Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tak Seindah Kisah Rabiah Adawiyah

0 Pembaca


Oleh: Alma Aulia Hanifah

(Peserta Lomba Menulis Cerpen Hari Santri Nasional 2020)

Kisah yang berawal dari basahnya pipi dengan banyaknya sesuatu yang bergelimang namun bukan gelimang harta. Akan tetapi hanyalah gelimang air mata di sujud panjang malamnya di hadapan  Raja Penguasa Semesta.  Hal yang jarang didapatkan seorang hamba faqir dapat menjumpai Rabb-nya di waktu terindah dan ternyaman untuk ber-khalwat bersama-Nya. Memang aku teramat sangat jauh untuk menjadi hamba taat dengan hubb yang amat sangat luar biasa. Aku hanyalah hamba perempuan faqir yang menangis meronta tuk temukan ke mana arah jalan tujuan nan kan kutapaki.

“Ya Robb, hamba-Mu telah kembali menghadap, ighfirlana dzunubana ya Robb, mohon ampunilah dosa hamba yang kian menggunung saat usia saya kian menyusut, tak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa ini kecuali Engkau Dzat Sang Maha Pengampun.’’

Saat-saat seperti inilah yang membawaku dalam suasana kedamaian, saat berbagai masalah datang dan berbagai impian kian terasa buram. Sesuatu yang amat sangat membingungkan untuk melanjutkan pencarian ilmu di masa menjelang dewasa, haruskah kumenetap di pesantren atau bersama dengan keluarga pamanku di kota tempatku menempuh pendidikan? Tangis kian menjadi saat tahu kenyataan bahwa keluargaku sedang tak baik-baik saja. Rezeki yang terkais tak seberapa sedangkan kebutuhan tak terkira datangnya. 

“Mohon pilihkanlah yang terbaik menurut Engkau Ya Allahu Robbi.”

Berhari-hari kulalui dengan kebimbangan,di sisi lain ada keluarga sulit tuk menjumpai mudah, dan disisi lain ada keinginan untuk mencari ilmu di pesantren yang tentunya akan memerlukan biaya hidup tak murah. 

Berkat keyakinan, akhirnya aku pun memutuskan,...

“Buk,Pak, kulo pengin mondok (Buk,Pak aku ingin mondok).”

Sebuah kalimat yang kini telah merubah hidupku menjadi amat sangat luar biasa, hanyalah pedoman bahwa Allah akan selalu mempermudah jalan yang diridhoi-Nya. Sebesar apapun batu yang menghadang akan ada penghancurnya. Allah memberi rezeki min haitsu la yahtashib, dengan jalan yang tak disangka-sangka.

Kini tangis bimbang telah menjelma diri menjadi tangis senang, meskipun jiwa raga ini akan ditempa lebih keras di kehidupan yang baru menanggung beban menjadi pelajar di sekolah negeri dan menjadi santri di “penjara suci”.

Lingkungan pesantren memang bagaikan tempat teduh saat badai. Di luar sana berbagai konflik dan pergaulan begitu bebas merusak, namun tidak di bangunan suci ini. Maka nikmat mana lagikah yang akan didustakan lagi? Memang begitulah manusia, syukur adalah hal yang sudah lama sering terkubur, dan takabbur adalah hal yang sudah lama sering tertutur.

Sungguh detik demi detik yang kulalui amat sangat berharga ketika aku menjadi bagian dari kaum bersarung.

“Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Engkau Ya Allah, terima kasih.”’

Kembali berdoa adalah satu cara untuk mengungkapkan dan menunduk membuktikan kehambaan. Tak ada kata lain lagi yang bisa kuucap selain bersyukur pada-Nya.

Kala itu, setelah menemukan pesantren yang kudambakan, aku masih di rumah beberapa hari untuk mempersiapkan segalanya. Berbagai keperluan itu membuatku merasa berhutang budi terlalu banyak terhadap orangtuaku. Entah telah berapa saja gelembung laut yang mengumpamakan jasa mereka padaku. Namun kembali kubulatkan tekad untuk menjadi santri yang akan membawa kebanggaan melangit ke angkasa agar seluruh semesta tahu.

