung mengatakan syarat yang sulit untuk kebanyakan orang. 

Tapi, bagi Andi berbeda. Perintah orangtuanya langsung disanggupi. Mendonorkan salah satu matanya bukanlah apa-apa. Benar juga karena dia membutuhkan uang untuk hidup. 

Di hari berikutnya saat operasi, ternyata mata itu didonorkan untuk Rico. Karena kecelakaan, mata kiri Rico tidak bisa melihat lagi. Rico tidak tahu bahwa mata yang didonorkan kepadanya adalah milik saudaranya sendiri. Rico masih menganggap Andi sebagai penolong dan penyelamatnya. Bukan sebagai kakak kandung yang selama ini dia cari. 

Pada saat operasi, secara kebetulan partner kerja ayah kandung Andi meminta donor mata itu sebagai syarat kerjasama proyek besar mereka. Partner kerja itu membutuhkannya untuk menyembuhkan anak perempuan satu-satunya. Dengan imbalan besar serta kerjasama yang cukup menguntungkan, ayah kandung Andi sengaja mengambil kedua mata Andi. 

Penyembuhan kira-kira seminggu kemudian. Andi bertanya kepada perawat di sebelahnya yang sedang mengantarkan sarapan. 

“Mbak? Kira-kira kapan perbannya dibuka? Saya mau jalan-jalan dan melihat saudara saya.” tanya Andi.

“Loh, Mas Andi kalau mau jalan-jalan bisa saya temani. Sekarang, kan, Mas Andi tidak bisa melihat lagi. Oh, iya.. saudara Mas yang mana ya? Ada di rumah sakit?” jawab perawat itu ramah.

Andi sedikit bingung dan menanyakan keadaan Rico, adik kandungnya. 

Tongkat di tangan, selembar cek, perasaan kebingungan bercampur menjadi satu. Timbul pertanyaan dalam dirinya, “Apa yang terjadi?” berulang memenuhi kepalanya. Melangkah sekali, dua kali, berhenti sejenak, melangkah lagi. Kegelapan datang di depannya. Bukan tidak ada jalan kembali. Ingin Andi melangkahkan kaki kembali ke pondok. Tempat yang bahkan dia tidak tahu lagi di mana. 

Selain kehilangan kedua matanya, sebagian ingatan juga hilang karena kesalahan operasi. Satu-satunya alamat yang diingatnya hanyalah alamat rumah orangtua kandungnya. Tapi, tidak. Kata-kata terakhir ayahnya membuatnya enggan untuk kembali.

“Uang ini sebagai ganti kedua matamu. Jangan pernah kembali ke rumah meskipun hanya selangkah!” begitulah yang dikatakan ayahnya.

Hujan mulai turun. Seorang pemuda tiba-tiba menarik Andi ke teras masjid. 

“Sudah waktunya sholat, Bang.” kata pemuda itu.

Andi mengangguk. Mengikuti pemuda yang menuntunnya dengan sabar. Setelah selesai sholat, pemuda itu menanyakan kemana Andi akan pergi. Andi diam tidak menjawab. Saat ingin bertanya lagi, Andi megulurkan secarik kertas cek pemberian ayahnya. 

“Boleh aku minta tolong? Masukkan ini ke kotak amal masjid ini.” pinta Andi.

Pemuda itu langsung mengambil dan segera memasukkan ke dalam kotak. Sempat melirik tulisan di dalam kertas, pemuda itu cepat-cepat memasukkannya ke dalam kotak amal. 

Pemuda itu seperti tahu jika orang buta di depannya memiliki masalah yang rumit. Menawarkan bantuan sekali lagi. Mengajaknya untuk tinggal dengannya. Andi langsung saja menerima bantuan pemuda yang baru ditemuinya. 

Tanpa disadari pemuda yang menolongnya adalah anak dari kakak Pak Joko, orang yang telah menjadi orangtua angkatnya selama ini. 

Sekarang Andi dapat melihat lagi dan tinggal di luar negeri. Meski tidak menunjukkan ekspresi apapun dan sering tampak bingung, Andi hidup tenang bekerja sebagai pemilik panti asuhan di luar negeri. Pemuda yang menolongnya merupakan pengusaha sukses dan sudah memiliki istri dan anak. Apakah Andi sudah tidak ingat orangtua kandungnya? Tentu saja masih sangat mengingatnya. 

Andi tidak bisa menunjukkan ekspresi sedari kecil, membuatnya dibuang oleh orangtua kandungnya. Pertemuannya dengan Pak Joko dan Bu Rini membuka titik terang dalam hidupnya, terutama saat dia dikirim untuk belajar di pondok pesantren. Apakah Andi merasa senang? Sedih? Kecewa? Seorang guru di pondok pesantren mengajarinya untuk menuliskan apa yang dirasakan Andi, mengatakan bahwa itulah yang dinamakan ekspresi, “Orang lain tidak akan tahu yang kamu pikirkan dan kamu rasakan. Hanya Allah SWT yang tahu segala hal. Meskipun kamu tidak mengutarakannya”.

Jauh sebelum Andi pergi ke luar negeri, dia sempat mengirimkan sepucuk surat dan alamat tempat tinggalnya yang baru: 

Assalamu’alaikum, 

Adikku, bagaimana keadaanmu saat ini? Kakak harap kamu sehat selalu. Jangan keluar malam-malam sendirian. Hati-hati saat berkendara. Jangan sampai mencemaskan ayah dan Ibu kita. 

Semoga kalian hidup sehat dan bahagia bersama. Tolong katakan pada ayah bahwa aku baik-baik saja dan akan dapat melihat lagi. Katakan pada ayah dan Ibu bahwa aku baik-baik saja. Katakan pada mereka aku tidak marah atau membenci mereka karena telah membuangku waktu itu. Juga pesan terakhir ayah, katakan bahwa aku tidak akan kembali ke rumah seperti perintahnya. Kakak harap kamu segera menyampaikan pesan ini. Kakak sangat menyayangi ayah dan Ibu.

Semoga Adik sekeluarga dalam lindungan Allah SWT. Kakak menyayangimu.

Wassalamu’alaikum,

Alamat: Baker Street, 221B, LONDON

[]

*Sutarni, lahir di Kulonprogo. Hobi membaca, menulis, dan menggambar. Motto hidup "melakukan sesuatu yang disukai, menyukainya maka melakukannya". Semoga pembaca menyukai cerita yang aku tulis. Email: tsutarni3@gmail.com WA: 088228980477.

Posting Komentar untuk "Sepasang Mata Bakti untuk Ayah dan Bunda"