Hari yang kutunggu pun telah tiba. Tepat pukul 3 sore di hari Kamis,12 Juli 2018, perjuanganku dimulai. Awal selalu bertabur haru dan mata menyimpan sejuta tatap dengan rasa terspektrum dalam tiap tetesan nan basahi pipi. Kurasa begitulah pengalaman tiap santri di seluruh pelosok negeri.

Dua puluh empat jam pertama adalah masa terberat. Meski begitu, malam jumat akan selalu menjadi primadona seluruh hari. Begitulah kegiatan di malam yang dipenuhi mujahadah, muhasabah diri, dan sholawat untuk Nabi. Hah, malam yang indah!

Tiga hari pun telah berlalu, hari ahad saat jadwal qiroah bersama di pesantren telah menginngatkanku akan suatu kenangan bersama mendiang kakekku. Dua tahun yang  lalu tepat saat Ramadan beliau bertanya padaku.

“Ndhuk, koe tak undangke guru qiroah yo? Ben iso ajar (Nak, kamu kuundangkan guru qiroah ya? Supaya bisa belajar).”

“Ngapunten Mbah Kung, tahun ngajeng kemawon nggih? Kulo nembe kepengen ngatamaken quran wonten sasi punika (Maaf, Mbah Kung, depan saja ya? Aku ingin mengkhatamkan Quran di bulan ini).”

“Ealah Ndhuk, Ndhuk. Kok ra gelem (Ealah nak, nak. Kok nggak mau).”

“Hehe, ngapunten Mbah (Hehe, maaf mbah).”

“Yo wes rapopo, Ndhuk (Ya sudah, tidak apa-apa, nak).”

Aku menolak tawaran itu, meski kutahu ada tatap yang sangat mengharapkanku belajar ilmu itu. Kemudian, setelah percakapan itu berakhir, hampir satu tahun berlalu, niatan untuk belajar qiroah itu pupus karena beliau meninggalkan kami sekeluarga akibat sakit asma yang telah diderita oleh beliau bertahun-tahun. Saat itu adalah saat yang sangat memukulku, mengapa begitu cepat kakek kesayanganku begitu saja meninggalkan? Namun hanyalah qonaah yang kini dapat dilakukan, menerima segalanya dan berusaha mewujudkan impian beliau untuk menjadikanku menjadi seorang qori’. Aamiin.

Begitulah kini keseharianku di pesantren, banyak belajar dari yang telah terjadi, kini kusadar hikmahnya. Tidak baik menunda suatu kebaikan, karena bisa saja nantinya penyesalan yang akan datang bila kesempatan itu tak kembali lagi menghampiri diri.

Berbulan-bulan pun  telah berlalu menjadi tahun, jiwa santri ini telah kian melekat dalam hatiku, keseharian yang amat sangat padat diawali dari pagi buta hingga tengah malam dapat terlelap, hafalan, lalaran, musyawarah dan berbagai kegiatan lainnya telah menjadikanku sosok yang kian kuat. Namun disuatu ketika pernah pula kulengah dan mendapat takziran sebab tertidur saat mengaji harusnya kulakukan. Di selaku menghafal,pengurus pondok memanggilku.

“Rahima, sesuk takziran yo, banjur ojo baleni maneh, mangsane ngaji yo ngaji (Rahima, besok takziran ya, lalu jangan diulang lagi, waktunya ngaji ya ngaji).”

“Nggih, Mbak (Ya mbak),” jawabku. 

Memang begitulah adat di pesantren, takziran akan membawa santrinya untuk kembali bersemangat menjalani jadwal-jadwal padat ini. Takziran yang kualami ini semoga untuk pertama dan terakhir kalinya. 

Setelah kejadian itu, semangat mengajiku semakin membara, tak tanggung-tanggung ku belajar. Orang tua telah berusaha membiayaiku lalu dengan bermalas-malasankah kumembalasnya? Tentu tidak. Dengan pertolongan Allah, di imtihan tahun pertama ini aku mendapat nilai terbaik. Hal yang sangat membanggakan bukan? Alhamdulillah ‘alla kulli ni’matillah.

Tahun kedua akan menjadi lebih berat, jiwa akan semakin ditempa. Bahkan kebiasaan untuk bermunajat di waktu malam terkadang terlewat. Ketika menghadap-Nya pun diri ini selalu berterima kasih pula pada mendiang kakek yang mengajarkanku tentang rasa syukur dengan tersungkur bersujud di malam-malam saat semua telah terlelap dalam mimpinya.

“Rahima, salat wengio supaya resik atimu, banjur bisa syukur maring Allah. Sholat kui yo luwih apik yen ora mung rong rakaat, yen iso yo tambahi, apik kui wolung rakaat, Gusri wae ora guthil anggone paring nikmat, mosok awakmu guthil mung didhawuhi nyembah karo Pengeranmu (Rahma, salat malamlah agar bersih hatimu, lalu bisa bersyukur kepada Allah. Salat itu ya lebih baik tak hanya dua rakaat, kalau bisa ya ditambah, lebih baik 8 rakaat, Gusti saja tak pernah pelit dalam memberi nikmat, masa dirimu pelit hanya disuruh menyembah kepada Tuhanmu)?”

“Nggih Mbah Kung (Ya Mbah Kung),” jawabku.

Kenangan Mbah Kakung selalu berhasil membuatku mencoba bangkit dari masalah, tentunya terutama karena ridho-Nya. Allah selalu menolong setiap hamba-Nya untuk kembali.

Di tahun inipun, aku menjadi seorang pengabdi di pesantren menjadi seorang pengurus pesantren tepatnya sebagai wakil lurah pondok. Berjuta masalah santri yang harus kutangani, mengingat lurah di pondokku adalah santri ndalem yang dipenuhi kesibukannya mengurus keperluan masyayikh kami. Tantangan terberat tahun ini adalah hawa nafsu layaknya remaja lain seumurku, ada cinta buta yang juga menghampiri diri seorang pengurus terhadap santri putra di bangunan di balik dinding ndalem. Kala itu 25 Januari 2019 tepat di hari ulang tahunku, dia tiba-tiba saja mengirimiku pesan via facebook.

“Assalamualaikum, Mbak, sak derengipun kula nyuwun pangapunten wantun nge-chat njenengan, namung badhe ngaturaken sugeng tanggap warsa ingkang kaping 18, mugi tansah pinaringan umur ingkang barokah manfaat (Assalamualaikum, Mbak, sebelumnya saya minta maaf berani nge-chat kamu, hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun yang ke-17, semoga selalu diberi umur yang berkah manfaat).”

Satu pesan itu membuatku merasa bercampur aduk rasanya, di satu sisi senang, namun di sisi lain  terasa takut bila ada hukuman kembali menanti. Akhirnya ku diamkan saja pesan itu. Karena teringat nasehat Imam Bushiri dalam burdahnya.

وَالنَّفْسُ كَالطِّفْلِ إِنْ تُهْمِلْهُ شَبَّ عَلٰى

حُبِّ الرَّضَاعِ وَإِنْ تَفْطِمْهُ يَنْفَطِمِ

Nafsu bagai bayi, bila kau biarkan ia akan tetap menyusu

Namun apabila engkau sapih, maka ia akan tinggalkan kebiasaan menyusu itu.

فَاصْرَفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهٗ

إِنَّ الْهَوٰى مَا تَوَلّٰى يُصْمِ أَوْ يَصِمِ

Maka jauhkan nafsumu dari kenikmatan syahwati. Jangan biarkan ia berkuasa.

Karena jika ia berkuasa ia akan membunuhmu atau paling tidak ia akan mencercamu.

Namun, sebulan kemudian, santri putra itu menemuiku di pondok putri, rasanya benar-benar menegangkan, karena santri putri dan santri putra sangatlah terjaga dari hubungan haram, aku takut ketika mendengar ada seorang santri kamar sebelah memanggilku.

“Mbak Rahima, padosi Kang Shochibi (Mbak Rahima, dicari Kang Shochibi).” teriaknya memanggilku.

Seketika detak jantung terhenti sejenak, merasa mati rasa dan tak percaya, gaduh riuh pikiran membuatku tak karuan, penuh tanda tanya mengapa ia menghampiriku? Jejak demi jejak semakin mendebarkan. Untung saja pertemuan antara santri putra dan putri terjaga ketat sehingga hanya suara yang kudengar. Tanpa tatap akibat terhalang dinding dan gerbang pondok putri membuatku sedikit tenang, karena takkan ada mata yang saling menatap di percakapan ini.

“Mbak Rahima, punika kitab ta’lim damel santri putri, kulo dipundhawuhi kyai ngaturaken (Mbak Rahima, ini kitab ta’lim untuk santri putri,kulo diperintah kyai memberikannya).”

“Nggih kang, matursuwun (Ya kang, terima kasih).”

Beberapa detik kemudian terlihat uluran tangannya memberikan kitab salaf itu. Lalu dia kembali berucap.

“Kalih setunggal malih, Mbak (Dan satu lagi mbak).”

“Pripun, Kang (Gimana kang)?”

Huftt.... Dia kembali berhasil membuat jiw ini kembali bertanya dan nafas terhenti.

“Mmm.. mboten sios Mbak, sampun ngoten mawon (Mmm.. tidak jadi mbak, sudah begitu saja).”

Akhirnya itulah pertemuan kami pertama dan terakhir kalinya, kusyukuri karena dia tak melakukan hal yang membuat hati kita ternodai nafsu. Hingga bertahun-tahun kisah itu hanya terpendam dalam rasa rindu di pesantren nan terpisah dinding ndalem.

Ya, begitulah kiranya masalah paling mendebarkan di tahun kedua ini. Namun alhamdulillah berIbu syukur kembali kuhaturkan kepada Allah yang telah memberiku nilai terbaik kembali di imtihan pondok di tahun ini. Terasa begitu cepat aku menyatu dengan pesantren hingga tak terasa tahun terakhir akan kulalui.

Tantangan menjadi seorang pengurus kembali menghampiriku, di sisi lain akan ada imtihan untuk hafalan quranku yang harus kuselesaikan di tahun ini. Detik demi detik, telah begitu cepat membawaku pada perjuangan terberat di tahun ini. Sakit hingga berhari-hari, banyaknya protes dari santri untuk kami para pengurus,belum lagi hafalan yang harus ku-mutqin-kan.  Berbagai proses telah membawaku kepada keindahan puncak impian sebagai seorang santri hafidzah dan qori’ wanita yang muncul dari keluarga sederhana namun dengan perjuangan luar biasa tangan-tangan orang tua tercinta menjadikan buah hatinya menjadi insan berarti. Dengan harapan mahkotan dan jubah kehormatan yang dijanjikan di surga-Nya dapat menghiasi kehidupan kami di jannah-Nya kelak. Inilah kisah sederhana, yang tak seindah kisah Rabiah Adawiyah nan habiskan tiap nafasnya dengan hubb luar biasa terhadap Rabb-Nya. Inilah Rahima Ulya Fitriyana seorang kaum bersarung sederhana dengan lika-liku perjuangan di balik penjara suci.[]

*Alma Aulia Hanifah adalah seorang santri putri di PP Al-Hidayah Muallimin Temanggung, dia kini juga sedang menempuh pendidikan di bangku kelas XII SMAN 1 Temanggung dengan mengambil jurusan IPA.

Remaja kelahiran Temanggung, 25 Januari 2003 ini adalah anak kedua dari pasangan Akhmad Mukarom dan Nur Muzamillah. Dia dilahirkan dari keluarga sederhana,lahir dari Ibu yang merupakan seoorang guru SD dan ayah yang bekerja sebagai wirausaha kecil.

Seorang Alma bercita-cita menjadi seorang guru pula yang terinspirasi dari profesi Ibunya. Bakat menulis ini tak lain juga keturunan dari sang Ibu yang juga gemar menulis puisi dan cerpen.

Selain bakat ini, dia juga siswa yang telah mengikuti berbagai lomba di jenjang SMA, yaitu Olimpiade Astronomi Tingkat Kabupaten dan Provinsi di tahun 2019, dan kembali mengikutinya di tahun 2020.  Di tahun 2019 dia juga pernah mengikuti Deutsch Olympiade di Cilacap pada tingkat provinsi Jawa Tengah.

Berbagai prestasinya itu juga berkat bimbingan dan didikan orang tua serta masyayikh di pesantrennya,yang kini dapat menjadikan Alma sebagai santri yang membanggakan negeri.

1 komentar untuk "Tak Seindah Kisah Rabiah Adawiyah"

  1. Subhanallah, ternyata pinter nulis nduk Alma. Semoga perjuangan yang membawa manfaat dunia akhirat aamiin

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan Bijak dan Kritis!